Just another free Blogger theme

Sabtu, 23 Maret 2024

Ramadhan masih terus berjalan. Setiap muslim, masih tetap teguh, konsisten atau komitmen untuk menjalani ibadah shaum di bulan Suci Ramadhan tahun ini. Setidaknya, itulah yang kita rasakan, di anggota  keluarga kita.

O, iya, mungkin, ada satu atau dua orang yang sudah mulai berguguran. Berguguran dalam pengertian karena hukum alam, atau seleksi alam. Di sebut hukum alam, karena kaum ibu atau perempuan ada yang menjalani siklus biologis bulanannya, menstruasi, yang  menjadi alasan-hukum untuk tidak menjalani shaum Ramadhan. Sementara, ada pula yang sebagian lagi, karena seleksi alam. Mulai lesu, lemah, dan atau tidak bergairah lagi dalam mengisi ramadhan, sehingga banyak yang bocor di tengah jalan.

Bila hal ini dikaitkan dengan teori psikologi modern, khususnya dari teori James Clear tentang teori Atomic Habits, praktek ibadah shaum Ramadhan ini adalah bagian penting dari membangun kebiasaan dan pembiasaan. Ramadhan, secara sistematik dan massif melakukan rekondisi terhadap karakter manusia selama 1 bulan penuh. 

Teori Qur'annya, pembiasaan selama satu bulan penuh ini, diharapkan mampu mengubah karakter manusia menuju pribadi yang mulia, atau berkarakter takwa. Itu targetnya. Model dan teknik pencapaiannya, adalah dengan melakukan pembiasaan, baik dari sisi konsumsi, budaya literasi, pembiasaan ibadah, dan gaya hidup. Terdapat cukup banyak sisi kehidupan manusia muslim, selama Ramadhan direkondisi.

Penyadaran mengenai rekondisi ini, secara berkelanjutan disampaikan oleh banyak orang, khususnya oleh para pengkhotbah di forum-forum Ramadhan, seperti kultum, tabligh akbar, kuliah tarawih dan lain sebagainya. Bahkan, kegiatan Pesantern Kilat atau Pesantren Ramadhan, adalah sebutan-sebutan lain untuk menjelaskan mengenai usaha sadar berkelanjutan dan sistematik dalam melakukan rekondisi psikologi, pikiran, perasaan dan kelakuan seorang muslim di bulan suci Ramadhan.

Meminjam teori dari James Clear tentang atomic Habits  itu, sejatinya, perubahan kecil hari ini, bila dilakukan secara berkelanjutan, dapat memberikan stimulasi perubahan besar pada tahap selanjutnya.  

Terkait  hal ini, Islam memberi keterangan melalui lisan Rasulullah Muhammad saw, kalau saja, seorang muslim berpuasa, dengan penuh keikhlasan dan keseriusan, insya Allah, Allah Swt akan mengampuni dosa masa lalunya. Manfaat lanjutannya, dengan puasa yang baik itu, seseoramng akan mampu meraih derajat taqwa. Hal ini secara tidak langsung, secara bertahapan dan berkelanjutan, pembiasana kecil yang baik hari ini, diharapkan mampu melahirkan sesuatu yang baik di masa yang akan datang. 

Pengalaman dari tahun-tahun sebelumnya, efektivitas program rekondisi kelakuan ini, tetap kembali ke dalam tiga peta out put. 

Kelompok pertama, kelompok yang tidak mengalami perubahan, karena tidak mengikuti therapi rekondisi Ramadhan. Sehari dua hari ikutan shaum Ramadhan, tetapi setelah itu melepaskan diri dari program therapi Rekondisi Ramadhan.  

Kelompok kedua, ada yang yang mengalami therapi rekondisi Ramadhan secara penuh, namun tidak memiliki upaya teknis pemeliharaannya secara berkelanjutan, sehingga pada beberapa bulan selepas ramadhan, ada yang kembali lagi menjadi pribadi yang 'asli' seperti sebelum Ramadhan. 

Ketiga, ada pribadi yang mengalami perubahan nyata setelah menjalani proses therapi Ramadhan. Bila menggunakn kurva normal, bisa jadi kelompok pertama, dan kelompok terakhir ini, diduga memiliki jumlahnya relatif paling kecil dibanding dengan kelompok kedua.

Semoga kita, berada pada kelompok kedua !

Categories: ,


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar