Just another free Blogger theme

Selasa, 28 Juli 2026

Sebagai orangtua, tidak selamanya mampu mengendalikan anak. Atau, tidak selamanya, orangtua mampu memberikan bantuan fisik kepada anak. Misalnya, karena anak kita, berada di lokasi yang jauh, baik karena sedang belajar atau sedang bekerja, maka akan sulit orangtua memberikan bantuan, pertolongan, atau perhatikan fisik terhadapnya. Namun, kendati ada banyak kendala, terkait hal itu semua, hasrat orangtua untuk memberikan bantuan kepada anak-anaknya, atau anggota keluarganya, tidaklah pernah surut, walau kadang tidak tampak dalam pandangan mata orang lain.



Lantas, apa yang bisa di  lakukannya ?

Dalam budaya kita, khususnya Jawa,  Sunda, tradisi keagamaan, atau adat timur, dikenal ada tradisi khusus yang dimaksudkan untuk melakukan hasrat dan kebutuhan itu. Hasrat dan kebutuhan itu, biasa disebut tirakat. Maka karena itu, untuk membantu upaya spiritual dan ritual kepada orang lain, dengan harapannya, dapat terwujud cita dan keinginannya, maka dilakukan upaya nirakatan, misalnya menirakati anak, menirakati istri, menirakati suami, atau menirakati orang lain, termasuk menirakati bangsa dan negara.

Di  media massa, kadang kita melihat dan mendengar, atau malah menyaksikan di media sosial, ada sekelompok agama atau lintas agama, melakukan kegiatan doa bersama untuk keselamatan bangsa dan negara. Mereka lakukan dengan doa, zikir, dan atau kegiatan sosial lainnya, dengan maksud dan harapan menirakati masa depan bangsa dan negara. Kegiatan ini, apapun namanya, bisa disebut shalawat akbar, istighotsah, doa bersama, dzikir nasional, taubatan nasional, atau yang lain, pada dasarnya, merupakan ikhtiar manusia-ritual atau manusia spiritual dalam membantu keselamatan kolektifnya. 

Sebagai orangtua, pun demikian adanya. Saat anak memiliki kegundahan akan nasib di masa depannya, sedang menghadapi fase ujian, seperti ujian sekolahan, ujian pekerjaan, ujian keluarga  atau sejenisnya, akan terpancing untuk memberikan pertolongan-darurat-ritual terhadap masalah yang dihadapinya.

Terbayang sudah, dan dapat kita rasakan bersama. Saat anak atau anggota keluarga kita, tengah dihadapkan pada masalah krusial hidupnya, kadang ada greger dalam diri kita untuk mau membantunya. Tetapi, apa kuasa kita ? jarak terlalu jauh, misalnya. Atau, kemampuan fisik, terlalu lemah. Atau, kemampuan finansaial, terlalu terbatas. Tetapi, merasakan bahwa kebutuhan dan keinginan untuk membantunya sangat tinggi. 

Apa langkah yang bisa dilakukannya ? 

Tentu, sampai pada level ini, dalam keyakinan masyaakat kita, komunitas agama, satu langkah lagi, yang perlu dilakukan yaitu berdoa kepada Tuhan, dan memasrahkannya kepada Tuhan, atau isilah lainnya adalah tawakal.

Tawakal yang kita maksudkan, bukan sikap pasrah tanpa ikhitar atau laku nyata. Tawakal yang kita maksudkan ini, adalah tawakal yang dibarengi dengan laku-bathin atau ruhani atau laku spiriual dan ritual, dengan maksud dan tujuan untuk menjadikannya sebagai instrumen-nyata dalam membantu pencapaian tujuan yang diinginkan.

Sebagian diantara kita, ada yang melakukan puasa, melek, menyepi, berdoa, mengeluarkan tenaga untuk berbakti kepada orang yang beresiko. Bahkan, ada pula dengan cara prakis, yang membaktikan diri kepada orang yang selama ini, dianggap 'tidak berstatus sosial'. Pengabdian kepada mereka itu, adalah bagian penting dari tradisi kita, dalam menirakati masalah sosial, masalah pribadi atau masalah orang lain, yang  hendak kita perbaiki bersama.

Hal yang paling sederhana, dan mudah dilakukan, dan bahkan banyak dilakukan masyarakat kita, menirakati anak, keluarga, orang lain dan atau menirakati bangsa dan negara ini, yakni dengan berdoa. Tirakat serupa ini, merupakan tirakat individual untuk masalah sosial. Atau, ada juga yang menyebutnya sebagai tirakat sosial. 

Melihat fenomena psikologi-keagamannya, sejatinya ada tiga kategori tirakat, yaitu (1) tirakat personal, yakni dilakukan oleh dirinya untuk kepentingan dirinya, (2) tirakat individual untuk sosial, yaitu tirakat yang dilakukan perorangan untuk kepentingan bangsa, dan (3) tirakat sosial, yakni tirakat yang dilakukan secara kolektif untuk kepentingan bersama.

Bagaimana menurut pembaca ? 


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar