Just another free Blogger theme

Sabtu, 14 Februari 2026

Yasraf Amir Pillianh, dalam karya terbarunya (2020), melihat ada satu gejala unik di era modern ini. Manusia, sudah ada yang terjebak pada nilai-nilai di  luar kemanusiaan, dan bahkan cenderung mirip hewan, yang disebutnya animalitas. Karakter hewan itu, yakni mendahulukan kebutuhan biologis, serakah, dan juga kerap kali memakan sesuatu tanpa kontrol rasional.
 


Dalam konteks itu, ada hal yang menarik dalam Islam. Dalam konteks ini, kita menemukan ada indikasi teologis yang merujuk pada sikap animalitas. Ada ilustrasi menarik,  terkait dengan animalitas. Ilustrasi ini, dapat ditemukan dari firman Allah Swt di Kitab Suci Al-Qur’an. Penulis menemukannya 2 ayat, pada dua surat yang berbeda. 
Pertama, pada Qs. Al-A'raf/7:179, dengan bunyi teks :

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ ١٧٩ ( الاعراف/7: 179)

Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan banyak dari kalangan jin dan manusia untuk (masuk neraka) Jahanam (karena kesesatan mereka). Mereka memiliki hati yang tidak mereka pergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan memiliki mata yang tidak mereka pergunakan untuk melihat (ayat-ayat Allah), serta memiliki telinga yang tidak mereka pergunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.  (Al-A'raf/7:179).

Kemudian, di ayat 44 surat al-Furqan, adalah dengan narasi yang lebih pendek, yaitu :

اَمْ تَحْسَبُ اَنَّ اَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُوْنَ اَوْ يَعْقِلُوْنَۗ اِنْ هُمْ اِلَّا كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ سَبِيْلًا ࣖ ٤٤ ( الفرقان/25: 44)

Atau, apakah engkau mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? Mereka tidak lain hanyalah seperti hewan ternak. Bahkan, mereka lebih sesat jalannya.  (Al-Furqan/25:44)

Merujuk pada dua ayat tersebut, kita mendapatkan inspirasi pandangan transformasi manusia dan kemanusiaan yang berbeda dengan pemahaman selama ini.

Pada pemahaman kita selama ini, khususunya dari pemikiran yang berakar dari Yunani, manusia kerap kali diposisikan sebagai makhluk dalam posisi puncak evolusi. Setidaknya demikianlah, sampai abad XXI ini. Sehingga dengan demikian,  identitas manusia kerap kali disebut sebagai makhluk lanjutan dari proses evolusi hewan (animal). Rasionalisasi dari pandangan ini, kemudian manusia disebut hewan rasional (animal rational), hewan yang menggunakan symbol (animal symbolicum), atau dalam literasi Muslim disebut hayawanun nathiq (hewan yang berakal).

Bila kembali mencermati firman Allah Swt itu, kualitas dan derajat manusia itu potensial turun menjadi makhluk yang  lebih rendah lagi, yakni berposisi sebagai hewan, bahkan lebih sesat dari itu semua. Dalam konteks ini, pemahaman umum tidaklah merujuk pada proses evolusi fisik, melainkan evolusi-psikologis atau spiritual. Artinya, manusia yang tidak mampu menjaga marwah kemanusiaannya, akan terjerumus pada derajat hewan.

Apa factor utama menurunnya Marwah kemanusiaan menjadi Marwah hewan ?

Ilustrasi yang disajikan dalam dua ayat al-Qur’an tadi, yaitu merujuk pada ketidakberfungsiannya potensi-potensi kemanusiaan. Potensi kemanusiaan yang dimaksud itu, adalah potensi pengamatan, penyimakan dan penghayatan. Hilangnya potensi kemanusiaan itulah, maka manusia dapat jatuh ke derajat hewan, yang kemudian melahirkan manusia dengan perilaku kehewanan, atau animalitas atau binatangisme.

bagaimana prakteknya, dan buktinya ? kita cermai bersama dalam kehidupan harian kita....

Categories: ,


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar