Just another free Blogger theme

Selasa, 21 Juli 2026

Belakangan ini, linimasa media sosial kita dipenuhi oleh narasi pencapaian baru: keberhasilan menulis dan menerbitkan buku dalam hitungan hari, bahkan jam, berkat bantuan Artificial Intelligence (AI). Ada rasa bangga yang meletup-letup dalam narasi tersebut. AI dirayakan sebagai demokratisator literasi yang meruntuhkan tembok tinggi proses kreatif tradisional. Namun, jika kita melihat fenomena ini melalui kacamata geografi kritis, kebanggaan tersebut terasa semu dan problematis. Fenomena ini bukan sekadar lompatan efisiensi teknologi, melainkan sebuah bentuk pergeseran kekuasaan spasial, ekstraksi data, dan kelanjutan dari proyek kolonialisme epistemik global.


Geografi kritis mengajarkan kita bahwa ruang tidak pernah netral; ia diproduksi, dikontrol, dan dipertandingkan. Hal yang sama berlaku bagi ruang digital dan korpus pengetahuan yang membentuk otak AI. Ketika kita merasa bangga melahirkan sebuah buku hasil rakitan AI, kita sering lupa mengajukan pertanyaan geografis yang mendasar: Di mana pengetahuan itu diproduksi? Siapa yang mengontrol infrastrukturnya? Dan ruang hidup siapa yang sedang kita pinggirkan?
Kebanggaan menulis dengan AI mengabaikan fakta adanya ketimpangan spasial ekstrem dalam produksi teknologi ini. Mayoritas Large Language Models (LLM) dikembangkan, dilatih, dan dimiliki oleh korporasi teknologi raksasa yang berbasis di Global North (Negara Utara). Konsekuensinya, algoritma ini membawa bias geopolitik, budaya, dan cara pandang dunia Barat.

Ketika seorang penulis di Global South (Negara Selatan) menggunakan AI untuk menyusun buku tentang realitas lokalnya—misalnya tentang konflik agraria atau budaya masyarakat adat—AI tidak sedang membantu merekam realitas secara objektif. AI sedang menyaring realitas lokal tersebut melalui lensa epistemik Barat yang ada dalam data pelatihannya. Menulis buku dengan AI, tanpa sadar, adalah tindakan menyerahkan kedaulatan narasi kita kepada kartografi pengetahuan global yang timpang. Kita bangga menjadi "penulis", padahal kita hanyalah operator dari mesin penyeragaman budaya.
Dari sudut pandang geografi kritis, proses pelatihan AI adalah bentuk baru dari imperialisme. Jika kolonialisme klasik mengeruk komoditas alam seperti rempah-rempah atau emas dari wilayah jajahan, kolonialisme digital mengeruk data. Teks, puisi, sejarah lokal, dan diskursus publik yang kita produksi di ruang digital diekstraksi tanpa izin (data scraping) oleh korporasi teknologi untuk melatih mesin mereka.
Saat kita meminta AI menulis sebuah bab dalam buku kita, mesin tersebut merakit kembali potongan-potongan pengetahuan yang telah mereka rampas dari berbagai ruang hidup manusia. Ironisnya, kita kemudian membayar biaya langganan premium untuk mengakses hasil rampasan tersebut. Rasa bangga karena bisa memproduksi buku dengan cepat di sini bias terhadap logika neoliberalisme: mengagungkan kecepatan dan kuantitas produksi, sambil mengabaikan proses eksploitasi di balik layarnya. Buku tidak lagi dipandang sebagai produk kebudayaan yang berakar pada tempat (place-based knowledge), melainkan sekadar komoditas digital yang terasing dari ruang dan tubuh penulisnya.
Menulis buku secara tradisional adalah proses geografis yang intim. Penulis mengalami ruang, berinteraksi dengan lanskap, merasakan atmosfer, dan terlibat dengan subjek di lokasi spesifik. Ada keterikatan tubuh dan ruang (spatial embodiment) yang melahirkan empati dan kedalaman analisis.
AI menghapus keintiman spasial ini melalui proses abstraksi. Penulis yang terlalu bersandar pada AI mengalami detasemen atau pemisahan dari realitas geografis. AI mereduksi kompleksitas konflik ruang, kemiskinan struktural, atau keindahan sebuah tempat menjadi sekadar probabilitas statistik kata-kata yang diatur oleh logika token. Ketika rasa bangga itu muncul karena kita berhasil menulis buku tentang sebuah tempat tanpa pernah benar-benar memahami atau merasakannya, kita sebenarnya sedang merayakan matinya empati geografis. kita menciptakan pengetahuan yang steril, mekanis, dan tercerabut dari akarnya.
Narasi bahwa AI mendemokratisasi ruang literasi juga perlu didekonstruksi. Faktanya, akses terhadap AI yang canggih dan tidak bias menuntut infrastruktur digital yang mahal—internet cepat, perangkat keras mutakhir, dan daya beli untuk akun premium. Di negara berkembang, akses ini masih berpusat di wilayah urban. Ketimpangan spasial ini justru memperlebar jurang antara mereka yang memiliki modal digital dan mereka yang terpinggirkan.
Lebih jauh lagi, geografi kritis selalu melihat keterkaitan antara ruang digital dan materialitas bumi. Pusat data (data center) yang menggerakkan AI membutuhkan energi listrik yang masif dan jutaan liter air untuk sistem pendinginnya. Sering kali, pusat data ini dibangun di wilayah-wilayah pinggiran, menguras sumber daya lingkungan lokal, demi melayani kebutuhan komputasi masyarakat urban yang sedang sibuk memproduksi teks instan. Ada ketidakadilan ekologis yang nyata di balik setiap perintah prompt yang kita ketik.
Apakah ini berarti kita sama sekali tidak boleh menyentuh AI dalam proses menulis? Tentu tidak. Alat tetaplah alat. Namun, rasa bangga itu harus diletakkan pada porsi yang tepat. Kita tidak boleh bangga karena AI telah mendikte cara kita berpikir dan menulis.
Kebanggaan yang genuine baru boleh hadir jika kita mampu menggunakan AI secara kritis (counter-mapping). Artinya, kita menggunakan AI sebagai mitra tanding berpikir, sembari secara sadar mendekonstruksi, menginterogasi, dan melawan bias-bias spasial yang disodorkannya. Kita harus merebut kembali kontrol atas narasi lokal kita, bukan malah melarutkannya ke dalam arus utama penyeragaman global.
Buku yang baik tidak lahir dari seberapa cepat mesin merakit kata, melainkan dari seberapa dalam penulisnya berakar pada realitas kemanusiaan dan ruang hidupnya. Tanpa refleksi kritis, buku-buku hasil rakitan AI hanya akan menjadi monumen dari kerelaan kita untuk dijajah kembali di ruang digital.

-o0o-

diolah AI 


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar