”Nah, saya ingin bercerita, mengenai kegagalan kita dalam berdoa..” tawarnya.
”Doa apa?” tanyaku.
”doa apa
saja. Bukankah kebanyakan manusia itu, selalu berdoa, dan berharap doa itu
dikabulkan Allah Swt ? bukankah, kita berharap, setiap doa yang kita panjatkan
bisa berhasil?”
Saya membenarkan pernyataan itu. Kita semua paham, karakter manusia itu, akan demikian adanya. Setiap orang, akan berusaha untuk menunjukkan sikap yang serupa dengan pernyataan itu. Manusia, kerap kali, berdoa, dengan harapan, doanya dikabulkan. Tetapi, pada kenyataannya, tidak setiap doa kita dikabulkan.
Guru agama dari mimbar, atau dari podium, atau di dalam kelas, kerap memberikan argumentasi tambahan. ”bukan tidak dikabulkan, tetapi Allah Swt lebih tahu, mengenai kebutuhan prioritas manusia, maka kemudian dikabulkan dalam bentuk lain..”
Penjelasan
guru agama itu, mungkin cukup banyak didengar oleh kita bersama, atau oleh
umat. Malah untuk kepentingan menjelaskan dan menegaskannya itu, ditambahkan
ilustrasi, bahwa pengabilan Tuhan atas doa kita ini, dapat dilihat dari sisi
waktu.
Dalam merespon doa, Tuhan kadang mengabulkan doa seseorang hari ini, waktu-waktu yang akan datang, atau kelak di hari akhir. Ada kisah, menuru penuturan guru agama, Tuhan sangat mencintai air mata hamba-Nya saat berdoa, daripada tertawanya yang sering melupakan Tuhan. Bahkan, penangguhan kabulan doa seorang muslim itu, dimaksudkan, supaya kebahagiaan mutlaknya dapat dinikmati kelak seutuhnya di akhirat.
Ada juga
yang mengartikan, bahwa doa itu, dikabulkan dalam bentuk yang berbeda.
Misalnya, nikmat sehat, nikmat ibadah, nikmat berjalan, nikmat rukun di
keluarga, dan lain sebagainya. Semua itu, adalah kompensasi dari permintaan
rezeki yang dipanjatkan seseorang dalam doa.
Tetapi, tentu saja, manusia kerap dihantui oleh perasaan, bahwa ”doa spesifik yang dipanjatkannya, ternyata belum dikabulkan Tuhan..”.
Haji Acep
memberikan penjelasan, ”ini pengalaman saya..”. Pada satu waktu, tuturnya, STNK
kendaraan itu, habis, dan harus perpanjangan. Kalau tidak salah, butuh biaya
sekitar 2 sampai 3 juta. Di malam harinya, istrinya, mengingatkan, ”tuh, STNK
habis, kita tidak punya uang...”.
”iya, insya Allah, Akang berdoa..” ucap Haji Acep, kepada istrinya. Mendengar jawaban itu, sang Istri balik mengatakan, ”ya silakan, cobaan hanya saja berdoa, yang penting, lusa harus sudah bayar STNK itu...”.
”saya,
yakin. Ini masalah tauhid…” ucap tegas. ”saya akan berusaha, sesuai keyakinan
saya.”. Tambahnya lagi. Selanjutnya, di malam itu, dia berdoa. Sampai
meneteskan air mata, dengan harapan Allah Swt mengabulkan doanya, supaya bisa
membayar biaya STNK, di waktu yang tepat.
Dia mengisahkan, rangkaian shalat yang dia lakukan. Shalat taubat, shalat tasbih, shalat hajat dan berdoa. Doanya, jelas, spesifik, yakni memohon jalan untuk bisa membayar STNK, lusa harus sudah dibayar. Setelah melaksanakan amalan di malam itu, kemudian dia tidur, seperti biasa.
Saat pagi
hari tiba. ”saya merasakan, suasana cerah, dan seakan tidak ada beban...”
tuturnya. Dia mengatakan, lupa waktu tepatnya, tetapi di pagi itu, malah ingat,
pada seseorang yang memiliki utang. Sampai hari itu, dia belum bayar serupiah
pun. Dia itu sahabatnya sendiri, namun sudah lama tidak kontakan, dan diyakni
belum bayar utangnya.
Agak siangan sedikit, dia melaju naik kendaraan roda doa dengan maksud untuk bertemu dengannya. Temannya itu, kerap dipanggil Men, dengan nama asli adalah ’herman’. Sesampainya di rumah temannya itu, tampaknya istri Herman sedang menyapu halaman rumah.
”eh, pa
Haji..” istri Herman, langsung menyapa, ”mau nagih yah, gak punya uang si Kang
Hermannya juga...”, ungkapnya vulgar.
Diberi sambutan serupa itu, malah
balik balu, dan sedikit menutupi maksud dan tujuannya.
”ah, shilaturahmi saja...” jawab Haji Acep, sambil melaju menutu tempat yang ditunjukkan Istri Herman. Tidak lama kemudian, Herman, sang sahabat itu keluar dari rumah, dan menyapa Haji Acep.
”waduh,
sudah lama tidak bertemu..” ungkap Herman, dengan penuh ceria. ”bagaimana
kabarnya..” tanya Herman, tanpa beban. Mendengar pertanyaan itu, tentu saja,
membuat Haji Acep, merasa tidak terganggu emosinya. Demikianlah pengakuannya.
”Ah, iya sih, tadinya, mau menanyakan utang kamu dulu. Tapi, karena istrimu sudah mengatakan, tidak punya uang, ya sudah, saya ke sini, mau shilaturahmis aja...” katanya, disampaikan kepada Herman.
”iya, Kang
Haji, ekonomi keluarga kami belum pulih. Jadi, saya belum bisa bayar utang. ..”
Herman membenarkan pernyataan sang Istri. ”Tapi, ngomong-ngomong, ada masalah
apa, langsung ke sini, biasanya suka telepon dulu..?”
”Kalau, kamu mendengarkan, besok, saya harus bayar STNK. Tapi, belum ada uang untuk membayarnya.
Itulah yang menyebabkan saya bingung, dan pergi ke sini.”
”apa, bayar
STNK?”
”ya..”
”kapan
habisnya?”
”besok..”
”ntar, saya
tanyakan dulu....” jawabnya singkat, yang kemudian mengangkat telepon genggam
yang dimilikinya, dan menelepon seseorang diujung sana. Tidak jelas kedengaran,
menurut Haji Acep, ngobrol dengan siapa, tetapi jelas membicarakan masalah
pembayaran STNK.
’”beres,
Kang Haji. Insya Allah, STNK mobil Kang Haji besok selesai..”
”Lah,
bukankah kamu sedang tidak punya Uang..”
”tapi ada
teman yang biasa ngurus STNK. Jadi nanti dipotong saja, dari situ, utang
saya...”
Alhamdulillah.
Haki Acep mengucapkan kalam itu, dihadapan saya. Sebagai pendengar yang baik, saya cukup kagum dengan penuturannya itu. Sampai dia pada kesimpulan, bahwa itulah cara Tuhan mengabulkan doa kita. Walaupun dalam doa, kita butuh uang, tetapi Tuhan menjawabnya dengan cara yang berbeda, dan bentuk yang berbeda.
”itu
pengalaman, Pak..” ungkapnya, meyakinkan saya sebagai pendengar, ”ini masalah
ketauhidan. Masalah keyakinan.” paparnya lagi.
Salahnya kita, menurut Haji Acep itu, setelah berdoa, dan menyerahkan urusan kita kepada Allah Swt, kita malah bertanya-tanya, ”saya harus melakukan apa yah..?”, atau ”terus, gimana?”. dalam pandangannya, pertanyaan itu, menunjukkan sikap tidak konsisten dalam ketauhidan. Dalam doa, sudah menyerahkan kepada Allah Swt, terkait masalah kita yang dihadapinya, tetapi, setelah berdoa, malah bertanya-tanya serupa itu. Pertanyaan itu, sama dengan meragukannya.
”Ibarat
begini Pak,..” Haji Acep berkata, ”tadi Bapak menyerahkan kepada saya, untuk
menyelesaikan pompa air ini. Setelah saya menyanggupi, Bapak malah bertanya,
bisa diperbaiki gak mesin pompa ini?, bahkan, kemudian, bapak pun turut
melakukan kegiatan yang seakan-akan membantu pekerjaan saya”.
Kalau sudah yakin dan percaya, maka percayakanlah, jangan ditambahkan dengan pernyataan atau tindakan yang menunjukkan keraguan. Kalau ada keraguan, ya sudah, kerjakan saja sendiri !!! ngapain, harus nyuruh saya servis pompa air ini !!!

0 comments:
Posting Komentar