Dengan tegas, kita menyatakan, “inilah aku..”. Bahkan, saat berhadapan dengan orang lain, khususnya ketika ada sesuatu yang dipersepsi merugikan, atau merendahkannya, langsung mengatakan, “aku tersinggung”, atau “saya malu…”, atau “saya membela diri…”. Bahkan, ada kalimat-kalimat lain, yang mempertunjukkan kesadaran terhadap dirinya. Keakuan dirinya. Inilah aku. Begitulah, pernyataan-pernyataan yang menunjukkan pengakuan akan ke-Aku-annya. Melalui pernyatan keakuannya itu pula, ada kesan bahwa dirinya sedang sadar dan menyadari kediriannya.
Namun demikian, kita perlu bersikap kritis, setidaknya, kita perlu menunjukkan sikap, apakah gejala serupa ini, dapat dimaknai sebagai sebuah evolusi kesadaran ? andai hendak dimaksudkan sebagai sebuah evolusi kesadaran diri, lantas, apa makna dan indikasi ril dari klaim-klaim serupa itu ?
Bila kita
berjalan ke luar rumah, dan kemudian menyusuri sungai di sekitar kampung
kita. Bisa jadi, kita melihat ada kincir air. Kincir Air itu bergerak dan
berputar-putar. Kincir bergerak seharian, bahkan berhari-hari. Sudah berapa
liter air, atau berapa kubik air sungai digerakkan dan dipindahkan, dari tubuh
sungai ke saluran sawah yang sudah dipersiapkan petani.
Di tempat lain, ada pula pula kincir air, yang digunakan sebagai alat penggerak dinamo, sehingga melahirkan energi listrik. Listrik yang didapatkannya pun, kemudian dimanfaatkan warga untuk penerangan di kampungnya.
Terkait hal
ini, kita melihat ada kincir yang bergerak. tetapi, pernahkah melihat, gerak
kincir itu kemudian menyebabkan ukuran kincir menjadi kian membesar, atau
posisi kincir berubah tempat ? Jawaban kita semua pasti sama, “tidak pernah
ada”. walaupun, kincir itu bergerak, namun tidak pernah ada perubahan posisi
dan ukuran.
Melihat keadaan ini, kadang berpikir. Akankah kita merasa bangga, atau akankah kita menyadari bahwa selama ini, kita hanya mampu menggerakkan orang, menghantarkan orang, atau memberdayakan orang lain menuju kualitas hidup yang lebih baik, sementara posisi kita, masih tetap begini adanya ?
Betul.
Indonesia sudah mampu, memajukan Belanda, saat menjajah kita, dan menjadikan
ekonomi negara kompeni itu, sebagiannya adalah ditopang sumberdaya alam
Indonesia. Indonesia sudah mampu memajukan negara Jepang, karena di era
imperialisasinya, sebagian kekayaan alamnya ditopang kekayaan alam Indonesia. Indonesia
sudah mampu mengayakan negara China, Amerika Serikat dan atau negara lainnya,
dengan memfasilitasnya untuk menambangkan sejumlah kekayaan alam di negeri
kita. Sayangnya, Indonesia sendiri sekedar kincir air, menggerakkan ekonomi
orang lain, dan dia sendiri lelah bahkan sampai rusak aus, masih tetap di
tempat, tak ada perubahan apapun.
Bila masih ada waktu, kita pun dapat berjalan ke terminal bis kota, atau terminak angkutan desa. Perhatikan dengan seksama, seorang calo kendaraan. Mereka dengan semangat dan penuh gairah, menggunakan suara lantangnya untuk menginformasikan dan mengajak para pendatang untuk memilih kendaraan yang dimaksud, untuk mencapai tujuannya. Kita semau tahu, dari pagi sampai sore, atau dari hari pertama sampai hari itu, sudah berapa orang yang diberitahu dan dibantu sang calo di terminal untuk sampai ke tujuannya.
Persoalannya
adalah, ’sudah sampai manakah perjalanan sang Calo itu sendiri ?” apakah dia
mengalami perubahan tempat, status, nasib atau takdirnya ? bisa jadi, iya, dia
mengatakan, tujuan hidupnya adalah memberi informasi kepada penumpang untuk
sampai ke tujuan. Dan hal itu sudah berhasil. Sekali lagi, bila tujuannya
sependek itu, maka evolusi kemanusiaannya pun, dapat disebutnya sependek itu. Nyari bisa dikatakan, petunjuk yang dia
berikan, jalan hidup yang dia pahami, ragam kota tujuan yang dimiliki, tidak
menyebabkan dirinya bisa berkembang lebih luas dan lebih jauh. Sudah banyak orang dia tolong untuk bisa
melakukan perjalanan jauh, atau mencapai tujuan perjalanannya, namun sang calo
masih tetap ada di posisi semula. Di terminal !
Bila dikaitkan dengan wacana yang kita sampaikan di sini, jangan-jangan serupa itulah, yang disebut dengan involusi kesadaran. Kita merasakan, seakan ada perubahan kesadaran, padahal perubahannya tidak signifikan, atau tidak berarti banyak untuk disebut sebagai perubahan. Berubah iya, tetapi tidak banyak yang berubah, atau tidak ada perubahan yang mengganti ukuran dan posisi.
Seperti
sebuah kincir air tadi. Bergerak iya,
tetapi hanya bisa menggerakkan orang, untuk bisa melanjutkan perjalanan air
pada tujuan yang dimaksudkan. Seperti calo di terminal, dia berubah lokasi,
tetapi tidak mengubahnya secara revolusioner, namun sekedar bergerak dalam
radius takdirnya yang sudah dimiliki. Hanya bergerak ke WC, ke kantor, bergerak
di antar bis, dan lain sebagaimya, namun tetap ada di koridor terminal itu
sendiri.
Pun demikian adanya, terkait perkembangan demokratisasi di negeri kita. Dalam benak sebagian orang, merasa dan mengklaim bahwa proses demokrasi kita sudah baik, dan mengarah pada kematangan demokrasi. Sementara, satu kelompok lain, menilainya proses politik yang kita lakukan ini, malah mendemonstrasikan gejala involusi demokratisasi.
Sudah
berulang kali pemilihan umum dilaksanakan. Urusan dari pemilu ke pemilu masih
tetap sama. Dugaan kecurangan di pihak panitia, teror dari penguasa, money
politics, mobilisasi struktur, dan kampanye hitam kepada lawan politik. Ide dan
kebiasaan itu, rasanya sudah menjadi berita lima tahunan, dan terus
berulang-ulang. padahal, dalam lisan kita, meyakini bahwa demokrasi kita sudah
berevolusi ke arah yang lebih baik.
Jelang 30 tahun lamanya, reformasi nasional kita jalani bersama. Persoalan kebangsaan kita, masih berkutat dalam narasi yang sama. Masalah korupsi, kesenjangan sosial, kesenjangan ekonomi, keterpurukan rupiah, perimbangan pengelolaan barang tambang, intrik dan konflik sosial, serta perebutan kekuasaan di elit nasional. Masalah-masalah itu, rasanya tidak beranjak dari rumusan masalah yang pernah dibicarakan sebelum 1998.
Bila
mahasiswa di kampus menggunakan model Skripsi. Maka rumusan masalah, pada masa
lalu itu, sama saja. Entahlah rumusan
masalah itu, apakah hari ini, sudah diposisikan sebagai rumusan masalah skripsi, tesis atau
disertasi. Tidak mau tahu. Tetapi, kendati sudah dijadikan rumusan masalah
dalam berbagai level keilmihan karya di dunia kampus, namun menunjukkan
bahwa karya ilmiah dan karya politik
yang sudah pernah dilakukan itu, masih
juga tetap, tidak memberikan dampak
postif terhadap kondisi kebangsaan.
Kita adalah bangsa yang besar, paham akan sejarah, dan paham akan masalah. Lebih luar biasanya lagi, masalah sudah bisa dirumuskan secara tepat dan berulang dilakukannya. Namun, setiap ide dan usulan pemecahan masalah itu, ternyata tidak mampu menyelesaikan masalah dan sekedar menjadi sebuah kata-kata di atas kertas, yang hampir dilupakan orang lain, dan bahkan oleh si penulisnya sendiri.

0 comments:
Posting Komentar