Presiden Prabowo terharu, melihat hasil survey indeks kebahagiaan Indonesia. Meraih posisi tertinggi di dunia. Walau demikian, beliau pun menyadari, bahwa dibalik itu, masih banyak hal yang masih perlu dikerjakan, khususnya dalam konteks kesejahteraan. Pernyataan ini disampaikannya saat berpidato dalam acara Perayaan Natal Nasional 2025 di Jakarta, Senin (5/1/2025).
Riset bertajuk Global Flourishing Study tersebut mengkaji lebih dari 203.000 responden di 22 negara. Kesejahteraan ini bukan hanya soal materi, tapi juga kebahagiaan, kesehatan, makna hidup, karakter, hubungan sosial, dan keamanan finansial, yang didukung ikatan keluarga, budaya gotong royong, dan praktik keagamaan aktif.
Hasilnya menunjukkan bahwa Indonesia menduduki peringkat teratas, atau dinobatkan sebagai negara paling sejahtera di dunia dalam Global Flourishing Study 2025, mengungguli Jepang, Amerika Serikat, dan negara-negara maju lainnya. Raihan skor perkembangan sebesar 8,3, kemudian diikuti oleh Israel (7,87), Filipina (7,71), Meksiko (7,64), dan Polandia (7,55).
Sebagai warga negara pun, tentunya, kita senang dan bahagia, diakui oleh orang lain bahwa kita bahagia. Artinya, rasa bahagia dan keterharuan Presiden itu, adalah bukti faktual, bahwa negara kita memang bahagia. Bila dipuji kita harus bahagia, dan bila dikoreksi dan bila orang lain, tidak percaya pada data itu pun, ya kita tetap, tidak menjadi sedih, dan tidak perlu marah. Cukup di senyumin aja. Itu tandanya kita pun bahagia.
Hanya saja, tentunya, bagi kita, eh, maksudnya mereka yang memiliki tradisi kritis dan akademis, biasa saja, akan mengeluarkan pertanyaan, apa dan mengapa, serta bagaimana hal itu bisa terjadi ? Pertanyaan dan reaksi kritis itu, bukan tidak mau disebut orang lain bahagia, dan bukan tidak percaya pada kredibilitas si penyelenggara survey, namun merupakan bagian dari konfirmasi dan verifikasi data, sehingga kesimpulan itu dapat dipercaya, dan dapat digunakan sebagai dasar dalam proses pengambilan keputusan.
Pertama, tentunya, kita bertanya, atau malah sekaligus mendapat kesimpulan sementara bahwa kemajuan ekonomi, atau ketercukupan finansial, tidak memberikan dampak nyata terhadap kebahagiaan. Setidaknya, bila dikorelasikan antara negara maju-secara ekonomi dengan raihan indeks kebahagiaan.
Kesimpulan ini, sangat relevan dengan bangsa Indonesia atau masyarakat berbasis spiritual. Bagi kelompok ini, kebahagiaan itu bukan bersumber pada ekonomi atau keuangan (capital) melainkan pada kemampuan mengelola sumberdaya spiritual dan sosial subjek masing-masing.
Kedua, ah, tapi kesimpulan serupa itu menjadi kurang menarik, bila kemudian, ternyata yang membututi kebahagiaan Indonesia adalah Negara Israel. Kelihatannya kesimpulan itu, perlu dikoreksi lagi. Tersebab, bukankah negara itu, berada dalam intrik dan konflik yang berkepanjangan ? bukankah negara ini, berada dalam suasana peperangan yang tak kunjung usai ? bagaimana bisa, masyarakatnya memiliki indeks kebahagiaan yang top di dunia ini ?
Mencermati data itu, maka kesimpulan lanjutannya, harus diubah. Perlu ada perspektif lain, yang bisa memberikan penjelasan dan kejelasan, terkait kebahagiaan yang dimiliki masyarakat Israel. Atau memang, negara ini memiliki pengelolaan layanan publik yang luar biasa hebat, dibanding negara lain. Artinya, kendati ada dalam suasana konflik, tetapi layanan publik, seperti pendidikan, kesehatan, layanan soial, tidak boleh diabaikan. Sehingga, perang adalah urusan negara, dan anggota yang wajib militer, sedangkan kepuasan publik adalah tugas pemerintahnya. Tidak boleh diabaikan.
Mungkin, begitu ! bila demikian adanya, itu tentu luar biasa !!
Ketiga, khusus untuk konteks Indonesia, ada dugaan paradoks - realisme. Maksudnya, satu sisi indeks menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia ada dalam puncak kebahagiana yang luar biasa. Setidaknya demikianlah, bila dikaitkan dengan raihan peringkat indeks kebahagiaan tersebut. Tetapi pada sisi lain, kemiskinan, pengangguran, dan kekecewaan publik terhadap elit yang korup, masih saja terus bermunculan di media.
Bagaimana menjawab situasi itu ? apakah, hal ini pun, dapat diartikan bahwa kekecewaan kolektif secara politik, itu tidak ada kaitannya dengan kemampuan personal bangsa Indonesia untuk bisa tetap bahagia ?
Bila demikian adanya, preseden yang bisa dikedepankan adalah (1) orang Indonesia memiliki kemampuan manajemen-rasa yang sangat luar biasa, untuk membedakan antara kekecewaan publik dengan manajemen kebahagiana personal, dan (2) ada indikasi pelupa. Warga Indonesia sangat mudah melupakan derita, dan kekecewaan, melalui liburan dan hiburan sesaat.
Terakhir, ada data yang unik dan luar biasa. Bila kita meminjam data dari Weilbeing Research Center, di tahun 2025, Indkes Kebahagiaan Indonesia masih berada pada peringkat 83. Sementara, pamuncaknya diduduki negara yang sudah mudah diduga, seperti Finlandia, Denmark dan Irlandia.Sedangkan, menurut Global Flourishing Study, di tahun ini, Indonesia meraih capaian sebagai negara paling Bahagia. Kemudian, jika dilihat dari data, sebagaimana yang dipublikasikan di media sosial, Indonesia rankingnya masih di posisi 87 di tahun 2022.
Dengan kata lain, capaiannya sangat luar biasa. Dalam kurun waktu 3 tahunan, Indonesia melakukan perubahan mental yang sangat luar biasa, sehingga meraih predikat negara paling bahagia.
Tentunya, secara kritis dan akademis, orang bisa bertanya "mengapa bisa begitu?" dan indikator apa yang menyebabkan ada perbedaan kesimpulan dimaksud ? lebih lanjutnya, hasil survey yang mana, yang bisa dipercaya ?
Bagaimana menurut pembaca ?



0 comments:
Posting Komentar