“mau ke mana kuliah ?” tanyaku kepada seorang siswa, yang kini tengah duduk di bangku kelas XII SMA. Pertanyaan ini, sering saya ajukan, kepada mereka yang duduk di kelas terakhir ini. Selain sebagai bentuk kepedulian terhadap rencana masa depan peserta didik, juga dimaksudkan untuk memberikan motivasi mengenai strategi dalam melangkah ke masa depan. Pertanyaan seperti ini, kadang memang divariasikan, misalnya dengan kalimat ‘mau kemana setelah lulus dari SMA?”
Dengan penuh semangat, dia menyebutkan ‘Jogja, mau ke UGM.” Ujarnya. Respon cepat, seolah tanpa harus memaksanya berfikir dua atau tiga kali. Pilihan ke Jogja itu, seolah menjadi impian yang menjadi harapannya setiap saat.
“mengapa harus
ke sana ?”, tanyaku lagi, ‘tidak di
Bandung saja, atau ke Jakarta?”
“Jogja itu, selain tidak panas seperti Jakarta, juga dikenal sebagai kota pendidikan. Suasana budaya masih kental, dan makanannya relative terjangkau oleh saku mahasiswa..” ujarnya lagi. Jawaban itu menggambarkan pemahaman yang kuat dan kental mengenai Kota yang sempat menjadi Ibu Kota Negara Republik Indonesia di masa perjuangan dulu (1946).
Selepas
menjelaskan hal itu, kemudian anak itu pun menuturkan mengenai
pengetahuan-pengetahuan kejogjakartaannya. Dia mengaku, bahwa pengetahuan
mengenai kejogjakartaan itu didapatnya dari saudara-saudara, atau mencari informasi
di dunia maya.
Ok. Mungkin kita pernah melihat, atau mendengar respon seperti itu. Respon yang cepat mengenai impian seseorang untuk bisa singgah, melancong, berwisata, belajar, atau beribadah ke sebuah tempat. Bahkan, kita mengatakan bahwa setiap orang diantara kita kiranya memiliki tempat-tempat impian yang ingin disinggahi dengan tujuan tertentu.
Hal menarik yang
perlu kita kemukakan di sini, tampak bahwa identias sebuah ruang, seperti Jogja sebagai kota pelajar atau kota budaya,
adalah daya tarik daerah bagi orang lain. Bali sebagai Pulau Dewata atau pulau seribu
pure adalah daya tarik wisatawan.
Orang luar Bandung, kiranya sudah mampu menebak bahwa Kota Bandung selain terkenal dengan peuyeum dan oncom (makanan khas Bandung), juga dikenal sebagai kota kuliner. Di kota sinilah, para pengunjung dapat menikmati ragam kuliner olahan penduduk Bandung.
Selain
kuliner, di Kota Bandung terdapat indikator-indikator
yang mampu mendukung sebagai Kota Kreatif versi UNESCO. Di tengah masyarakat Bandung, terdapat
keunggulan dalam bidang desain, musik, gastronomi atau kuliner, kerajinan,
literatur dan media teknologi. Komponen-komponen itu, memiliki kemampuan untuk
membentuk identitas baru bagi Bandung, selain sebagai Kota Kembang, juga
sebagai Kota Kreatif. Dengan adanya identitas-identitas ruang tersebut,
diharapkan, bukan saja mendorong penduduknya untuk berupaya menunjukkan
perilaku sesuai dengan identitasnya, tetapi juga akan mengundang ketertarikan
masyarakat luar untuk hadir di Kota Bandung.
Berdasarkan pertimbangan itu, dapat disederhanakan, bahwa identitas ruang merupakan modal dasar dalam pengembangan sebuah kota. Program ekonomi kreatif, program pengembangan kota, atau lebih luas lagi, program pembangunan kota, dapat dan perlu memperhatikan aspek identitas ruang. Karena sesungguhnya, selain sumberdaya alam, dan sumberdaya manusian, tetapi juga pada identitas ruang. Karena itu, dapat disimpulkan bahwa identitas ruang pada dasarnya adalah modal geografis (geographic capital) dalam konteks pembangunan daerah.
.jpg)
0 comments:
Posting Komentar