Just another free Blogger theme

Jumat, 28 Agustus 2026

Baru sadar, dan tersadarkan. Ada ucapan Al-Harits al-Muhasibi, ulama abad kedelapan, yang mengatakan bahwa kita perlu hati-hati dengan hawa nafsu. Sebab, bila kita abadi dan lalai mengendalikan hawa nafsu, maka, semua hal yang kita punyai dan kita lakukan, akan menjadi sumber petaka, atau sumber kemaksiatan.



Pertanyaan waktu membaca karyanya itu, "lha, kok bisa ?"

Ternyata, memang demikian adanya. Begitulah keadaannya. Hawa nafsu itulah, yang perlu dikendalikan, sehingga hal-hal yang dilakukan tidak menjadi sumber kemaksiatan, dan petaka bagi kehidupan kita hari ini, dan masa depan.

Sudah jelas. Syahwat, kalau mengikuti hawa nafsu, akan mudah dan sangat kentara, penjerumusan pelakunya pada kemaksiatan. Pemerkosaan dan perzinaan, muncul diberbagai penjuru bumi, karena mengumbar nafsu syahwat. Gejala ini, dan penjelasan serupa ini, sangat mudah dan jelas.

Padahal, jika syahwat itu dikendalikan, tahu waktu, tahu tempat, dan tahu kepatutan, maka syahwat itu akan menjadi sumber kenikmatan, dan rezeki bagi kehidupannya. Pasangan yang sah, dan waktu yang patut, menjadi tempat penyaluran syahwat yang sehat dan menyehatkan.

Lha, untuk pemenuhan kebutuhan hal serupa itu pun, andai tidak memperhatikan kebutuhan pasangan, dan atau keluangan pasangan, potensial juga melahirkan gerutu yang tak perlu, dan pada ujungnya, hawa nafsu akan menjerumuskannya pada kemaksiatan, yakni kekerasan seksual kepada pasangan.

Sudah jelas. Seluruh amal keburukan, didorong oleh hawa nafsu, mengantarkan orang pada kemaksiatan dan juga kenestapaan hidup. Bagaimana dengan amal kebajikan, yang banyak dilakukan manusia masa lalu dan masa kini ? Di sinilah, urgensinya pandangan Al-Harits Al-Muhasibi.

Andai kita memiliki pengetahuan, bahkan banyak pengetahuan, luas wawasan, dan mendalam keilmuannya. Bukan hanya lembaga resmi mengakui dan memberikannya label kesarjanaan dan keprofesian, namun masyarakat pun, mengakui kepakarannya.

Nah, masalahnya, jika dengan keilmuannya itu, malah menyebabkan hadir kesombongan dan merendahkan pikiran atau sudut pandang orang lain, atau malah ingin merasa disebut paling pinter dan paling benar, maka soalan serupa ini, sudah mulai terselimuti hawa nafsu. Dirinya sudah mulai menuhankan keilmuannya, sebagai sumber kesombongan dalam kehidupannya.

Itulah kemaksiatannya pengetahuan !!!

Andai sja, kita memiliki jabatan. Menjadi pejabat adalah anugerah ilahi, dan amanah dari publik. Mereka memberikan amanah itu, mungkin karena  kita dipercaya untuk bisa menjalankan kewajiban tersebut. Pengetahuan, keterampilan dan sikap hidup, sebelumnya, dianggap sebagai modal untuk bisa memegang jabatan tersebut.

Nah, masalahnya, jika dengan jabatan itu, malah kemudian melahirkan keangkuhan kekuasaan, dan merasa sok kuasa, dan berkuasa, kemudian meremehkan suara rakyat dan panadngan orang lain, maka dia pun, terselimuti hawa nafsu.

Itulah kemaksiatan jabatan !!!

Dalam konteks itulah, sejatinya, kita masih mudah dan mungkin untuk merinci satu persatu, hal-hal yang kita lakukan selama ini, dan dianggap baik selama ini, namun bila kemudian dihinggapi hawa nafsu, maka potensial menjadi sumber kemaksiatan....

naudzubillahi min dzalik !!

Categories: ,


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar