Just another free Blogger theme

Rabu, 13 Mei 2026

Anak Generasi hari ini, paska milenial, tidak bisa menggunakan model pendekatan pembelajaran jadul. Tidak bisa, dan bahkan, cenderung akan berhadapan dengan kegagalan. Sebagai orangtua, dan atau tenaga pendidik, pun demikian, sebagai Pemerintah yang mengelola kebijakan pendidikan, akan berhadapan dengan karakter peserta didik yang baru, yang memiliki karakter baru, dengan orientasi hidup yang baru.



Anak GenZ dan generasi selanjutnya, bukanlah anak jadul, yang memiliki kebutuhan belajar dengan mendengarkan, menulis atau membaca. Tradisi itu, masih dilakukan, tetapi tidak menjadi faktor utama dalam kehidupannya. Andaipun mereka lakukan, praktek kehidupan serupa itu, tidak dilakukan pula dengan model jadul.

Tradisi mendengar masih ada, tetapi tidak sekedar mendengar suara dari orangtua, atau guru, atau ustad di mimbar-mimbar. Mereka pun mendengar suara dari handphone atau gadget.  Pemilik otoritas suara, tidak hanya satu jenis atau satu sumbersaja. Anak sekarang memiliki ragam sumber informasi, yang biasa dan bisa didengarnya.

Tradisi menulis pun demikian adanya. Mereka bukan hanya menulis di kertas, tetapi kadang menulis tablet, media elektronik, dan juga  media konvensional lainnya. Bahkan, tubuhnya pun, dapat dijadikan menjadi salah satu pilihan untuk menuangkan gagasan dan pikirannya, tanpa harus merasa ketabuan atau kecanduan.

Tradisi membaca, mereka lakukan pula dengan cara berbeda. Mereka tidak lagi membaca  keras, melainkan membaca teks-teks digital, baik statik maupun dinamis, dengan sumber yang sangat kaya. Tidak ada  hambatan untuk menemukan informasi dari berbagai sumber, dan belahan dunia, atau kalaupun berbeda bahasa ibu dengan yang biasa dilakukannya.

Berhadapan dengan generasi serupa ini, maka model pembelajaran yang perlu dikembangkan, akan berbeda jauh. Atau, setidaknya, bila gagal dalam menghadapi karakter anak muda ini, maka potensial seseorang akan mengalami kegagalan dalam mencapai cita pembelajarannya. Kesenjangan orientasi dengan harapan dan karakter peserta didik, memudahkan akan melahirkan kefrustasian peserta didik dalam menjalani proses belajarnya.

Sehubungan hal itu, maka hal yang perlu dilakukan, kiranya adalah merumuskan model pembelajaran presisi (precision learning). Model pembelajaran ini, dimaksudkan untuk memadukan antara konstruksi pengetahuan, minat dan bakat peserta didik, serta gaya hidup peserta didiknya itu sendiri. 

Pendekatan pembelajaran ini, merupakan pembaharuan dengan model pembelajaran klasik, yang lebih mendahulukan konten pembelajaan. Acuannya adalah ATP, CP atau silabus dan kurikulum. Sementara, minat dan bakat peserta didik diabaikan. Teknik pembelajarannya, kerap kali lebih menunjukkan dominasi guru, dan bukan minat atau bakat peserta didiknya.

Dalam keterampilan proses sudah mulai dikedepankan pemanfaatan minat dan bakat peserta didik, dengan sebutan perpusat pada siswa (student centered). Sayangnya pendekatan ini, pun, tidak maksimal dimanfaatkan, dan sekedar lebih menekankan pengaktivitas siswa, dan belum memaksimalkan gaya hidup peserta didiknya.

Secara psikologis, ditemukan informasi bahwa gaya hidup dan gaya belajar siswa berbeda-beda. Perbedaan inilah yang perlu dimanfaatkan. Pemanfaatan keunikan gaya hidudp dan gaya belajar siswa ini, menjadi fondasi kuat dan kokoh untuk memainkan model pembelajaran presisi, yang mengarah pada pengakuan adanya keunikan gaya belajar, gaya hidup, minat belajar dan juga karakter keilmuannya.

Berdasarkan pertimbangan ini, maka jelas dan tampak nyata, bahwa praktek pembelajaran itu, pada dasarnya adalah sebuah seni (art), seni mengelola lingkungan untuk mencapai visi dan isi pemanusiaan. Oleh karena itu, kreativitas dan inovasi, serta kecermatan seorang tenaga pendidik dalam mengelola lingkungan dan sumberbelajar menjadi sangat penting.


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar