Just another free Blogger theme

Minggu, 17 Mei 2026

Entah dari mana asalnya, Haji Acep ujug-ujug  menanyakan mengenai jembata shiratal mustaqim, yang diyakini umat Islam.

“Bapak, pernah dengar,  tentang jembatan shiratal mustaqim?” celetuknya, ”coba, jembatan shiratal mustaqim ada di mana ?”


Mendengar pertanyaan itu, nalar ini agak terusik. Terusik oleh pertanyaan, dan juga  mengusik keyakinan. Karena, selama ini, keyakinan awam dan keyakinan masyarakat pada umumnya, membayangkan bahwa jembatan shiratal mustaqim itu, adanya di akhirat kelak.

Seperti biasa, Haji Acep tidak menukil ayat dengan jelas dan pasti, layaknya ustadz. Dalam beberapa hal, penguasaan atau lebih tepat hafalan mengenai dalil dan rujukan kitabnya, tidak begitu kentara. Tidak muncul dari lisannya. Tetapi, tuturan serta argumentasi, yang dialamatkan pada keyakinan dan pengalaman hidupnya, terasa jauh lebih mengalir dibanding dengan rujukan dalil yang dikuasainya.

Untuk menggenapkan hal ini, saya coba cari salah satu dalil yang mengisahkan mengenai keberadaan jembatan sirathal mustaqim ini.  Dengan memanfaatkan mesin pencahari di dunia maya, kita dapat dengan mudah menemukannya. Salah satunya, adalah ada hadist yang berbunyi :

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Lalu diutuslah amanah dan rohim (tali persaudaraan) keduanya berdiri di samping kiri-kanan shiraath tersebut. Orang yang pertama lewat seperti kilat”. Aku bertanya: “Dengan bapak dan ibuku (aku korbankan) demi engkau. Adakah sesuatu seperti kilat?” Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Tidakkah kalian pernah melihat kilat bagaimana ia lewat dalam sekejap mata? Kemudian ada yang melewatinya seperti angin, kemudian seperti burung dan seperti kuda yang berlari kencang. Mereka berjalan sesuai dengan amalan mereka. Nabi kalian waktu itu berdiri di atas shirâth sambil berkata: “Ya Allâh selamatkanlah! selamatkanlah! Sampai para hamba yang lemah amalannya, sehingga datang seseorang lalu ia tidak bisa melewati kecuali dengan merangkak”. Beliau menuturkan (lagi): “Di kedua belah pinggir shirâth terdapat besi pengait yang bergatungan untuk menyambar siapa saja yang diperintahkan untuk disambar. Maka ada yang terpeleset namun selamat dan ada pula yang terjungkir ke dalam neraka. [HR. Muslim]

Demikianlah salah satu riwayatnya. Saat menjelaskan hal itu, para pengajar agama, kadang memberikan kiasan, bahwa sakin sulitnya perjalanan itu, jembata shiratal mustaqim itu, berukuran bak rambut-manusia dibelah tujuh. Tipis dan sangat tipis, yang memungkinkan seseorang bisa mudah tergelincir diperjalanannya, dan kemudian masuk jurang-neraka.

Penjelasan atau pengibaratan itu, sangat mudah dipahami, dan bisa memudahkan pemahaman orang awam. Walaupun demikian, keberadaan jembatan setipis  rambut terbelah tujuh, tidak ada keterangan yang pasti. Informasi yang pasti, kelak akan ada jembatan serupa itu.

”Nah, pertanyaan sekarang, jembatan itu, ada dimana?” Haji Acep, berulang-ulang bertanya, dan mempertanyakan, ”ada di dunia ini, Pak, bukan nanti di akhirat...!”

Menurut pengakuannya itu, jembatan shiratal mustaqim itu, jalan kehidupan kita di dunia ini. Bekerja dengan profesional adalah sebuah jembatan shiratal mustaqim. Mengajari anak di rumah, adalah jembatan shiratal mustaqim. Mencari nafkah, adalah jembatan shiratal mustaqim.   Menggauli istri atau pasangan hidup di rumah adalah jembatan shiratal mustaqim.

Kok bisa demikian ?

Di sinilah, makna, jembatan setipis rambut. Untuk menjalani seluruh amalan-amalan tadi, perlu kehati-hatian. Jika kita memiliki keteguhan iman, kekuatan fondasi keyakinan, tauhid yang bersih, maka dalam menjalankan tugas-tugas itu, akan dapat dengan mudah dijalaninya dengan baik. Insya Allah, kita bisa menjalaninya dengan lancar, dan cepat.

Sebaliknya, bila kita dalam keadaan yang lemah, lemah iman dan kotor ketauhidannya, maka saat menapaki jembatan-jembatan kehidupan itu, akan mudah tergelincir pada kesesatan dan kecelakaan.

”Silahkan saja, bapak perhatikan !!!” titahnya. ”Betapa banyak manusia, yang menjalani tugas sebagai pegawai di pemerintahan, yang seharusnya menjadi ladang ibadah, jalan ibadah kepada Allah Swt, malah tergelincir pada perbuatan maksiat, korupsi, dan masuk penjara !”

Paparannya itu melebar ke berbagai aspek kehidupan ini. Sampai-sampai ada penjelasan, bahwa shalat, zakat, bahkan haji sekalipun, yang sejatinya adalah jembatan yang baik dan terbaik untuk mempercepat seseorang sampai ke surga, malah menyebabkan seseorang tergelincir masuk neraka.

Kehadiran hawa nafsu, riya, atau sombong, yang merasa bahwa dengan amalan itu, bisa menjadi  jembatan bagi dirinya, sampai ke surga, malah kemudian menggelincirkan dirinya masuk ke jurang neraka.

Itulah yang disebut dengan licin. Amalan dalam kehidupan manusia itu, sangat licin, dan tipis sekali, antara batas ikhlas dengan riya. Bila tidak hati-hati, seseorang akan dengan mudah, terjerumus dan terjerembab pada jurang neraka. Untuk itu, maka, kehati-hatian dalam menjalani kehidupan, menjadi sangat penting.

Sampai pada titik ini, sebagai pendengar hanya bisa  mengucapkan, ”subhanallah, wal hamdulillah. Ternyata, untuk mendapat inspirasi dan ilmu, tidak selamanya harus dari buku, dari seorang akademisi di kampus, atau dari mimbar masjid.”. Siang menuju sore kali ini, sejumlah inspirasi, pemahaman, dan penyadaran praktis terkait pemahaman keagamaan, malah bisa hadir dari lisan, yang bisa tidak banyak orang menghargainya.

Sebagai pendengar, sempat bertanya secara berulang, dari mana pengetahuan atau kesadaran itu, dimiliki? Jawaban dia, dengan tegas, dan tetap saja dari awal, mengatakannya demikian, ”iya, membaca, dan mendengar, tetapi pengalaman yang sudah membuktikannya...”


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar