Adalah kenyataan bahwa hidup ini berproses. Itulah keyakinan yang kita miliki, dan itulah yang sedang terjadi saat ini. Setidaknya, perjalanan hidup yang kita alami saat ini, yaitu mulai dari bayi, anak-anak, remaja, dan dewasa sebagaimana yang kita rasakan saat ini, semua itu menunjukkan bahwa hidup ini adalah berproses. Berproses it uterus berubah, hanya saja perubahan itu tidak sama dan tidak merata. Di sinilah persoalan mulai muncul dan perlu disadari bersama.
Terrkait dengan hal ini, banyak orang yang hanya sekedar ‘tahu’ atau mengetahui bahwa hidup itu adalah berproses. Padahal, berbekal pengetahuan, belumlah cukup untuk menjadikan dirinya bisa hidup sukses dan atau bahagia. Banyak orang yang tahu, dan atau banyak pengetahuan tentang kebahagiaan dan cara-cara kesuksesan, tetapi dia belum merasakan kebahagiaan dan kesuksesan itu.
Tahu tentang arti dan cara hidup sukses atau cara hidup bahagia belumlah cukup untuk menjadikan kita bisa hidup bahagia. Dibutuhkan langkah lebih maju lagi, yaitu belajar bahagia dan belajar sukses.
Kebahagiaan dan kesuksesan itu adalah sesuatu yang bisa dipelajari, bisa diusahakan, dan bisa diwujudkan. Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan dalam diri kita. karena sesungguhnya rasa bahagia itu adalah rasa-manusai dan kemanusiaan. Rasa bahagia ini adalah hak manusia dan karakter asli kemanusiaan. Oleh karenanya, rasa bahagia pada adalah sesuatu yang bisa dipelajari dan diwujudkan oleh manusia itu sendiri.
Orang
yang sedang belajar adalah orang yang
ingin menguasai sebuah keterampilan, sehingga dirinya mampu melakukannya
sendiri. Belajar berhitung, belajar bernyanyi, belajar sepak bola, belajar
menulis dan lain sebagainya. Semua praktek belajar itu, adalah upaya sadar
manusia untuk menguasai sebuah keterampilan hidup. Sehingga pada akhirnya,
ujung dari orang yang belajar adalah mengetahui dan menguasai sebuah
keterampilan tertentu.
Tetapi, apakah orang yang sedang belajar mengenai kebahagiaan, dia bisa bahagia ? apakah orang yang mempelajari teori pacaran, dia punya pacar ? apakah orang yang belajar jadi orang kaya, dia sudah menjadi kaya ? sudah tentu, orang yang belajar itu adalah orang yang belum menguasai sesuatu, dan kemudian berhasrat besar untuk menguasainya.
Ini
adalah fakta. Saya tahu cara menulis. Saya tahu cara membaca. Kemudian saya pun
belajar menulis, dan saya bisa menulis. Saya pun belajar cara membaca, dan saya
hobi membaca. Tetapi, pertanyaan berikutnya adalah apakah saya sudah
mendapatkan kebahagiaan dari kebiasaan membaca dan menulis ini ? apakah hasrat
hidup optimal sudah diraihnya ?
Di posisi inilah, saya setuju dengan pandangan Thomas Leonard (2008) yang memberikan pandangan bahwa untuk meraih prestasi tertinggi, dan atau untuk mendapatkan sesuatu yang dicita-citakan, maka seluruh apa yang dilakukan itu harus memberikan pengaruh nyata pada perubahan diri. Artinya, kemampuan menulis, membaca, menyanyi, menggambar dan atau apapun keterampilan yang Anda pelajari, haruslah menjadi bagian penting yang mendorong perubahan berkelanjutan pada diri Anda sendiri.
Adalah
kurang bermanfaat, dan bermakna sangat minim, jika setiap yang Anda pelajari
adalah hanya sekedar berada di otak (hanya tahu), dan atau hanya trampil
melakukan (bisa karena belajar), tetapi belum menjadi bagian inherent atau jati
diri Anda sebagai individu. Ini menunjukkan bahwa baik material yang
dipelajari, dan atau rasa bahagia itu sendiri, masih merupakan sesuatu yang ada
di luar diri kita.
Pada bagian inilah, ada satu tahap kebutuhan dasar perjalanan manusia yang akan menjadikan dirinya menjadi seorang manusia berkualitas. Tahapan yang dimaksud, meminjam istilah Thomas Leonard (2008) yaitu berevolusi. Evolusikan diri kita, evolusikan pikiran kita, evolusikan rasa kita, evolusikan kualitas hidup kita, maka tahapan puncak prestasi akan dapat diwujudkan. Dengan evolusi itu, jarak kesuksesan semakin dekat dan semakin mudah untuk diwujudkan.
Mengapa
tidak revolusi ?
Sekedar sebuah pilihan. Bila mau dilakukan revolusi pun silahkan. Hanya saja, strategi revolusi itu, potensial melahirkan kekagetan rasa, kekagetan pikiran, kekagetan budaya, karena harus melakukan perubahan mendadak dan radikal. Bila tidak siap, pendekatan revolusi akan memakan korban, dan bila gagal akan menyebabkan kerusakan yang sangat parah.
Sedangkan
pendekatan evolusi, adalah perubahan nyata dan bertahap secara berkelanjutan.
Pada individu yang sedang mengalami perubahan pun tidak mengalami
kejutan-kejutan budaya, dan dia akan tetap berada pada proses transisi perubahan status. Namun
demikian, pandangan kita di sini, tidak
berarti saya anti terhadap konsep
revolusi. Bila revolusi itu dapat
dilakukan secara berkelanjutan, maka proses revolusi itu, saya ingin sebut pula
dengan evolusi. Dengan kata lain, maksud
dari istilah evolusi di sini adalah kemampuan individu untuk melakukan mutasi
secara berkelanjutan menuju tahapan-eksistensi-diri yang terbaik.
Kita tidak ingin, dan tidak bertujuan untuk menjadi manusia stagnan. Sekuat apapun diri kita, bila kita stagnan, dan tidak mampu bereaksi atau beradaptasi dengan lingkungan, maka kemusnahan akan menjadi hak dirinya. Dunia ini, sudah banyak diisi oleh contoh-contoh makhluk yang besar dan kuat, seperti yang terjadi zaman Dinosaurus, tetapi semua makhluk era itu musnah. Alam atau lingkungan menjadi selector yang menyebabkan makhluk-makhluk itu tidak bertahap hidup mengisi kehidupan di dunia ini. artinya, bila manusia pun tidak memiliki kemampuan beradaptasi dengan lingkungan dan atau merespon lingkungan secara positif, maka kemusnahan akan menjadi bagian asali hidupnya sendiri.
Terkait
dengan hal inilah, maka seseorang dikatakan bahagia atau sukses jika dia mampu mengisi waktu hidupnya dengan
penuh dinamis, dan senantiasa melakukan evolusi setiap saat. Setiap saat,
seluruh apa yang diketahui dan dipelajarinya, dijadikan sebagai bagian dari
kehidupannya untuk terus memperbaiki kualitas hidup. Benarlah kata pepatah,
Rasulullah Muhammad Saw bersabda, bahwa hari ini harus lebih baik dari hari
kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. ini adalah prinsip
dinamis dan sekaligus menunjukkan
evolusi kehidupan manusia yang sistematis dan berkelanjutan.
Selama ini, banyak orang memandang bahwa kebutuhan hidup itu adalah sekedar tahu atau mengetahui. Padahal, pengetahuan itu hanya berakhir di pikiran. Banyak orang yang memandang bahwa hidup adalah untuk belajar, padahal belajar itu berakhir pada rasa bisa.Maka dari itu, jadilah manusia evolutif yang setiap saatnya melakukan mutasi-kualitas menuju sebuah puncak kualitas yang didambakan.

0 comments:
Posting Komentar