Apa yang terpikir kita, saat menyaksikan drama-politik yang diperankan Amerika Serikat dan Venezuela ? Skripnya mungkin sangat panjang, tapi kulminasi kisahnya sangat singkat. Hanya beberapa jam saja, Presiden Venezuela, Nicolas Maduro dan istrinya, bisa diamankan pasukan Amerika Serikat, dan kemudian dibawa ke AS untuk diadili.
Mengapa hal itu terjadi, ada apa pelajaran penting bagi kita semua ?
Pertama, ketidakpastian politik global dunia. Ah, kita ingin mengatakan demikian. Setidaknya, istilah ini, digunakan untuk menjelaskan kebingungan publik atau rakyat jelata, terkait keabsahan negara asing, mengintervensi situasi politik sebuah negara berdaulat.
Bisa jadi, dan boleh saja, kita tidak setuju, sikap dan kebijakan yang dilakukan Nicolas Maduro dan kabinetnya dalam memperlakukan rakyatnya. Boleh saja demikian. Namun, dibalik itu, ada pertanyaan, apakah kita sebagai orang luar, memiliki hak dan kewenangan untuk melakukan koreksi praktis terhadap kebijakan sebuah negara berdaulat ?
Bila yang dimaksudkan itu adalah kritik, koreksi atau penyampaian opini terhadap kebijakan negara-negara asing, maka hal itu adalah bagian dari kebebasan berpendapat. Tetapi, mengintervansi secara politik praktis, seperti menggulingkan kekuasaan, atau mengekspansi kedaulatan, bisa jadi, hal itu perlu dibincangkan ulang secara formal legal secara global !!
Kedua, situasi internal yang mungkin, menjadi pemicunya.
Bila kita memperhatikan data pertumbuhan ekonomi, sebagaimana yang dipublikasikan databooks, setidaknya kita dapat melihat bahwa Venezuela, kendati dikenal sebagai negara pemilik deposite minyak bumi terbesar, namun pertumbuhan ekonominya sangat tidak menentu. Dalam kurun 10 tahun terakhir, fluktuasi pertumbuhan ekonomi sangat tidak meyakinkan. Bahkan, di lima tahun terakhirnya, angka pertumbuhan ekomomi tidak lebih dari 5%. Tentunya, bila dikaitkan dengan kekayaan sumberdaya alam yang melimpah, kondisi ini, sangat memprihatikankan.
Bila demikian adanya, bisa jadi, chaos politik di dalam negeri, bisa menjadi kontribusi yang signifikans terhadap peristiwa dan kejadian saat ini. Ada beberapa hipotesis yang bisa muncul dalam kasus ini. Diantaranya, (1) ada elit politik yang menjadi pengkhianat di dalam negeri yang meminta bantuan ke pihak asing, (2) ada kelompok organisasi yang menyuarakan peran global terhadap situasi politik, dan (3) ada kelompok internal yang berkepentingan dengan suksesi politik di dalam negerinya.
Ketiga, ketidakpastian politik dan ekonomi dalam negeri, kemudian dibalut dengan isu-global yang diciptakan AS, yakni penjualan narkoba sebagai kejahatan global, menjadi instrumen pelaksanaan peran polisi dunia. Dengan pernuh percaya diri, Donald Trump sebagai pemimpin AS, memainkan peran untuk melancarkan perang dengan mafia Narkoba, dengan cara penyerangan ke negara berdaulat.
Pertanyaan muncul, walau kadang menjadi sebuah pertanyaan naif, bagi pengamat internasional, apakah ada kewenangan sebuah negara, melakukan intervensi politik praktis terhadap negara berdaulat ? Pertanyaan ini, naif, karena sejatinya, dalam sejarah politik Global, AS melakukan tindakan serupa saat ini, bukan untuk pertama kalinya.
Di platform media sosial, ditemukan informasi bahwa Amerika Serikat memiliki sejarah panjang intervensi militer di berbagai negara berdaulat di seluruh dunia, dengan perkiraan lebih dari 400 intervensi antara tahun 1776 dan 2019, dengan alasan yang berbeda-beda. Diantara kasus itu, adalah :
Invasi Panama (1989-1990): AS melancarkan invasi untuk menggulingkan diktator Manuel Noriega, yang dituduh terlibat dalam perdagangan narkoba dan menindas demokrasi.
Perang Teluk Persia (1990-1991): Setelah invasi Irak ke Kuwait, AS memimpin koalisi internasional untuk mengusir pasukan Irak dari Kuwait, sebuah negara berdaulat
Intervensi di Libya (2011): AS berpartisipasi dalam intervensi militer NATO melalui mandat PBB untuk melindungi warga sipil selama perang saudara, yang menyebabkan penggulingan Muammar Gaddafi
Terakhir, untuk mendapatkan dan memberikan respon yang memuaskan terhadap persoalan keempat tadi, memang butuh keseriusan dan butuh waktu. Kita tidak memiliki kuasa untuk memaksakannya untuk segera mendapatkan jawaban yang memuaskan. Namun ada hal lainnya, yang perlu disampaikan di sini.
Tentunya. Bagi mereka yang sedang menguji ketangguhan diri, ada beberapa pihak yang tersenyum. Bila AS tidak mendapatkan reaksi yang berarti dari PBB atau Dunia, maka AS akan merasa menang, dan merasa tangguh dan kuat dalam melaksanakan niatnya. Bila hal ini, terjadi dan terbentuk, maka sejumlah negara yang berafiliasi dengan AS, akan merasa berbangga hati, karena memiliki benteng-kekuatan politik-militer tangguh, yang menyebabkan orang lain, tidak berdaya.


0 comments:
Posting Komentar