"Kita kehilangan integritas..", itulah mungkin satu diantara label yang bisa disematkan kepada kita, khususnya dunia akademik. Dunia kampus, yang semula menjadi andalan integritas dan budaya intelektual, kini malah tercoreng habis dan bahkan, terasa tidak membekas dan berbekas.
Kasus korupsi yang menimpa sebuah perguruan tinggi, dan menyasar persoalan yang krusial, yakni penerimaan mahasiswa baru. Menjadi satu, diantara catatan krusial terkait integritas kita. Lembaga pendidikan.
Seakan, tidak ada lagi ruang harapan. Tidak ada lagi, ruang yang bisa dibanggakan. Setiap titik dalam kehidupan kita, dirimbuni, sampah dedaunan dan akar parasit yang mengganggu keberlanjutan kehidupan pohon.
"tidak boleh terlalu menggeneralisir.." ungkap satu pihak. "kalau, kamu gunakan, kacamata yang lain, justru, kebanggaan itu sedang menguat,.." tuturnya, "sayangnya, semua itu, tidak dianggap oleh sebagian orang..."
Tentu saja. Kita bisa memakluminya. Bila, kalangan ilmuwan dan ulama, bermain politik kekuasaan, dan keberpihakannya, pada kepentingan penguasa, maka dia akan mudah dikotak-kotakkan oleh penguasa, dan sikap serta pandangannya, akan dimaknai parsial. Itulah bencana akademiknya !!
Pernyataan itu, seakan memberikan gambaran, bahwa pernyataan kaum cendikia itu, tidak jauh berbeda dengan pernyatan politisi. Bermuatan kepentingan, dan bias dengan kepentingan politik. Sehingga, suara dari akademisi itu, tetap perlu didudukkan dalam satu kursi, dan kursi lainnya, tetap harus dihargai secara proporsional.
Tanpa bermaksud untuk bernostalgia, ada orang yang dikenal dengan kemampuan kalkulatif kehidupan yang sangat ketat. Ulama ini, bernama Al-Harists al-Muhasibi (165/781-243/857). Ilmuwaan abad ke-8. Dikenali sebagai al-Muhasibi, karena kemampuannya dalam melakukan deteksi diri, dan melakukan koreksi. Karya-karya intelektualnya pun, tidak jauh dari masalah kalkulasi kehidupan. Misalnya Belajar Ikhlas, dan Tulus Tanpa Batas. Dua buah karya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Selain beliau, ada juga Imam Ghazali (450-505/1058 M – 1111 M). Beliau sangat popular di kalangan muslim Asia Tenggara, terlebih lagi di Indonesia. Karena kepiawaiannya dalam menuturkan ajaran Islam, dengan sangat mudah, gamblang dan sistematis, kemudian dikenal sebagai Hujjatul Islam, pendalil keagamaan yang sangat-sangat mumpuni.
Bercermin pada dua kasus serupa itu, kembali ke soalan yang kita ajukan di sini, hari ini, di sini, kita mengalami kesulitan dan krisis integritas. Para ulama terjebak pada dunia popularitas dan keduniawiaan, dan para ilmuwan-sains terjebak pada penjara kampus. Persoalan-persoalan lain, dilapangan, seperti soalan kehidupan sosial kemasyarakatan, hampir jauh api dari panggang.
Mereka yang lebih pekak, justru adalah mahasiswa dengan dorongan-politik kekuasaannya. Atau, masyarakat rentan di kelas bawah karena didorong oleh jeritanya. Sedangkan, ilmuwan dan akademisi, entah ada di mana posisi dan perannya.
Bisa jadi, ada yang mengatakan, "bukankan, akademisi sudah bersuara?"
Betul. Sudah bersuara. Namun suara itu, ibarat jangkrik di tengah gulita. Terdengar, namun malah meninabobokan, dan tidak membangunkan kesadaran banyak pihak.

0 comments:
Posting Komentar