Ini adalah pengalaman. Namanya pengalaman, sebagian orang mengatakan, lebih bersifat subjektif. Biarkan, penilaian serupa itu, hidup, tanpa harus membatasi hak kita untuk menuturkan pengalaman, atau kejadian yang teralami ini.
Kejadian yang kita maksudkan itu, adalah pengalaman menjadi penerima peserta didik baru (PPDB). Sebagai salah seorang petugas di PPDB madrasah, orangtua calon siswa baru kerap mendapat pertanyaan, “apa alasan ibu atau bapak, menyekolahkan anak ke madrasah ini ?”
Kebetulan, atau memang ini, adalah takdir sejarah, karena memang, menjadi petugas PPDB itu bukan kebetulan, tetapi merupakan sebuah penugasan, karena itu, saya ingin sebutnya sebagai sebuah takdir sejarah, menjadi petugas PPDB pada perbedaan kurun yang jauh.
Dulu, atau sekitar 6-7 tahun yang lampau, bila
orangtua siswa dihadapkan pada pertanyaan itu,
mereka menjawabnya, “ingin anaknya menjadi soleh..”. Jawaban itu, dianggap khas, jawaban orangtua
yang menyekolahkan anaknya ke madrasah, yang
merupakan sekolah umum, dengan karakter pendidikan agama yang cukup
banyak. Namun, demikian, jawaban itu,
ternyata tidak terdengar lagi. Andaipun terdengar, seperti yang teralami, dalam
beberapa tahun terakhir ini, orangtua calon siswa itu memberikan jawaban
“supaya anak kami menjadi soleh, dan bisa masuk ke jurusan kedokteran..”,
ungkapnya tegas.
Jawaban serupa itu, bukan kasuistik. Jawaban itu, relatif mulai banyak terdengar, kendati imbuhannya yang beragam, ada yang menyebutnya, “soleh” dan masuk ke jurusan komunikasi, manajemen komputer, akuntasi, manajemen bisnis, atau yang lainnya. Fenomena inilah, yang saya sebut, ada pergeseran besar mengenai harapan orangtua siswa, yang menitipkan putra-putrinya ke madrasah.
Sehubungan hal itu pula, tantangan itu, sejatinya
harus dijawab dengan penguatan kompetensi siswa mengenai Sains, Teknologi, dan
ilmu eksakta lainnya. Dan pada konteks itulah, meminjam trend modern hari ini,
yaitu menerapkan model pembelajaran madrasah berbasis pada STEM (science, technology, engineering and mathematic).
Meminjam pengalaman di Amerika Serikat, ada beberapa alasan, mengapa STEM ini, perlu dikembangkan di Madrasah (atau juga pesantren).
Pertama, ada kesenjangan kompetensi di kalangan
siswa SMA, dalam penguasaan Sains, teknologi, Rekayasa dan matematika. Bahkan,
ada kecenderungan, bidang kajian ini, dianggap horor oleh sebagian peserta
didik kita.
Kedua, ada gejala kesenjangan kompetensi STEM pada kalangan instruktur. Tidak sulit untuk menemuka tenaga pendidik di tingkat SMA/MA, yang menunjukkan kesenjangan budaya (kesenjangan teknologi, techonology lag) dengan kekinian. Saat generasi mudanya ada di zaman Now, gurunya malah masih berada di zaman old.
Ketiga, belum tampak persiapan kurikulum atau model
pembelajaran yang bisa mendukung proses penguatan kompetensi sains, teknologi,
rekayasa dan matematika. Lembaga pendidikan kita, masih cenderung mengedepankan
formalitas atau rutinitas pembelajaran.
Keempat, kegagalan dunia pendidikan untuk membangkit motivasi siswa dalam mempelajari STEM. Ada indikasi, siswa takut dan atau menghindarkan diri dari kajian STEM, khususnya matematika.
Kelima, ketidaksiapan peserta didik lulusan SMA dalam
memasuki dunia kerja. Peserta didik zaman kiwari, relatif kurang memiliki
kesiapan kompetensi untuk memasuki dunia kerja.

0 comments:
Posting Komentar