Just another free Blogger theme

Rabu, 16 September 2026

Bila dalam wacana sebelumya, mencoba menganalisis tema "saking kelewat pinternya, pakar itu mejadi goblok". Kita  malah bisa melanjutkan penyimpulan emosional dan rasionalnya lagi, menjadi "Saking kritisnya, malah menjadi goblok !"



Bagaimana hal ini, bisa terjadi ? dan bagaimana mungkin, seseorang bisa terjebak pada lubak kegoblokan itu ? 

Di sinilah, masalahnya. 

Khusus untuk konteks kita, kerap kali ada pencampuran makna dan penggunaan kata yang perlu dipahami secara kontekstual. Bila gagal memahami konteksnya, maka akan dengan mudah kita terjebak pada pembajakan nalar, dari satu tradisi ke tradisi lain, dan pada ujungnya, akan terjadi perdebatan yang tidak produktif. 

Sebagai contoh kecil, untuk sekedar mengartikan pinter saja, ada konteks budaya yang bisa membantu menjelaskan, atau membiaskannya. Bila kita cabut konteks atau ruang-budayanya, akan mudah orang menjadi korban pembajakan nalar. 

Untuk zaman sekarang ini, kita dapat dengan mudah mendapatkan informasi budaya atau fenomena kebudayaan yang tumbuhkembang di masyarakat, termasuk yang ada di sekitar kita. Salah satu contohnya, adalah penyebutan status seseorang yang disebut "orang pinter". Status orang pinter ini, bukanlah pakar keilmuan, yang didapat dari tradisi ilmiah saintis, melainkan dari tradisi budaya yang tumbuhkembang di masyarakat.

Terkait hal itu jugalah, maka ada pepatah, "jadilah orang yang pintar, lebih pintar dari orang pintar", atau adalah kalimat lain yang senada, "jadilah lebih natural dari supranatural". Maksudnya, jadilah orang yang berakal waras, atau pemilik akal sehat, ditengah masyarakat yang tidak bernalar, dan atau goblok tadi.

Lantas, bagaimana kita mengartikan makna kalimat, "saking kelewat pintarnya, banyak yang jadi goblok.....".

Kita  memang agak sulit menemukan kasusnya. Andaipun ada yang tahapan lanjut dari sebuah kecerdasan, biasanya dikenal, "orang pintar itu, biasanya gila", atau 'orang jenius itu, adalah orang gila'. Kalimat serupa itu, bisa jadi, pernah terdengar dan terlontarkan. Makna dari kalimat itu, mudah dipahami, karena maksud dari kegilaan dari orang jenius atau orang pintar itu, karena ada kesenjangan dengan kenormalan masyarakat pada umumnya. Idenya, kadang sulit dipahami, dan tidak terjangkau oleh nalar awam.

Sekali lagi, bagaimana dengan kegoblokan ?

Kata goblok, adalah istilah yang lebih emosional untuk menggambarkan kebodohan. Ideot, imbesil atau debil, adalah istilah rasional dan ilmiah unuk menunjukkan kebodohan. Sedangkan sebutan bodoh dengan maksud merendahkan, maka digunakannya adalah dungu atau goblok.

Mengapa kegoblokan itu terjadi atau menimpa seseorang ? 

Orang goblok adalah orang yang  tidak mampu mengikuti dinamika penalaran yang terjadi secara umum.  Bencana alam adalah fenomena yang disebabkan adanya dinamika dan karakter alam. Oleh karena itu, bila ada yang menganggap bahwa erupsi gunung berapi, bukan karena hukum alam, tetapi karena ada konspirasi negara asing terhadap negara Indonesia, maka bisa jadi, dia terjebak pada kegoblokan nalar.

Orang yang keracunan, adalah kondisi dimana tubuh kemasukan bakteri melalui material yang dikonsumsi. Maka karena itu, kalau ada yang mengatakan bahwa orang keracunan makanan, siapapun yang memberinya makanan tersebut, diartikan karena ada kepentingan idelogis dan politis, maka dia terjebak pada kegoblokan nalar.

Kita semua paham. Ada sebuah peristiwa alamiah, terjadi akibat rekayasa politik. Semua paham, dan bisa memahami konstruksi itu. Tetapi mengabaikan fakta ilmiah, fakta alamiah, atau hukum alamiah, maka sama saja dengan memelihara  kegoblokan. Dan karena itu pula, maka orang yang alergi kritik, dan mengartikan kritik terhadap sebagai bentuk wujud sikap antek-antek asing, sama dengan memelihara kegoblokan.

Pada situasi serupa ini, jangan-jangan, kita semua memang terjebak kegoblokan. Penghentian menteri, yang sejatinya, adalah prerogatif presiden, kemudian dicari-cari motif politik dan idelogisnya. Mungkin, iya, ada yang seperti itu. Tetapi, terlalu mengedepankan intrik politik, akan memudahkan seseorang terjebak pada kegoblokan sendiri.

Narasi ini, tidak dimaksudkan untuk menghapus faktor kepentingan dan kekuasaan dibalik pengetahuan. Jurgen Habermas, sudah mengingatkan kita, pun demikian dengan Karl Mannheim. Kedua pemikir modern itu, sudah mengingatkan kita, bahwa setiap diantara kita, perlu kritis terhadap pengetahuan, teknologi, atau apapun yag terjadi disekitar kita. Karena, semua hal itu bisa jadi, diselimuti oleh kepentingan ideologis dan kepentingan kekuasaan, tertentu.

Namun, dibalik peringatan itu semua, tetap mengajak kepada kita semua untuk bisa bersikap kritis, dan bernalar sehat, jangan sampai terjebak pada lubang kegoblokan yang tak berkesudahan !!!

Ah, saya sudah goblok lagi...!???


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar