Just another free Blogger theme

Jumat, 20 Februari 2026

Hal menarik dalam praktek Ramadhan, akan ditemukan ragam aspek keagamaan yang dikondisikan untuk bisa tumbuhkembang dengan baik.



Selama ini, orang lebih memahami praktek ibadah ramadhan sebagai sesuatu yang menyangkut kegiatan, amalan atau perbuatan. Sehingga banyak orang yang bicara mengenai, bagaimana mengisi ramadhan, menjelaska mengenai amalan ramadhan, menjelaskan mengenai sunnah-sunnah Ramadhan. Pertanyaan ini, selaras dengan pandangan John L. Esposito, saat menjelaskan hakikat Islam. Menurut beliau, hakikat pertanyaan dengan Islam itu, adalah ”Apa yang orang Islam, perbuat?” Sehingga, pilar keilmuan yang paling popular adalah syari’ah atau hukum Islam. Karena itu, karakter Islam itu menurut Esposito, cenderung Ortopraksis, menjelaskan mengenai perbuatan yang selaras dan tunduk pada hukum-hukum Allah (Esposito 2004:86).

Melanjutkan analisis dari Esposito itu, ternyata dalam pelaskanaannya, khususnya sebagaimana yang tampak dalam kegiatan Ramadhan, Islam tidak sekedar ortopraksis. Sisi yang lainnya pun, dikemas dan dikembangkan, sehingga menjadi amalan-amalan Ramadhan yang lebih lengkap.

Pertama, kita setuju, aspek ortopraksis (perbuatan yang benar) menjadi perhatian seksama dalam bulan suci Ramadhan. Maka karena itu, di bulan ini, seorang muslim diajak untuk memakmurkan Ramadhan dan masjid dengan sejumlah kegiaytan-kegiatan yang baik, seperti tadarusan, tarawih, shalat berjama’ah, shadaqah dan lain sebagainya, Semua itu, merupakan bagian penting dalam upaya memakmurkan Ramahan dengan amalan-amalan sunnah Ramadhan. Konsep Islam yang menggambarkan fenomena ini, yaitu konsep amal shalih.

Kedua, hal yang  tidak kalah menariknya lagi, selama bulan suci Ramadhan pun, umat Islam meningkat pemahaman atau pengetahuannya tentang Islam. Model dan bentuk kegiatannya adalah melakukan kajian-kajian mendalam mengenai al-Qur’an, baik secara personal (dengan membaca referensi), atau kolektif (menyimak kajian-kajian keislaman). Praktek yang kedua ini, dapat kita sebutnya orthophronesis, atau proses belajar untuk mendapatkan kerangka pikir yang benar (al-’aqlu salim), atau olah-pikir

Ketiga, dari atas mimbar khutbah, para pengkhotbah umumnya mengajak jama’ah untuk melakukan refleksi atau introspeksi terhadap diri sendiri, terkait amal perbuatan di masa lalu. Melalui tahapan ini, seorang muslim diajak untuk melakukan meditasi, atau muhasabah atau re-introspeksi terhadap kualitas hidup dan kehidupannya di masa lalu, untuk dijadikan modal dalam menjajaki perjalanan hidup di masa depan.

Prosesi reintrospeksi ini, dimaksudkan untuk mengevaluasi keyakinan, dan juga meluruskan keyakinan dalam keberagamaan itu sendiri. Aspek ini, terkait dengan keyakinan, aqidah atau kepercayaan dalam diri seseorang, atau dapat disebut juga orthodoxi. Dalam istilah Islam, disebutnya al-aqidatu shahihah, atau olahruh.

Keempat, tidak kalah menarik pula, bahwa dalam kegiatan Ramadhan ini, memiliki nilai olahraga. Melalui shaum Ramadhan, seorang muslim diajak untuk melakukan reset atau pengelolaan ulang terhadap ragam hal yang bisa dikonsumsi. Sebenarnya, shaum ramadhan bukan membatasi makanan, melainkan mengendalikan makanan. Artinya, kapan makan, berapa banyak yang harus dimakan, makanan apa yang diutamakan, menjadi pokok soal dalam kegiatan konsumsi ramadhan. Itulah yang masuk dalam kategori, olahraga (hifdzhul jasadi), atau menjaga keselamatan fisik.

Terakhir, Ramadhan pun memberikan pengalaman kepada kita, untuk melakukan upaya perbaikan secara berkelanjutan mengenai jiwa, emosi atau psikisnya. Itulah yang biasa disebut aspek orthopati, atau emosi yang benar (qalbun salim). Di dunia pendidikan, kita mengenalnya konsep olahrasa, aspek inilah yang masukd alam kategori orthopati atau qalbun salim. Istilah lain, yang bisa semakna dengan konsep ini, misalnya ada olahrasa, olahkarsa atau olahjiwa.

”Ade jangan marah, nanti shaumnya batal..” tukas seorang kakak, kepada adiknya, yang tampak sudah mulai menunjukkan emosi eksplositnya, sebagai awal mula nangis. Diingatkan begitu, sang adik mulai mengatur emosinya, dan meredakan rasa marahnya, dan mulai mengendalikan diri untuk tidak marah dan tidak nangis. Kemampuan serupa itu, tiada lain adalah model dari sikap orthopati, yang dimiliki seseorang saat berpuasa.

Berdasarkan pemikiran serupa ini, tampak bahwa menjelaskan Islam sebagai agama orthopraksis, sebagaimana yang disampaikan John L. Espposito, adalah tidak lengkap, karena sejatinya Islam bukan sekedar berbicara mengenai perbuatan yang benar (amal sholih), tetapi juga pikiran (al’aqlu salim), rasa (qalbun salim) dan juga keyakinan yang  benar (aqidatu shaihah).

Dengan kata lain pula, hal yang perlu dimakmurkan itu, bukan sekedar menumbuhkembangkan sunnah-sunnah atau amalan Ramadhan, tetapi juga pikiran Ramadhan, hati Ramadhan, dan juga jiwa Ramadhan. Sehingga, meminjam istilah Imam Al-Ghazali,  pelakanaan shaum Ramadhan itu, bukan hanya dilaksanakan oleh jasad (fisik)nya, melaikan pikiran, hati dan ruhnya (Ghazali 1998).  



Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar