Kejadiannya,
setahun yang lalu. Seorang alumni, dari sekolah kami. Sewaktu masih aktif di
sekolah, termasuk siswa kebanggaan.
Prestasi yang paling menonjolnya, adalah menjadikan dirinya siswa
berprestasi nasional, bidang akademik, dalam bidang Matematika. Peristiwa itu,
sangat membanggakan kami semua.
Selapas dari sekolah ini, dia melanjutkan pendidikan ke jurusan Komputer, Universitas Gajah Mada Jogjakarta. Karena kemampuan dasarnya, sudah mumpuni, dapat informasi, dia mampu menyelesaikannya dengan baik, sesuai waktu yang dibutuhkannya. Karena itu, kemudian dia pulang ke Bandung, dan silaturahmi ke sekolah, almamaternya ini.
Saya sendiri, tidak bertemu langsung. Alkisah, sang alumni ini, bertemu dengan sejumlah guru, khususnya guru Matematika yang menjadi mentor olimpiade. Sang Mentor itulah yang bertutur, ”masih sama, seperti dulu...” ungkapnya. Mendengar obrolan pembuka itu, yang lain, yang hadir dalam perbincangan di pagi itu, saat istirahat mengajar, serius bermaksud untuk menyimak penjelasannya.
”sewaktu kuliah, dosen pembimbingnya di buat pusing. Karya tulisnya, hebat, produknya dipuji, tapi presentasinya itu, yang membuat nilainya jeblok...!” ungkapnya. Informasi itu, kemudian dikaitkan pula, dengan pengalaman Mentor Matematika itu, saat mengajarinya matematika di kelas.
”seperti dulu itu, kalau, disuruh mengerjakan soal, dia bisa. Cepet, dan benar. Tapi, kalau disuruh menjelaskan ke teman-temannya, atau presentasi, hahhh, itulah kelemahannya...” ungkapnya lagi.
”tapi lulus ujiannya..?” yang lain bertanya.
”alhamdulillah, lulus..” jawabnya pendek, sambil menghela nafas, ”tapi masalahnya belum selesai..” tuturnya lagi.
”apa lagi..?”
”kemarin-kemarin itu, katanya, dia sudah mencoba melamar kerja ke beberapa perusahaan. Seperti biasa. Tes tulisnya, lulus, dengan nilai memuaskan. Namun, pas wawancara, dua kali atau tiga kali, dia gagal lagi...” kisahnya.
Mendengar kisah itulah, kami yang hadir merasakan atmosfer saat itu, dingin, dan membekukan darah. Diam sesaat. Terhenti beberapa waktu. Sedih dan kaget, bercampur dengan rasa kasihan. Mengapa hal itu terjadi, pada seorang alumnus yang sempat kami banggakan, dan menjadi salah satu bintang pelajar di sekolah kami.
”Itulah pengalaman hidup yang nyata, ril, dan faktual”, ungkap salah satu diantara kami, ”bahwa, pintar saja, tidak cukup, atau literat saja, jangan-jangan juga tidak cukup. Karena, untuk menunjang kesuksesan itu, perlu keterampilan komunikasi..”.
Bukan sekedar bisa berbahasa asing. Kalau sekedar membaca, bisa jadi, hanya mengantarkan kita pada lembar asesmen. Untuk bisa sukses dalam pekerjaan, karir atau kehidupan nyata, keterampilan berbicara, atau berkomunikasi, akan menjadi salah satu keterampilan sosial yang sangat menentukan.
Budaya anak GenZ saat ini, cenderung dimanjakan dengan media sosial. Medsos itu sendiri, memaksa seseorang duduk terpaku, dan terpangu didepan monitor. Tidak salah bila kemudian ada orang menyebut bahwa GenZ itu adalah homo-monitoris, tiap saat, dan tiap detik berhadapan dan butuh monitor. Sementara, keterampilan komunikasi, atau keterampilan geraknya, sangat terbatas.
Tidak dinafikan, saat bermedia sosial pun, ada komunikasi. Komunikasi lisan, atau tulisan, tetapi intensitas dan frekuensinya sangat minim, dan terbatas. Dampaknya, dapat kita perhatikan bersama di ruang kelas, atau di rumah ?!
Sehubungan
hal inilah, seiring dengan kebijakan penguatan literasi dan numerasi di lembaga
pendidikan saat ini, tampaknya pembudayaan literasi saja tidak cukup, dan kita
perlu, serta butuh melakukan pembiasaan komunikasi
Bicara ! dan Berbicara !
Bukan sekedar untuk membangun keberanian berpendapat, dan menyampaikan pesan, tetapi latihan keterampilan komunikasi, yang diharapkan jadi penggenap keterampilan sosial di era global !

0 comments:
Posting Komentar