Just another free Blogger theme

Jumat, 15 Mei 2026

Dengan tegas, kita menyatakan, “inilah aku..”. Bahkan, saat berhadapan dengan orang lain, khususnya ketika ada sesuatu yang dipersepsi merugikan, atau merendahkannya, langsung mengatakan, “aku tersinggung”, atau “saya malu…”, atau “saya membela diri…”. Bahkan, ada kalimat-kalimat lain, yang mempertunjukkan kesadaran terhadap dirinya. Keakuan dirinya. Inilah aku. Begitulah, pernyataan-pernyataan yang menunjukkan pengakuan akan ke-Aku-annya. Melalui pernyatan keakuannya itu pula, ada kesan bahwa dirinya sedang sadar dan menyadari kediriannya.



Kesadaran diri dapat dijadikan sebagai pemahaman, adanya pijakan mula untuk melanjutkan evolusi kesadaran seseorang.  Bentuk ekspresid dari kesadaran ini, setidaknya dimunculkan dalam sikap, ucap dan tindakan. Selanjutnya, selepas ada kesadaran ini, tidak sedikit orang yang menunjukkan bahwa dirinya sedang dan tengah mengalami evolusi kesadaran.

Namun demikian, kita perlu bersikap kritis, setidaknya, kita perlu menunjukkan sikap, apakah gejala serupa ini, dapat dimaknai sebagai sebuah evolusi kesadaran ? andai hendak dimaksudkan sebagai sebuah evolusi kesadaran diri, lantas, apa makna dan indikasi ril dari klaim-klaim serupa itu ?

Bila kita berjalan ke luar rumah, dan kemudian menyusuri sungai di  sekitar kampung kita. Bisa jadi, kita melihat ada kincir air. Kincir Air itu bergerak dan berputar-putar. Kincir bergerak seharian, bahkan berhari-hari. Sudah berapa liter air, atau berapa kubik air sungai digerakkan dan dipindahkan, dari tubuh sungai ke saluran sawah yang sudah dipersiapkan petani. 

Di tempat lain, ada pula pula kincir air, yang digunakan sebagai alat penggerak dinamo, sehingga melahirkan energi listrik. Listrik yang didapatkannya pun, kemudian dimanfaatkan warga untuk penerangan di kampungnya.

Terkait hal ini, kita melihat ada kincir yang bergerak. tetapi, pernahkah melihat, gerak kincir itu kemudian menyebabkan ukuran kincir menjadi kian membesar, atau posisi kincir berubah tempat ? Jawaban kita semua pasti sama, “tidak pernah ada”. walaupun, kincir itu bergerak, namun tidak pernah ada perubahan posisi dan ukuran. 

Melihat keadaan ini, kadang berpikir. Akankah kita  merasa bangga, atau akankah kita menyadari bahwa selama ini, kita hanya mampu menggerakkan orang, menghantarkan orang, atau memberdayakan orang lain menuju kualitas hidup yang lebih baik, sementara posisi kita,  masih tetap begini adanya ?

Betul. Indonesia sudah mampu, memajukan Belanda, saat menjajah kita, dan menjadikan ekonomi negara kompeni itu, sebagiannya adalah ditopang sumberdaya alam Indonesia. Indonesia sudah mampu memajukan negara Jepang, karena di era imperialisasinya, sebagian kekayaan alamnya ditopang kekayaan alam Indonesia. Indonesia sudah mampu mengayakan negara China, Amerika Serikat dan atau negara lainnya, dengan memfasilitasnya untuk menambangkan sejumlah kekayaan alam di negeri kita. Sayangnya, Indonesia sendiri sekedar kincir air, menggerakkan ekonomi orang lain, dan dia sendiri lelah bahkan sampai rusak aus, masih tetap di tempat, tak ada perubahan apapun.

Bila masih ada waktu, kita pun dapat  berjalan ke terminal bis kota, atau terminak angkutan desa. Perhatikan dengan seksama, seorang calo kendaraan. Mereka dengan semangat dan penuh gairah, menggunakan suara lantangnya untuk menginformasikan dan mengajak para pendatang untuk memilih kendaraan yang dimaksud, untuk mencapai tujuannya. Kita semau tahu, dari pagi sampai sore, atau dari hari pertama sampai hari itu, sudah berapa orang yang diberitahu dan dibantu sang calo di terminal untuk sampai ke tujuannya.

Persoalannya adalah, ’sudah sampai manakah perjalanan sang Calo itu sendiri ?” apakah dia mengalami perubahan tempat, status, nasib atau takdirnya ? bisa jadi, iya, dia mengatakan, tujuan hidupnya adalah memberi informasi kepada penumpang untuk sampai ke tujuan. Dan hal itu sudah berhasil. Sekali lagi, bila tujuannya sependek itu, maka evolusi kemanusiaannya pun, dapat disebutnya sependek itu.  Nyari bisa dikatakan, petunjuk yang dia berikan, jalan hidup yang dia pahami, ragam kota tujuan yang dimiliki, tidak menyebabkan dirinya bisa berkembang lebih luas dan lebih jauh.  Sudah banyak orang dia tolong untuk bisa melakukan perjalanan jauh, atau mencapai tujuan perjalanannya, namun sang calo masih tetap ada di posisi semula. Di terminal !

Bila dikaitkan dengan wacana yang kita sampaikan di sini, jangan-jangan serupa itulah, yang disebut dengan involusi kesadaran. Kita merasakan, seakan ada perubahan kesadaran, padahal perubahannya tidak signifikan, atau tidak berarti  banyak untuk disebut sebagai perubahan. Berubah iya, tetapi tidak banyak yang berubah, atau  tidak ada perubahan yang mengganti ukuran dan posisi. 

Seperti sebuah kincir air tadi.  Bergerak iya, tetapi hanya bisa menggerakkan orang, untuk bisa melanjutkan perjalanan air pada tujuan yang dimaksudkan. Seperti calo di terminal, dia berubah lokasi, tetapi tidak mengubahnya secara revolusioner, namun sekedar bergerak dalam radius takdirnya yang sudah dimiliki. Hanya bergerak ke WC, ke kantor, bergerak di antar bis, dan lain sebagaimya, namun tetap ada di koridor terminal itu sendiri.

Pun demikian adanya, terkait perkembangan demokratisasi di negeri  kita. Dalam benak sebagian orang, merasa dan mengklaim bahwa proses demokrasi kita sudah baik, dan mengarah pada kematangan demokrasi. Sementara, satu kelompok lain, menilainya proses politik yang kita lakukan ini, malah mendemonstrasikan gejala involusi demokratisasi.

Sudah berulang kali pemilihan umum dilaksanakan. Urusan dari pemilu ke pemilu masih tetap sama. Dugaan kecurangan di pihak panitia, teror dari penguasa, money politics, mobilisasi struktur, dan kampanye hitam kepada lawan politik. Ide dan kebiasaan itu, rasanya sudah menjadi berita lima tahunan, dan terus berulang-ulang. padahal, dalam lisan kita, meyakini bahwa demokrasi kita sudah berevolusi ke arah yang lebih baik. 

Jelang 30 tahun lamanya, reformasi nasional kita jalani bersama. Persoalan kebangsaan kita, masih berkutat dalam  narasi yang sama. Masalah korupsi,  kesenjangan sosial, kesenjangan ekonomi, keterpurukan rupiah, perimbangan pengelolaan barang tambang, intrik dan konflik sosial, serta perebutan kekuasaan di elit nasional. Masalah-masalah itu, rasanya tidak beranjak dari rumusan masalah yang pernah dibicarakan sebelum 1998.

Bila mahasiswa di kampus menggunakan model Skripsi. Maka rumusan masalah, pada masa lalu itu, sama saja.  Entahlah rumusan masalah itu, apakah hari ini, sudah diposisikan sebagai  rumusan masalah skripsi, tesis atau disertasi. Tidak mau tahu. Tetapi, kendati sudah dijadikan rumusan masalah dalam berbagai level keilmihan karya di dunia kampus, namun menunjukkan bahwa  karya ilmiah dan karya politik yang sudah pernah dilakukan itu,  masih juga  tetap, tidak memberikan dampak postif terhadap kondisi kebangsaan.

Kita adalah bangsa yang besar, paham akan sejarah, dan paham akan masalah. Lebih luar biasanya lagi, masalah sudah bisa dirumuskan secara tepat dan berulang dilakukannya. Namun, setiap ide dan usulan pemecahan masalah itu, ternyata tidak mampu menyelesaikan masalah dan sekedar menjadi sebuah kata-kata di atas kertas, yang hampir dilupakan orang lain, dan bahkan oleh si penulisnya sendiri.


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar