Seperti yang terjadi pada hari-hari sebelumnya, begitu pula dengan hari ini, kita kumpul dan bercerita di meja itu. Meja pojok yang kerap jadi langganan kita membincangkan berbagai hal mengenai madrasah ini. Hari itu pun begitu. Bila tidak keliru, waktu itu masih jam istirahat. Bila tidak salah ingat, hari itu adalah pertengahan bulan di bulannya kelahiran Tentara Nasional Indonesia.
“mulai sekarang kita harus waspada !” ujar sahabatku yang dikenal sebagai guru pengusaha itu. Di madrasah ini, dia dikenal sebagai orang yang tidak menonjol dalam kemampuan profesional, tetapi cerdas dalam berusaha. “waspada, karena ternyata persaingan hidup itu, tidak saja terjadi di dunia bisnis, dan politik, di lembaga pendidikan seperti kita pun terjadi...”ujarnya menambahkan peringatan tadi.
Kami berlima, atau
malahan berenam dengan seorang ibu senior yang juga turut hadir dalam komunitas
itu, sangat terkejut dengan pembukaan pernyataan itu. Tidak menyangka dan tidak
terduga. Orang yang selama ini dianggap tidak pernah biasa berbincang serius,
kali ini dia begitu serius menuturkan satu masalah terkait dengan pendidikan
ini.
Perawakan kecil, tetapi cerdas dalam mengelola ungkapan, sehingga mudah dipahami banyak orang. Itulah karakter dari sahabat kita yang satu ini. Dalam kegiatan sehari-harinya, dia memang dikenal sibuk. Banyak pekerjaannya, seperti bisnis kontrakan, bisnis material, dan juga menjadi pemborong bila ada projek pembangunan kecil-kecilan, seperti membuat rumah dan sejenisnya. Tidak mengherankan, bila kemudian ada yang mengatakan bahwa Nendi, begitulah panggilannya, “jabatan guru itu hanyalah sampingan...”
“Jangan membuat isu
atau gosip, “ kataku, “berikanlah penjelasan yang tuntas dalam memahami masalah
itu...”pintaku padanya.
“ini mah, hanya sekedar lontaran..”katanya, “ternyata kehidupan di dunia pendidikan pun ternyata ada persaingan ketat..”paparnya.
“sudah pasti..”kata
sahabat kita lain.
“Orang seperti Darwin saja, sudah paham sejak dulu...”yang lain menimpalinya.”sudah lama, Darwin mengatakan bahwa dalam kehidupan itu ada persaingan, persaingan dengan sesama, persaingan dengan spesies lainnya, itu adalah wajar, alamiah dan akan terus terjadi...”
Percakapan
tersebut, kemudian menajam, menukik, melebar dan menguat, dan bahkan menjadi
sebuah perbincangan yang menarik dan unik. Di sela-sela perbincangan itulah,
kemudian saya, yang semula hanya menjadi pendengar, merasakan ada satu aspek
lain yang memang tidak banyak diguncingkan teman-teman kali ini.
“dibalik adanya persaingan itu, saya melihat ada tiga tipe manusia dalam menghadapinya..” kataku. “pertama, ada manusia yang serakah. Dia serakah. Bukan saja soal makanan, tetapi juga jabatan atau kesempatan. Mungkin dia merasa berkuasa. Bukan karena dia mampu. Tetapi, karena dia merasa berkuasa kemudian dia bersikap serakah. Keserakahannya itu diwujudkan dengan bentuk, menguasai seluruh aset-aset organisasi, atau aset sekolah...”
“kayanya, hal itu
terjadi karena dia mampu melakukan itu...”ada sahabat yang bertanya.
“saya katakan kembali, hal itu bukan karena masalah kemampuan. Bisa jadi, dia tidak memiliki kemampuan, tetapi karena dia berkuasa, dan merasa penguasa. Itulah yang menjadi penyebab keserakahan itu dilakukannya.”
Penjelasan itu,
kemudian saya lebarkan ke berbagai kasus. Ada seorang pemimpin, yang memang
diangkat oleh pejabat yang lebih tingginya, sebut saja misalnya, kalau kepala sekolah diangkat oleh Kepala
Kementeran Pendidikan Nasional, kalau kepala madrasah diangkat oleh Kementerian
Agama, dia merasa berkuasa, dia merasa menjadi penguasa, kemudian bertindak
serakah. Segala sesuatunya, merasa menjadi hak dirinya sendiri. Dengan sikat
atau karakter itulah, kemudian dia
menjelma menjadi pegawai yang serakah terhadap jabatan dan serakah
terhadap masalah uang.
“kelompok kedua,”kataku, “ada guru atau pegawai yang bertipe pengemis. Tujuan dari orang ini adalah mendapatkan keuntungan ekonomi, kendatipun harus menjual harga diri atau meminta-minta...” pandangan ini kemudian ditimpali oleh sahabat-sahabat yang lain, dan bahkan yang lain membantu memberikan contoh atau ilustrasi.
Di madrasah kita
ini, katanya, ada guru yang hidupnya itu menggadaikan nasib kepada si serakah.
Asal dia mendapat bagian atau honor, kendati harus jadi jongosnya, dia tetap
lakukan itu. Kemana-mana jadi buntut, dan malahan kemudian berperan sebagai
spionase atau mata-mata, menguping pembicaraan guru yang lain, yang kemudian
dijadikan bekal untuk menjilat ke si serakah.
Pada kasus yang lain, kata sahabat yang lainnya, ada guru yang berubah haluan setelah diangkat. Sebelum menjadi pejabat, kami begitu percaya kepada integritasnya untuk terus memperjuangkan aspirasi guru dan siswa. Sikap dan pemikiranya pada waktu itu, kami anggap baik dan positif untuk pengembangan madrasah. Tetapi, setelah menjadi pejabat, ternyata dia tidak konsisten. Saat ini, dia malahan menjadi kroni si serakah itu. Dia pun malahan, terindikasi ingin mempertahankan jabatannya sekarang ini, dan atau malah kalau bisa naik jabatan lagi. Karena ada motivasi itu, berbagai prinsip dan etika hidupnya berubah. Dalam pandangan sahabat-sahabat yang lainnya, dia lebih cenderung berorientasi ke kekuasaan, daripada ke anggota.
“orang yang
terakhir itu,” kata penutur kisah, “dulu dia berjuang keras untuk membangun
transparansi dalam keuangan, demokrasi dalam pengambilan keputusan. Tetapi,
sampai saat ini, dia malahan bertutup,
dan berpandangan bahwa tidak semua hal harus dibuka. Aneh. Pandangan yang aneh.
Berbeda sikap dengan waktu dia belum duduk dalam jabatan itu...”
Saya merasa senang. Dengan berbagai masukan dari teman-teman itu, dengan adanya ilustrasi atau contoh-contoh itu, kian memperkuat dan mempertajam mengenai kehadirannya orang yang bertipe pengemis. Dalam analisis kita ini, persaingan hidup antara pengemis dengan kita, sudah pasti tidak seimbang. Hal itu, karena si pegemis itu dia berkongsi, berkolusi, berjabatan erat dengan si serakah atau penguasa. Si pengemis itu, dia adalah kacungnya atau budaknya dari si serakah. Oleh karena itu, persaiang iu menjadi tidak seimbang, karena pengemis akan bergabung dengan si serakah, dan kemudian melawan kelompok lain yang akan mengganggunya.
“kelompok ketiga,
yaitu guru – guru yang kebanyakan. Dia adalah guru yang tak berdaya.
Kemampuannya hanyalah mengurut dada, dan berharap. Tidak kadang banyak cerita,
banyak kisah, banyak keinginan, banyak usulan, tetapi semua itu mentok tidak
membuahkan hasil, karena si serakah dan si pengemis lebih dominan. Kelompok
ini, dalam hematan saya, merupakan kelompok yang terbesar dibandingkan dengan
kelompok tadi.”
“ha..ha..ha..” seorang sahabat, yang dikenal sebagai guru gaul tertawa terbahak-bahak. “tipe itu, seolah nyindir kita nih....”ujarnya.
“Sebenarnya, tidak
juga.” Jawabku, “ ini bukan tipe kita, karena kita masih memiliki kemampuan kritis, dan mampu
untuk menyampaikan aspirasi ini kepada pihak lain. Saya anggap, sikap kita ini berbeda dengan sikap kelompok tak berdaya
itu” tambahku kepada sahabat-sahabat lainnya.
Kita masih bisa melihat, bahwa banyak diantara kita yang sudah bersikap pesimis, dan putus asa. Mereka menganggap bahwa kondisi saat ini sudah tidak bisa diubah sebagamana mestinya. Kondisi ini, dianggapnya sudah menjadi takdir dalam hidupnya, dan dirinya sudah tidak memiliki kemampuan apa-apa. Maka, yang dilakukannya sekedar menjalankan tugas apa adanya, dan kemudian pulang. Tidak lebih dari itu.
Dengan alibiku saat
itu, ternyata tidak semua peserta ngobrol itu setuju dan percaya. Masih ada
ganjalan dalam benaknya masing-masing.
Bila memang kita bukan si serakah, bukan pengemis, dan juga tidak masuk pada kelompok orang yang tidak berdaya, terus
di mana posisi kita ? dan mengapa kita
hanya menjadi kelompok yang suka mengeluh dan tidak melakukan perubahan nyata
terhadap kondisi lingkungan ini ?
Pertanyaan terakhir itu, masih menggelayut dan belum terjawab penuh. Tetapi, waktu ngobrol-ngobrol sudah terputus dengan suara bel masuk kerja pada jam berikutnya, sehingga kami semua harus kembali pada meja kerjanya masing-masing. Tetapi, sahabat kita yang membuka pembicaraan ini, kembali mengingat kita, bahwa tipe-tipe yang tadi itu, semuanya juga terus bersaing untuk mempertahankan posisinya. Mereka terus bersaing untuk tidak sampai posisinya tergeser. “ingat, apapun posisi kita, dimanapun kita duduk, persaingan itu akan terus berjalan...”ujarnya mengakhiri obrolan hari itu.

0 comments:
Posting Komentar