Tidak jauh dengan motivasi penjelajahan di abad XV-XVI. Ekspansi atau intervensi global di abad XX-XXI ini, tentunya digerakkan oleh satu narasia besar. Narasi besar itu dikonstruksi oleh pemilik kuasa atau pelaku utama dari sikap politik tersebut. Dulu, Spanyol dan Portugis menjadi aktor utama penjelajahan, dan mereka menebar prinsip Gold (kekayaan), Gospel ((penyebaran agama) dan Gloria (kejayaan).
Lantas, motif atau dorongan apa, yang bisa menggerakkan seseorang, melakukan tindakan ekspnasi, penjelajahan, penjajahan atau intervensi global terhadap negara lain, yang berdaulat ? pertanyaan ini, penting untuk disampaikan, dengan maksud dan harapan untuk bisa memahami fenomena global di zaman kita hari ini.
Objek kajian pertama, yakni kita cermati kasus Amerika Serikat, di era modern ini. Kelakuan AS ini, baik saat dia tunjukkan kepada Irak di Timur Tengah, maupun Venezuela di Amerika Latin, memiliki dorongan yang sama. Narasi yang dikedepannya, atau yang dijualnya, untuk menjadi pembenaran tindakannya itu, narasinya serupa. Narasi itu, dapat kita sebut liberalisasi atau pembebasan.
Kok bisa ya ?
Dua puluh tahun lebih, kita pernah menyaksikan perang AS dengan Irak, atau lebih tepatnya adalah AS menyerang Irak. Sampai hari ini, analisis demi analisis, terus bermunculan, mengenai alasan AS menyerang dan meruntuhkan rezim Saddam Husein, Presiden sah. Narasi yang dibangun, dan terpublikasikan, Amerika Serikat dibawah komando George Walker Bush, memiliki alasan kuat menyerang Irak, karena diduga Irak menyimpan senjata pemusnah massal.
Peristiwa 9 September, atau dikenali peristiwa 9/11, dijadikan alasan utama, dan sidak intelijennya bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal. Karena itu, AS memandang bahwa Irak harus dihancurkan, demi keamanan dan kenyamanan AS dan juga dunia.
Keyakinan dan alasan inilah, yang dapat kita sebut, sebagai liberalisasi sebagai alasan-utama, AS sebagai negara besar dan kuat di dunia, merasa berhak untuk melakukan intervensi atau ekspansi kekuasaan kepada negara lain, yang berdaulat di dunia ini.
Kasus yang kedua, terjadi pada negara Venezuela. Narasi yang ditebarkan ke dalam negeri dan juga Dunia, AS memandang bahwa dunia umumnya, dan AS khususnya, harus aman dari sistem perdagangan narkoba. Untuk menjaga keamanan dan kenyamanan negara, maka negara pendukung perdagangan global dunia harus dihancurkan.
Narasi ini, senada dengan hasrat sebagian warga negara di dalam negeri Venezuela. Sebagian kelompok itu, menginginkan ada kebebasan dan pembebasan dari rezim Nicholas Maduro yang berkuasa saat ini. Gerakan sosial dalam negerinya, sampai saat itu, tidak mampu mengoreksi rezim Maduro.
Pertemuan antara hasrat-politik sebagian warga negara, dan narasi yang dibuat AS, mendorong kuat Donald Trump untuk melakukan intervensi kepada sebuah negara berdaulat di kawasan Amerika Latin itu. Serangan dengan modus pengambilan secara paksa, pimpinan tertinggi Venezuela, dan dibawa serta disidangkan di AS.
Mengapa hal itu bisa terjadi ?
Itulah yang kita sebut, narasi liberalisasi, yang digunakan AS, seakan memberikan jalan pembenaran untuk melakukan intervensi terhadap negara berdaulat di luar AS. Narasi itu, digunakan sebagai dalil atau dalih pembenaran bagi negaranya (AS) untuk melakukan penyerangan, dan penggulingan penguasa sah.
Sejatinya, setiap orang memiliki hak untuk menghormati sistem dan budaya politik sebuah negara berdaulat. Apakah pemimpin dalam negeri itu, hendak menggunakan sistem komunis, sosialis, religius, atau demokratis. Semuanya diserahkan pada negara berdaulat itu sendiri. Perjuangan internal dari sebuah negara, hendaknya, menjadi autonomi dari negara yang bersangkutan.
Andai pun, bila ada orang dalam negara yang tengah melakukan perjuangan pembebasan dirinay dari penguasanya, maka hal itu, hendaknya dilakukan oleh organisasi internasional, semacam PBB, bukan oleh negara tertentu, dengan pendekatan militer seperti yang terjadi saat ini.
Namun demikian, inilah kenyataan hidup hari ini. Atasnama gerakan liberalisasi global, AS menunjukkan diri sebagai polisi dunia, yang melakukan peran pembenahan dari luar, kepada sebuah negara berdaulat.
Tentunya, pertanyaan kritis dari kita hari ini, apakah sikap dan tindakan ini, adalah sesuau yang benar, sah atau legal ? apakah dunia, akan membenarkan, adanya sebuah negara berdaulat diserang oleh negara lain, dengan narasi yang dibuat sendiri oleh pelaku penyerangan ?
Sampai hari ini, tuduhan bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal, masih jadi bahan perdebatan. Pro kontra terkait tuduhan itu, masih hidup saat ini, bahkan termasuk kajian mengenai dorongan utama, tindakan AS dalam melakukan penyerangan terhadap Irak.
Pun demikian adanya, apakah narasi yang dibuat, atau tuduhan AS terkait dengan perdagangan global narkoba yang dikomandani oleh Maduro, adalah sesuatu yang nyata ? atau sekedar narasi fiktif yang dibuat negara AS untuk melegalkan penyerangan terhadap negara di maksud ?
Bagaimana menurut pembaca ?
.jpg)
0 comments:
Posting Komentar