Ide/gagasan merupakan sebuah produk. Ide adalah produk jasa dari seseorang. Sementara orang yang mengeluarkan ide/gagasan diposisikan sebagai produsen. Pemahaman ide/gagasan sebagai sebuah produk manusia sesungguhnya sudah tidak asing lagi bagi kalangan ilmuwan sosial. Anthony Giddens –misalnya-- berpandangan bahwa dalam kehidupan bermasyarakat manusia adalah produsen yang memproduksi sekaligus mereproduksi budaya[1].
Ide adalah salah satu budaya manusia. Dengan kata lain, ide adalah produk budaya atau praktik pemikiran manusia.
Berbagai budaya yang berkembang saat ini, sejatinya merupakan produk manusia masa lalu. Dengan kreativitas nalar danperilakunya, setiap individu memproduksi budaya. Maka tidak mengherankan, bila antropolog atau sosiologi mengatakan bahwa kebudayaan adalah kreasi budi dan daya manusia.
Di Indonesia, kebudayaan diartikan sebagai hasil
cipta, rasa, karsa dan karya manusia, atau lebih sederhananya kebudayaan adalah
hasil dari budi-dan-daya manusia. Dengan kata lain, kebudayaan merupakan
produksi manusia.
Seiring dengan perkembangan sejarah, kebudayaan itu tidaklah diam. Dari hari ke hari, kebudayaan senantiasa terus berubah dan berubah. Perubahan nilai dan budaya di masyarakat ini, merupakan bentuk nyata dari hasil reproduksi manusia terhadap kebudayaan yang dianutnya. Oleh karena itu, sejalan dengan pemikiran Giddens, Irwan Abdullah mengatakan bahwa dalam proses kebudayaan itu ada produksi dan reproduksi konstruk kebudayaan.Sejarah perjalanan dan perkembangan inilah yang kemudian menyebabkan adanya perubahan atau perkembangan nilai dan budaya di masyarakat.
Merujuk pada pemikiran ini, dapat disimpulkan
bahwa ide/gagasan merupakan produk jasa manusia –atau lebih tepatnya, yaitu
produk intelektual manusia yang siap dipublikasikan.
Proses publikasi merupakan usaha memasarkan ide. Dalam proses ini, ide yang semula masih merupakan ”milik” pribadi kemudian diusahakan untuk diperkenalkan kepada orang lain. Dialog, komunikasi, diskusi, ceramah, atau pembelajaran merupakan bagian dari memasarkan ide kepada orang lain.Menuangkan ide ke dalam bentuk artikel atau buku adalah usaha untuk memasarkan ide kepada masyarakat. Ngobrol dan diskusi di lingkunganb RT/RW pun adalah usaha memasarkan ide/gagasan kepada masyarakat. Oleh karena itu, memasarkan ide ini tidak hanya dilakukan oleh mereka yang memberikan komentar di Stasiun TV/Radio. Memasarkan ide dapat dilakukan di mana saja, dan dengan cara yang beranekaragam.
Perlu ditegaskan ulang, bahwa dalam konteks ini
ide/gagasan diposisikan sebagai produk inteleketual manusia yang dapat dan
perlu dipasarkan. Mirip sebuahproduk barang, ide/gagasan perlu dikemas
sedemikian rupa sehingga dapat dipasarkan, dan kemudian –semoga—dapat laku di
masyarakat.
Bila ide dianggap sebagai sebagai sebuah produk maka pengarang/penulis/pengggas adalah produsenyang dapat secara produktif mengeluarkan ide/gagasan nya. Posisi mereka menjadi sangat sentral dan penting dalam proses pemasaran ide/gagasan ini. Namun demikian, praktek pemasarannya penulis dapat dan atau harus bekerjasama dengan penerbit/pemilik media massa.
Khusus untuk konteks memasarkan ide/gagasan dalam
bentuk buku, maka urgensi penerbit ada pada dua tahap. Pertama yaitu tahap
editing, dan kedua yaitu pemasaran hasil akhir pengemasan (buku). Oleh karena
itu, dalam memasarkan sebuah ide/gagasan, seorang penulis perlu melakukan
kerjasama dengan pihak penerbit/editor itu sendiri. Tanpa harus dimaknai bahwa
si pengarang kurang memiliki pemahaman mengenai psikologi pasar dan pemasaran,
namun tim editor dan penerbit, biasanya telah terbiasa dengan psikologi bisnis,
sehingga naluri bisnisnya lebih kuat dibandingkan penulis yang terkadanglebih
banyak terjebak pada tradisi intelektualitasnya.
Buku terbitan Mizan-Bandung, yang berjudul Pemimpin Adiluhungkarya Berliana Kartakusumah dapat dijadikan salah satu contohnyata bagaimana peran penerbit/editor dalam mengemas sebuah karya intelektual. Semula karya Berliana Kartakusumah ini berjudul ”Pengembangan Kepemimpinan Tokoh Himpunan Mahasiswa Islam (Study Kasus TentangKeragaan Proses Pembelajaran, Kepribadian, Visi, Prestasi dan Penerimaan Lingkungan Tokoh HMI Dalam Perspektif Pendidikan Sepanjang Hayat)”. Judul yang sangat panjang tersebut merupakan judul asli dari Disertasi penulisnya. Kemudian dengan tujuan penyesuaian terhadap jenis buku yang akan diterbitkan dan kepentingan pemasarannya, judul tersebut disederhanakan sesuai dengan jiwa pasar (marketable).
Penggunaan konsep Pemimpin Adiluhung merupakan
usaha penerbit dalam memasarkan ide (atau memasarkan buku) kepada masyarakat.
Judul terakhir itu, menurut pandangan penerbit lebih marketable dibandingkan
judul aslinya.
Dalam contoh tersebut, ada beberapa pelajaran dalam mengemas sebuah kata untukmeningkatkan mutu dan nilai pemasaran sebuah ide/gagasan. Dan inget, judul buku adalah kunci utama dalam menarik minat pembaca untuk melanjutkan telaahannya terhadap isi buku. Oleh karena itu, pengemasan sebuah judul bukumenjadi sangat penting.Dalam merumuskan judul buku atau ide/gagasan dalam sebuah buku, dapat diikuti rambu-rambu yang ditemukan dari kasus tersebut.
Pertama, perlu adanya kemampuan untuk
menyederhanakan bahasa.Memang ada perbedaan tradisi antara masyarakat Indonesia
dengan tradisi Jerman. Pemikir dan penulis Jerman sudah terbiasa dengan kalimat
yang panjang[2]. Namun tradisi Jerman seperti ini, sangat
melelahkan dan kurang menarik bagi masyarakat Indonesia yang lebih terbiasa
dengan kalimat pendek dan sederhana. Oleh karena itu, pelajaran pertama adalah
setiap penggagas atau editor perlu melakukan penyesuaian gaya tulis dari gaya
tulis berparagraf panjang menjadi paragraf atau kalimat yang pendek.
Kedua, gunakan kata/istilah atau konsep yang mudah dicerna dan menyentuh ’nurani’ masyarakat. Hindari kata yang formal, karena model tetulisan ini akan bernuansa kaku dan kurang menarik perhatian masyarakat. Oleh karena itu, merujuk pada contoh yang dikemukakan tersebut, penggunaan kata dalam sebuah judul di usahakan lebih retoris sehingga melahirkan daya tarik bagi pembaca dan tidak terlalu panjang.
Ketiga, sebuah tema atau judul gagasan
perlu dikemas sedemikian rupa sehingga menarik kepenasaran pembaca untuk
mengetahui lebih jauh tentang isi dari buku tersebut. Pada konteks inilah,
kemampuan seorang editor, perlu mengerahkan kemampuan olahan kata dan pemahaman
terhadap psikologi masyarakat.
[1]Untuk mengkaji pemikiran Anthony Giddens,
dapat dilihat Anthony The Constitution of Society : Teori
Strukturasi Untuk Analisis Sosial. Penerjemah Adi Loka Sujono. Yogyakarta :
Pedati. 2003., Masyarakat Post-Tradisional. Penerjemah Ali Noer
Zaman. Yogyakarta : IRCiSOD. 2003.. Runaway World : Bagaimana
Globalisasi Merombak Kehidupan Kita. Penerjemah Andy Kristiawan
S.dkk.Jakarta : Gramedia. 2001.
[2] Lihat komentar Thomas McCharty dalam
“Pengantar” bukuTeori Kritis Jurgen Habermas. Jogjakarta :
Tiara Wacana. Penerjemah Nurhadi. 2006.

0 comments:
Posting Komentar