Hari ini, adalah momen terbaik untuk menjelaskan mengenai hadirnya masyarakat penggerutu (groucher society). Sejumlah kondisi, sosial, ekonomi, politik, pendidikan, dan lain sebagainya, menjadi objek sasaran atau sumber keluhan, yang mengantarkan orang masuk pada kelompok masyarakat penggerutu (groucher society).
Tentunya, kita bertanya, apa dan mengapa hal ini terjadi pada masyarakat kita saat ini ?
Mari kita saksikan bersama. Bagaimana hebat dan leluasanya, Amerika Serikat dibawah kepemimpinan Donald Trump mengekspansi Venezuela. Presiden Nicolas Maduro, Presiden Venezuali dan istrinya dijemput paksa (bahasa halusnya), atau diculik (bahasa kasar) dari Istananya, dan kemudian dibawa ke AS untuk diadili atas tuduhan perdagangan global Narkoba.
Atau, bagaimana reaksi dunia, terhadap kuasa Israel saat menginvasi Palestina. Sudah bertahun-tahun, dan berlarut-larut. Namun, Israel tetap berada di atas angin, dan suara dunia, keras namun tak membekas. Kita semua, sekedar menggerutu.
Atau, perhatikan bagaimana China menginvasi sebuah negara dengan kekuatan ekonominya. Banyak pihak melakukan kritiknya, keras dan mendalam. namun, itu pun, sekedar suara, dan tidak ada daya untuk mengubah kenyataan.
Perhatikan pula, bagaimana reaksi dunia sekedar menggerutu juga, saat Rusia mengekspansi Ukraina. Kritik dan koreksi, banyak dilakukan, dan pernyataan dari pernyataan, dari sejumlah tokoh dunia, terlontar ke dunia, namun semua itu tidak mengubah kenyataan di Rusia dan Ukraina itu sendiri.
Bagaimana reaksi dunia ? Bagaimana reaksi PBB ? Bagaimana reaksi pejuang demokrasi, atau organisasi pejuang demokratisasi dunia ?
Kita tidak bisa menemukan jawaban pasti untuk hal itu. Tetapi, ada satu hal yang relatif tampak di media massa atau di media sosial, yaitu sebagian bereaksi dengan kutukan, dan pernyataan sikap tidak empatiknya terhadap sikap dan tindakan AS terhadap negara berdaulat Venezuela.
Kenampakkan yang mudah ditebak, adalah pernyataan sikap politik terhadap sikap politik AS. Namun, semua hal itu, masih merupakan sebuah reaksi-retoris yang muncul di media, dan sekedar hadir dalam teks. Pernyataan itu, hanya mengalir dari media ke media, atau dari teks ke teks, dan tidak menyentuh ranah-pusat kekuasaannya.
Pengalaman kita, di masa pemilu, kelompok yang pro terhadap kondisi yang ada, disebutnya pendengung (buzzer), dan kelompok penentangnya, dapat disebut sebagai kelompok pengerutu (groucher). Kelompoknya, dapat disebut kelompok penggerutu (groucher society).
Mengapa hadir kelompok seperti ini ?
Pertama, groucher society adalah komunitas global, bisa juga mayoritas, tetapi tidak memiliki sumberdaya politik dan kekuatan. Kemampuan dari kelompok groucher atau lisannya, yang tidak bersuara lantang. Kemammpuannya sekedar bisa menggerutu, dan bahkan kadang gerutuannya pun, hadir sekedar di ruang hampa.
Kedua, kelompok penggerutu jumlahnya banyak, tetapi hadir sekedar dalam kerumunan (crowd), tidak ada ikatan ideologis yang mampu menggerakkannya. Maka dari itu, gerutuannya bisa jadi sama, tetapi saat diajak untuk melakukan aksi dan tindakan nyata, kelompok ini akan berbeda haluan.
Di situlah kelemahan dari kelompok penggerutu. Kelompok ini, hanya mendengung dengan gerutuan, namun tidak memiliki daya dorong atau magnet yang kuat untuk melahirkan sebuah tindakan praktis yang mengubah. Mereka merasa tidak puas dengan keadaan, namun tidak memiliki kuasa untuk meolak, atau melakukan aksi yang bisa mengubah kenyataan.
Ketiga, kelompok penggerutu hadir dari kelompok yang fatalis atau reaktif. Di sebut fatalis, karena merasa tidak ada yang bisa dilakukan, dan hari ini, sudah menjadi takdir. Kelompok ini menerima kenyataan itu, sebagai takdir sejarha hidupnya.
Kemudian, kenapa kelompok reaktif masuk pada kelompok groucher, yakni sekedar menunjukkan reaksi-reaksi emosional sesaat. Setelah itu, biasanya mereka lupa, dan menerima kenyataan hidup yang ada.
Lantas, bagaimana kelompok teologis-fatalis ? Mereka itu pun, masuk dalam kategori seperti ini.
Bagaimana menurut pembaca ?

0 comments:
Posting Komentar