Just another free Blogger theme

Jumat, 18 September 2026

Saat mendengar kalimat itu, banyak orang yang tertawa. Tertawa menyimak penutur, yang mengutarakan pandangannya, bahwa banyak (atau lebih tepatnya, ada) pakar yang pintar, dan saking pintarnya, malah menjadi goblok !



Tidak semua orang, diantara kita, paham dengan maksud dari pernyataan itu. Bahkan, bisa jadi, tidak semua orang paham dengan makna dari pandangan itu. Tetapi, pada saat para penyimak yang hadir di lokasi aktual itu, tertawa lepas, maka ada pesan-budaya yang dapat terbaca, dari kejadian itu. Realitas itu, dapat dimaknai sebagai realitas budaya, yang sedang terjadi di lokasi tersebut.

Dalam kacamata Geografi Kritis, tidak ada tempat yang netral. Ruang tempat perhelatan  atau ruang pertemuan itu, semula adalah ruang fisik yang netral. Namun, selepas mereka menempelkan atribut, penataan kursi, dan juga menyelenggarakan rangkaian acara dalam kegiatan tersebut , maka ruang itu, berubah menjadi tempat-budaya (place). Dalam konteks itulah, maka realitas budaya mewujud di lokasi dimaksud.

Tentu saja. Orang tertawa, bukan berarti bahagia. Karena makna tertawa pun, tidak selalu bahagia, melainkan terhibur oleh lelucon, humor atau guyonan yang disampaikannya. Pernyataan komedian, kerap kali menggelitik nalar, dan kemudian mengundang tawa. Tertawanya itu sendiri, bukan karena setuju dengan pandangannya, tetapi lebih disebabkan karena terhibur. Keterhiburan itu, karena ada makna yang bisa dipahami dan disetujui satu bagian, dan ada yang perlu diketawain sebagian. Atau, dengan istilah lainnya, ketertawaannya itu, lebih disebabkan karena sekedar setuju sebagiannya saja !

Ada pembajakan logika. Dalam sebuah komedian, ada pembajakan logika, yang tidak disadari oleh pendengar. Misalnya, ada yang mengatakan bahwa peringkat Indonesia, dari sisi PISA itu, adalah 69, atau dari sisi Global Peace Index Dunia 2024, Indonesia pun berada di posisi 69.

Secara spontan, sang komendian malah memberikan pernyataan, "Lah, mengapa sedih dengan posisi 69, bukankah dengan posisi 69 itu, sangat enak?".

Awal mulanya, pikiran ini, hendak berontak, karena menganggap posisi Indonesia di dunia, sebagai sesuatu yang wajar dan dinormalisasi. Tetapi, setelah memanfaatkan referensi lain, dan memahami maksud dari penuturnya, maka barulah kita, bisa terkekeh. "o, iya, benar juga, ya..?"  Walaupun tidak setuju dan merasa prihatin, tetapi terhibur oleh logika lainnya. Itulah yang disebut, tidak setuju sebagian, tetapi terhibur sebagian.

Tentu saja, hanya kelompok tertentu, dengan frekuensi nalar atau kebiasaan tertentu saja, yang bisa menikmati joki tersebut.  Sedangkan, bagi kita yang tidak paham, kosa kata itu, maka akan mengalami kesulitan dalam menikmati joki-joki tersebut.

Pun demikian adanya. Sekelompok penyimak (mustami' atau audiens) yang tertawa terbahak-bahak, saat si penutur mengatakan bahwa ada pakar yang pintar, dan saking pintarnya, mereka menjadi goblik. Tertawanya mereka itu, adalah tentu "karena mereka ada dalam satu frekuensi". Karena bila tidak satu frekuensi, atau tidak satu budaya, maka pernyataan itu, akan sulit dipahaminya.

Dengan demikian, dapat disederhanakan, bahwa tertawa itu, bukan karena setuju dengan pernyataannya. Namun, hal itu lebih merupakan reaksi spontan, karena satu frekuensi dengan guyonananya. Dan, sangat mudah diyakini, bila mereka kembali pada satu fase 'refleksi' atau 'meditasi' terkait pengetahuan-pengetahuan yang didapatnya, maka ada potensi dia mampu menunjukkan sikap kritisnya. Barulah, mereka akan merasakan bahwa kelucuan itu, lebih disebabkan karena ada sebagian kebenaran, dalam komedi tersebut.

Selain terkait reaksi spontan akibat kesamaan frekuensi, ada kecenderungan ada pembajakan nalar. Pembajakan nalar oleh si penutur, kepada audiens, dan kemudian audiens,  terjebak oleh retorika populisnya.

Ada pakar yang kritis. Sikap kritisnya, ditunjukkan kepada Pemerintah. Sementara itu, diantara pakar kritis itu, ada juga yang belajar di luar negeri, dan atau bekerja di perusahaan luar negeri. Dengan asumsi, bekerja dengan asing adalah sebuah kejahatan dan kegoblokan, maka kesimpulannya, "ada pakar yang pintar, menjadi goblok, dengan menjual nasionalisme untuk kepentingan pribadinya atau kelompoknya".

Penarikan kesimpulan serupa itu, tentu, termasuk model penarikan kesimpulan yang tergesa-gesa. Ketergesa-gesaan, bisa menyebabkan kekeliruan dalam rumusan kesimpulannya. Setidaknya, ada dua hal penting yang perlu dikritisi dengan seksama.

Pertama, penggunaan kata goblok, termasuk juga dungu, atau brengsek, merupakan contoh dari kata emotif, atau subjektif emosional. Makna dari kata-kata tersebut, bukan sekedar  bermaksud untuk menjelaskan realitas, namun juga merendahkan objek atau lawan atau kelompok yang sedang dikomentarinya. Akibat dari situasi serupa ini, maka penilaiannya itu, lebih bersifat emosional, daripada rasional.

Kedua, ada asumsi-asumsi yang perlu dianalisis secara kritis lebih lanjut. Artinya, kita tidak bisa menggeneralisasi kesimpulan, bahwa orang yang berlajar di luar negeri, bekerja dengan perusahaan asing, dan atau menunjukkan sikap kritis terhadap pemerintah, disebut antek-antek asing. Kesimpulan ini, pembajak logika.

Realitas hari ini, berapa orang yang pernah belajar di luar negeri ? berapa banyak warga Indonesia yang bekerja di luar negeri, dan atau memiliki afiliasi ekonomi, sosial dan budaya dengan warga dunia ? berapa jumlah warga Indonesia, yang setiap harinya, baik secara ekonomi maupun intelektual, bergantung pada interaksi dan komunikasi dengan luar negeri ? apakah mereka itu, dapat disama ratakan dengan maksud dan tujuan dari penilaian sang penutur tadi ?

Pada konteks itulah, maka penilaian bahwa "saking pinternya, jadi goblok", lebih merupakan reaksi emosional dan atau joke belaka. Motivasi yang mendorong pernyataannya itu, lebih disebabkan untuk upaya membela diri dari serangan ideologis dari lawan politiknya.

apa maksudnya lagi ?


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar