Just another free Blogger theme

Minggu, 31 Maret 2024

"luar biasa".  Ungkapan ini, rasanya perlu disampaikan. Sebuah pengakuan dari diri sendiri, terhadap seseorang yang selama ini, dianggap biasa saja. Membaca al-Qur'an tidak istimewa, penampilan standar, gaya hidup sederhana, dan pekerjaan tidak menggiurkan  banyak orang. Kehidupan sehari-harinya, normal, sama dengan yang lain, pada umumnya.


Lantas, mengapa, saya harus mengatakan luar biasa ? 

Inilah soalannya.

Selama ini. Orang yang tampil di mimbar keagamaan, khususnya khutbah tarawih itu adalah ustadz, atau yang dianggap ustadz, atau yang dipaksa seperti ustadz. Apapun istilahnya, orang yang tampil di mimbar itu, pastinya adalah orang yang dipersepsi sejumlah orang sebagai orang yang mampu berbicara masalah agama, dan keagamaan, serta pandangannya patut untuk didengarkan.

Hal ini berbeda dengan orang yang satu ini. Profilnya seperti yang tadi sudah disebutkan. Dalam kesehariannya, rasanya, lebih banyak guyonnya, daripada seriusnya. Sehingga, bisa jadi, sebagian besar diantara kami, khususnya saya sendiri, merasa kaget dan dikagetkan oleh penampilannya.

Gaya bertuturnya, runut. Pola komunikasinya interaktif. Maklum, karena sering bercanda, sehingga saling tegur sapa dengan jama'ah, begitu intens terjadi, sehingga suasana cair, mengalir dan mencerahkan. Uraiannya sederhana, seperti halnya penampilan dan gaya hidupnya sehari-hari.

Mungkin uraian ini, tidak menjelaskan semua hal yang tampil dan menjadi karakter sahabat kita yang satu ini. Tetapi, hal yang mengagetkan diri ini, adalah kemampuan menuturkan hasil refleksinya. Dalam kultum kali ini, dia mampu menguraikan sebuah pemahaman keagamaan, hasil dari sebuah pengalaman hidup dan penghayatan nilai. Tidak ada beban, dan tidak ada kesulitan. Uraian dan paparannya, benar-benar mengalir ibarat sungai yang menemukan pola alirannya. Mengalir jauh, dengan penuh kelancaran dan mulus.

Sekali lagi. Di sinilah, saya melihatnya ada kemampuan yang tersembunyi, yang tidak banyak dikenali banyak orang. Ternyata, kemampuan yang satu ini, sungguh-sungguh luar biasa. 

Tema yang disampaikannya, tidak aneh-aneh. Sekedar mengulas masalah 'syukur' (abdan syakuran), dari surat al-Isra ayat 3. Namun, hal yang menarik hati dan pikiran saya saat itu, dari sisi paparan, uraian, penjelasan serta pengambilan ilustrasi sangat menarik, sesuai dengan konteks dan kehidupan harian di kehidupan kami sehari-hari,

Meminjam istilah anak milenial,  temanya tidak berat, tetapi meringankan beban hidup.  Sebuah prinsip yang diharapkan banyak diberikan kepada anak muda sekarang ini. Mereka ini, dan kadang kepikiran benar juga, tema yang berat dalam kajian-kajian keagamaan itu, malah bukan meringankan beban hidup, atau memudahkan masalah kehidupan, dengan tema-tema berat itu, malah menambah beban hidup itu sendiri. Karena itu, tidak  jarang, penceramah serupa itu, lebih banyak ditinggalkan. Anak milenial lebih memilih obralan yang santai, tetapi berkualitas, Tema ringan dan meringankan beban hidup !

Terima kasih. alhamdulillah. Dapat ilmu. Ilmu toleransi dan memaksa kita untuk rendah hati, dan tidak boleh merendahkan orang lain
!

Categories: ,


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar