Just another free Blogger theme

Kamis, 19 Februari 2026

 


Kendati tidak berkaitan langsung, tetapi, pendekatan interpretasi  ini, menjad penting untuk dilakukan. Untuk sekedar contoh, kita dapat melihat projek kajian Nazir Khan, yang menarik, dalam membahas pesan moral yang termuat dalam surat al-Fatihah (Khan 2024) Dalam  karyanya itu, beliau melakukan kritik terhadap ideologi-ideologi modern, dengan menyandarkan pada pesan-pesan ilahiah yang ada dalam surat al-Fatihah ini.

Serupa hal itu juga lah, pendekatan yang akan kita gunakan ini, adalah sebuah interpretasi terhadap pesan moral Ramadhan, dalam kaitannya dengan ideologi-pemikiran yang tumbuhkembang dalam kehidupan kita saat ini.

Di lingkungan bapak-bapak, kerap kali ada ucapan yang luar biasa, dan terasa sulit dipisahkan dari kehidupannya. ”kalau, tidak merokok setelah makan, rasanya, ibarat ke Makkah, tidak sampai ke Kakbah..!”  Atau, kalau ibu-ibu, dan anak remaja putri, "aku mah, gak bisa diem, harus sambil ngemil.." ungkapnya dengan sungguh-sungguh. 

Sebuah pernyataan yang hendak menyakinkan pihak lain, mengenai pentingnya tradisi itu, dan juga, kuatnya keyakinan mengenai kebutuhan kegiatan dimaksud dalam kehidupannya.

Dalam konteks ini, kita tidak bermaksud untuk menjelaskan mengenai posisi merokok atau rokok dalam kehidupan seseorang. Penjelasan dan sikap Pemerintah, khususnya Kementerian Kesehatan, sudah tampak jelas dalam kemasan rokok dimaksud. Kita pun, tidak akan mengulas mengenai masalah kesehatan, terkait kebiasaan ngemil dalam kehidupan harian kita. Kita tidak akan mengulas hal itu. Hal yang akan kita ulas, adalah sikap kita terhadap rasionallitas yang kita miliki, dalam memahami sesuatu hal dalam kehidupan ini.

Bagaimana fakta sesungguhnya terjadi ?

Ada beberapa kasus yang bisa ditelaah. Kelompok pertama, ada yang mampu melakukan shaum ramadhan, sehari penuh. Kuat, dan berbuka saat maghrib. Namun, pada hari berikutnya, tidak melaksanakan shaum ramadhan lagi. Kedua, ada kelompok bapak-bapak yang mampu melaksanakan ibadah shaum ramadhan, secara penuh satu bulan, dengan kedisiplinan yang tinggi. Walaupun di malam harinya, menghabiskan cukup banyak batang rokoh. Terakhir, ada kelompok yang mengaku, bisa menahan diri untuk tidak merokok sebanyak di luar ramadhan, dan mampu melaksanakan shaum ramadhan penuh satu bulan.

Terhadap kasus serupa itu, kita bisa melihat dan mengamatinya, bahwa yang dimaksud dengan kebutuhan merokok (juga jenis komoditas lainnya, termasuk ngemil), pada dasarnya adalah sesuatu yang ada dalam kendali kita. Setuju, bahwa saat sesuatu hal sudah menjadi kebiasaan, maka biologi-tubuh kita akan menagihnya. Tubuh kita memiliki waktu-koreksi terhadap jiwa, dan pikiran kita.

Reaksi tubuh terhadap kebutuhannya itu, pada dasarnya, bukan hanya merokok, tetapi juga, jam makan, minum, ngemil atau yang lainnya. Saat, sudah waktunya, maka tubuh kita akan menagihnya, dan itulah yang disebut oleh masyarakat umum, dengan istilah lapar. Karena itu, adalah naluriah dan alamiah, bila dalam beberapa saat, kita akan merasakan ’tarikan kebutuhan biologis’ itu sesuai dengan jam-biologisnya.

Pengalaman  nyata di shaum ramadhan, menunjukkan hal lain. Kendati ada keragaman kemampuan, tetapi pada dasarnya, minimalnya seseorang bisa mengendalikan kebutuhan-dasar biologis itu selama 12 jam. Itu minimalnya. Setidaknya, itulah yang dirasakan oleh kelompok pertama. Adapun pada kelompok kedua, ada kualitas kemampuan pengendalian diri yang lebih baik lagi.

Andai ada yang mengatakan bahwa di malam hari menjadi ’waktu balam dendam”, namun jam-istirahat (tidur) menjadi pembatasnya. Sehingga pada akhirnya, kuantitas yang dikonsumsinya jauh lebih sedikit, dibanding hari-hari di luar ramadhan.

Pengalaman Ramadhan ini, bisa disederhanakan, ”jika selama Ramadhan, bisa menahan kebutuhan merokok tersebut, selama 12 jam, maka di luar ramadhan pun, bisa.”. Atau, ”selama ramadhan, bisa mengurangi konsumsi. Waktu di ramadhan dan di luar ramadhan adalah sama, yakni 24 jam, yang terbagi waktu siang dan malam. Kesimpulannya, mengendalikan kebiasaan dalam mengkonsumsi sesuatu, yang bisa dilakukan selama ramadhan, pun, bisa dilakukan selama di luar ramadhan”. Itulah, sikap rasional yang realiastis, dalam memahami gejala kehidupan kita di bulan ramadhan ini.

Berdasarkan pertimbangan itu maka kunci jawaban terhadap realitas ini, Ramadhan, pada dasarnya memberikan sebuah pengalaman (experience) kepada setiap individu bahwa rasionalitas-kebiasaan, pada dasarnya bisa dikoreksi, dengan cara mengubah kebiasaan itu sendiri. Semua itu, bergantung pada kekuatan tekad dan rasionalitas kita dalam mengendalikan diri kita sendiri.


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar