Hari ini, ahad. Banyak orang menyebutnya hari libur. Waktunya istirahat. Momentum untuk berleha-leha. Atau bersantai ria. Namun, tidak semua orang, memiliki cara yang sama, mengenai cara mengisi waktu libur tersebut. Semua itu, bergantung pada 'ideologi' yang dimiliki, dan diyakininya.
Lha, kok bisa begitu ?
Inilah realitas hidup kita. Dalam kajian Geografi Kritis, setiap orang memiliki hak-yang-sama untuk menafsirkan ruang waktu yang dimilikinya. Pemaknaan itu, bergantung pada anutan nilai yang dimiliki masing-masing. Termasuk dalam konteks hari libur. Apapun nama hari kalendernya.
Sebagaimana diketahui bersama. Hari libur itu, kerap dihadapi dan dimiliki oleh manusia. Tetapi, tidak semua manusia memiliki waktu dan cara yang tepat untuk mengisi waktu liburnya.
Tidak jauh berbeda. Seperti hari ini. Saya mengalami hari libur, di hari ahad hari ini, dengan sekedar tetiduran belaka. Tidak lebih dari itu. Di persepsi sebagai hari libur, maka karena itu pula, saya tidak banyak melakukan kegiatan yang berarti. Tetiduran.
Tentu saja. Tidak sedari malam tetiduran sampai sesiang ini. Aktivitas rutin harian, ada yang dilakukan. Khususnya kewajiban hidup, seperti bangun pagi, mandi, makan, dan atau ibadah harian. Namun, setelah melakukan hal serupa itu, kemudian, mengambil posisi untuk tidur lagi.
Jadi inget, seniman ikonik nasional kita."bangun lagi. tidur lagi. bangun lagi, dan ...tidur lagi". Itulah narasi yang disampaikan sang Seniman Ikonim, Mbah Surip, di masa silam. Semoga Allah memberkatinya, atas kiprahnya dalam memberikan rasa bahagia dan pencerahan kepada kita semua. Khususnya untuk konteks ini.
Kembali ke soalan yang kita sampaikan di awal, bagaimana seseorang mengisi hari liburan ? jawabannya, sangat beragam, sesuai dengan ideologi yang dimilikinya. Dengan kata lain, dalam penghayatan penulis saat ini, bahwa setiap manusia, sejatinya memiliki ideologi hidup tersendiri.
Mereka yang orientasi hidup, sebagai kerja, dan kerja. Maka, liburan, adalah istirahat untuk mengambil jeda, tidak melakukan pekerjaan. Diam di rumah, dan istirahat, atau lebih tepatnya mengistirahat tubuh dari aktivitas fisik dan aktivitas rutinnya.
Mereka yang mengartikan hidup adalah permainan, maka hari libur, diisinya dengan melakukan refreshing atau berliburan. Kelompok ini, bukan berarti tidak punya pekerjaan. Tetapi pekerjaan adalah kewajiban rutin dalam hidupnya, sedangkan hiburan dan liburan adalah hak hidupnya. Karena itu, waktu libur digunakannya untuk berliburan, entah ke destinasi wisata, atau sekedar touring dengan rekan sehobinya.
Lain cerita dengan mereka yang terjebak dalam dunia kapitalis. Waktu liburan, akan digunakannya untuk memuaskan hawa nafsu kapitalismenya, seperti jajan, makan bersama, atau berbelanja. Belanja bisa dilakukan dengan cara digital, tetapi berbelanja adalah therapi-keruangan yang diyakni memberikan kepuasan dan kebugaran rasa dan pikiran. Karena itu, kelompok ini, mengambil cara untuk melakukan perjalanan ke rumah, dengan modal kapitalitas yang cukup.
Kelompok lainnya, mengartikan dunia pekerjaan sebagai instrumen-kapitalisme yang merenggangkan sosialita dan kekeluargaan. Karena itu, waktu libur dan liburan, menjadi kesempatan emas bagi kelompoknya untuk merekatkan nilai-nilai kekeluargaan. Model dan bentuknya sangat beragam. Mulai dari makan bersama, melakukan pekerjaan kolektif di rumah, dan atau jalan-jalan bersama keluarga. Pendekatan ini, mereka yakini sebagai bentuk protes terhadap pemilihan ruang-hidup, antara ruang-kerja yang berorietasi kapitalis dengan nilai-nilai sosial kekeluargaan.
Bersamaan dengan itulah, maka kita bisa menemukan dan mendapatkan inspirasi bahwa sejatinya, model dan bentuk isi liburan, adalah bagian penting dan ekspresi ideologi hidupnya sendiri.
Lha, bagaimana jadinya, bila ada orang yang masih kerja, padahal hari itu, adalah hari libur ? jawabannya, pekerjaannya itu, untuk masalah apa ? di situlah, akan ditemukan ideologi hidupnya dalam mengisi ruang waktu kehidupannya !!!

0 comments:
Posting Komentar