”Kalau sudah percaya, percayakan saja. Ini adalah masalah ketauhidan, dan ini adalah ma’rifatnya ilmu.”. Haji Acep membuka tema baru.
”Kang Haji, ilmu ma’rifat itu, memang ada dalam masalah pompa air..?” mencoba menggoda. Dalam pikiran ini, ada kejailan yang muncul, dengan harapan, dia bisa menunjukkan penjelasan yang sederhana, dan mudah dipahami, dengan harapan bisa dijelaskan dalam konteks kehidupan sehari-hari.
”tentu saja...” jawabnya singkat, dan tampak sangat yakin. ”bukankah tadi kita sudah cerita, kalau Bapak percaya ke saya, bisa membetulkan masalah pompa air, serahkan saja, jangan ragu. Bagaimana, bapak percaya, gak?”
Mendengar pertanyaan itu, saya mencoba menganggukkan kepala, tanda setuju sekaligus mempercayainya untuk bisa menyelesaikan masalah pompa air yang kami miliki saat ini. Dengan sikapku seperti itu, menyebabkan dia nyerocos lagi, dengan mengatakan, ”bagaimana Bapak bisa percaya? Apa alasannya ?”
Selanjutnya
Haji Acep menerangkan. Sikap dan perilaku yang saya tunjukkan itu, sesungguhnya
adalah sikap dan perilaku dari kebanyakan umat
beragama. Percaya dan mempercayai sesuatu, dari sebuah berita atau
pernyataan. Padahal, dia sendiri tidak pernah melihat prakteknya, dan atau
tidak pernah mendapatkan bukti pendukung lainnya.
Lha, jadi harus bagaimana ? bukankah, memang demikian adanya ? saya harus mempercayai seorang tukang, yang diharapkan bisa menyelesaikan masalah pompa air ini ?
Dari
persoalan inilah, kemudian dia mencoba masuk ke wilayah pembahasan teoritis,
dan praktis, terkait dengan masalah keagamaan. Melalui lisannya itulah, dan
kemudian sambil menyelesaikan pekerjaan yang ada dihadapannya itu, dia
memberika keterangan. Saya pun, kembali bersedia menjadi pendengarnya.
Pada tahapan pertama, setiap konsumen atau costumer, khususnya yang dia hadapi, harus paham dulu pengetahuan dasar. Pengetahuan dasar kita ini, bersumber dari informasi, baik itu informasi orang yang dipercaya, maupun informasi yang disampaikan orang yang akan dipercaya itu.
Mungkin
pada mulanya, ”bapak mempercayai saya, karena
ada informasi, bahwa saya bisa melakukannya, kan ?” dia balik nanya.
Seperti biasa, dengan sekali anggukan saja, dia sudah bisa memahami dan
melanjutkan obrolannya itu. ”itu artinya, bapak percaya karena
penjelasan....”ungkapnya, ”tidak masalah. Jenis itu, masuk dalam jenis,
syariat. Syariatnya, bapak mempercayai seseorang, berdasarkan informasi atau
pengetahuan. Inilah pengetahuan awal, atau pengetahuan dasar manusia dalam
memiliki sebuah keyakinan.
Pengetahuan dasar itu, terkait dengan wawasan dan pengalaman hidup, dari seorang penjual jasa. Karena sesungguhnya, pengetahuan, penjelasan, dan pengalaman hidup, adalah syari’at dalam melaksanakan tugas sebagai penjual jasa servis. Maka karena itu, syari’at itu, biasanya dibentuk dalam wujud hukum, dalil atau aturan.
”saya
sekarang ingin sampaikan, jika air tidak naik, atau pompa air tidak bisa
mendorong air naik ke torn, itu menunjukkan ada masalah pada pipa, atau bocoran
udara pada mesinnya”. Itu adalah aturan, atau hukum, atau dalil. Pernyataan
serupa ini, adalah bentuk syari’at, atau aturan formal.
Lha, pengetahuan syari’at itu, bisa dipelajari, dan bisa dibaca. Banyak orang yang bisa melakukan hal ini. Kita akan dapat dengan mudah menemukan dalil, atau hukum kehidupan. Apalahi, Cuma dalil masalah pompa air.
Tetapi,
dengan memberikan penjelasan mengenai kemungkinan-kemungkinan masalah yang
dihadapi itu, belum tentu, masalah pompa air ini, dapat kembali normal.
”Buktinya ? si bapak yang tadi bapak suruh itu, ternyata belum bisa
menyelesaikan masalah pompa yang bapak punya, sehingga malah memanggil saya
untuk bisa menyelesaikan masalahnya !”, tegasnya, sambil melirik seseorang yang ada di samping saya, yang
memang sedari pagi, diberi tugas menyelesaikan pompa air, namun belum berhasil.
Maka solusinya, menurut Haji Acep, kepercayaan Bapak kepada saya itu, akan diuji dari ilmu thariqat. Dalam bahasa Melayu, tarekah atau ikhtiar atau cara. Artinya, bukan hanya teori. Seseorang yang melakukan perjalanan spiritual, akan dituntut melakukan aktivitas praktis yang selaras dengan pengetahuan yang dimilikinya. Itulah thariqah.
Setiap
target, cita, harapan, atau visi dan misi, adalah rumusan konseptual. Untuk
bisa mencapai hal itu, maka dibutuhkan keterampilan praktis, atau tarekah
nyata, atau ikhtiar nyata untuk mewujudkannya. Thariqah itu, ibarah cara atau
jalannya praktisnya. Dia pun menerangkan, dalam kehidupan beragama, banyak
thariqah yang dilakukan para ulama. Thariqah dalam Islam itu sangat kaya, dan
melimpah. Tetapi, menurut Haji Acep, setiap orang, bisa melakukan thariqahnya
sendiri, sesuai dengan level spiritual yang dimilikinya.
”bila saja, Bapak sudah bisa melihat thariqah yang dilakukan, dan itu adalah benar mengarah pada tujuan..., maka tingkat kepercayaan bapak lebih baik dari sebelumnya..” ungkapnya. Kepercayaan pada level ini, bukan sekedar percaya terhadap kata-kata, tetapi percaya pula pada cara yang dilakukannya, yang bisa menyakinkan, bisa menyebabkan pompa air itu, jalan kembali.
Dalam
kehidupan ini, banyak hal yang bisa diucapkan, dan bahkan sangat muda
diucapkan. Tetapi, jangan langsung percaya dengan ucapan itu, sebelum orang itu
mampu melakukannya. Kalau yang dilakukannya itu, tidak sesuai, berarti salah
melakukannya, atau salah pengetahuannya.
”sekarang perhatikan sama Bapak, saya sudah memeriksa dan membetulkan beberapa hal dari sumur pompa ini. Mari kita cek !”. ungkapnya. ”nanti, kita akan coba, nyalakan listriknya...”.
Sebelum
sampai pada tahapan terakhir itu, kembali dia bertanya. ”tadi, masih ingat,
terkait dugaan penyebab pompa air ini ?”, ditanya demikian, saya menganggukkan
kepala, ”dan Bapak, sudah lihat, perbaikan yang dilakukannya, sesuai dengan
masalah yang sudah disampaikan sebelumnya ?”, pun demikian, saya pun,
menganggukkan kepala.
”kalau bapak sudah yakin, semua itu, berarti bapak sudah sampai pada level hakikat. Hakikat masalah. Atau haqqul yain”. Katanya, sambil kemudian menyalakan saklar listrik, dan ternyata, byuuuuur, air pun, keluar dari pompa air tersebut.
Alhamdulillah.
”bagaimana Pak. Percaya, gak ?”. sekali lagi, dan bahkan berulang kali, saya
menganggukkan kepala sebagai bentuk persetujuan, sekaligus sikap percaya pada
ucapannya itu. ”dilevel inilah, kita sudah sampai pada level ma’rifat
terkait masalah kesumurpompaan..”
Mendengar penjelasan itu, saya hanya terdiam, dan memujinya sebagai bentuk pengetahuan dan penghayatan yang mendalam. Tanpa ada dalil yang disebutkan satu pun, namun, dengan kesadaran dan keyakinan yang dimilikinya, dia mampu memberikan keterangan praktis dalam kehidupan ini.
Menurut
pengakuannya itu, pengetahuan agama itu, mulai dari syari’at, thariqat, hakikat
dan ma’rifat, harus menjadi pengetahuan praktis seorang muslim. Dalam konteks kehidupan apapun, dan
dimanapun, saat menjalankan sesuatu apapun, hendaknya sampai pada level
kema’rifatan.
Memang ada
masalah kalau tidak sampai pada level itu ?
Gejala yang tampak dalam kehidupan sehari-hari, seperti halnya, ada orang yang mudah didoktrin, atau fanatik buta, atau bentrok antar mazhab, pada dasarnya, bisa disebabkan karena pemahamannya hanya sampai pada masalah syari’at atau thariqah saja. Sehingga, untuk menyelesaikan masalah pompa air, bisa jadi, karena berbeda cara, kita langsung saling salah menyalahkan. Karena berbeda cara menjelaskan, kemudian sudah saling mengafirkan. Karena berbeda pengetahuan, sudah saling menyalahkan orang lain, sebagai orang yang tidak tahu ilmu agama.

0 comments:
Posting Komentar