Masih tetap bingung, membingungkan, atau khawatir mendorong orang pada keraguan. Ragu terhadap fungsi dan peran keagamaan dalam konteks peraihan kualitas kesehatan, baik fisik maupun psikis.
Di zaman sekarang ini,
terlebih ada yang mempromosikan disiplin ilmu baru, yang disebut neurosains
atau neurosurgeon (bedah syaraf otak), menawarkan sikap-sikap kritis terhadap
pemahaman agama. Khususnya pemahaman dan keyakinan orang awam terhadap agama.
Hal serupa itu jugalah, yang dirasakan saat berhadapan dengan seorang mahasiswa, yang mempertanyakan mengenai perbedaan kualitas kesehatan, antara orang yang melakukannya dengan pendekatan keagamaan dan non-keagamaan. Dengan tegas dan meyakinkan, pertanyaan itu menggugat kesadaran sekaligus keyakinan rekan-rekan lainnya yang beragama.
Kita mungkin tidak harus
langsung memberikan jawaban terhadap hal itu. Setidaknya, pandangan terkait hal
ini, sudah pernah disampaikan sebelumnya, dalam narasi mengenai hak orang tak
beragama untuk bisa mendapatkan tubuh sehat, dan mental atau psikis yang sehat.
Sudah mudah dipahami. Di platform media sosial, kita dapat melihat banyak artis, baik yang beragama atau tak beragama, atau memiliki agama namun tidak taat beragama, bisa tampil bugar, cantik, tampan dan tentunya sukses secara ekonomi. Kita tidak sulit untuk menemukan contoh-contoh serupa itu.
Sangat tidak sulit juga, untuk
menemukan public figur yang tampil di media sosial, dengan penampilan sehat
fisik dan sehat jiwanya. Padahal, belum
ada pengakuan atau keberanian untuk menyebutkan afiliasi keberagamaan dalam
hidupnya. ”keyakinan itu adalah masalah pribadi..” ungkapnya, sambil tetap
menyembunyikan identitas keberagamaan itu sendiri.
Tidak terlalu untuk berpanjang-panjang, melakukan perincian data terkait hal ini. Dalam kesempatan ini, dan terkait hal ini, kita dapat menengok kebiasaan kita di hari-hari tertentu, atau bulan-bulan tertentu.
Dalam satu kasus, bila kita
mendapatkan kiriman coklat, makanan lezat dan sangat digemari orang. Menerima pemberian coklat tentu, sangat
menguntungkan dan membahagiakan. Namun, apa jadinya, bila kita mendapatkan
coklat di hari spesial, misalnya pada 14 Februari. Kemudian, dikemasan coklat
itu adalah tulisan, ”sayang, semoga kamu ada dalam kebahagiaan selalu...”
Bagaimana perasaan kita, saat mendapatkan ucapan sugestif yang hadir di kemasan coklat, yang diberikan di hari spesial tersebut ? bandingkan dengan perasaan kita, saat mendapatkan makanan sejenis itu pula, tetapi dihari yang lain, tidak ada hari spesial dan tidak ada pula ucapan spesial serupa itu, apakah keadaan jiwa, batin, perasaan, atau emosi kita, akan merasakan hal serupa dengan sebelumnya ?
Dalam situasi itulah, kita
mendapatkan inspirai positif, bahwa ucapan positif, pada dasarnya adalah
memberikan sugesti positif terhadap kita yang menerima. Bila demikian adanya,
bagaimana jadinya, bila kemudian, kita mendapatkan doa, atau layanan hidup dan
kehidupan ini, yang senantiasa diiringi doa dan ucapan spesial ?
Bila dibandingkan dengan situasi modern saat ini, tampaknya, manusia modern itu, sudah mengalami kehampaan makna, atau nilai-nilai esensial. Manusia modern, dalam pandangan sebagian pemikir, mengalami kehampaan spiritual, dan itulah yang disebut Seyyed Hossein Nasr, sebagai nestapanya manusia modern.
Di sekitar kita, dapat
ditemukan dengan mudah. Ayam makan jagung. Sapi dan kerbau makan rumput. Burung
pelatuk makan biji-bijian. Semuanya mengkonsumsi makanan, sesuai dengan
karakternya. Ternyata, disamping itu, manusia pun mengkonsumsi sejumlah komoditas
yang biasa dikonsumsinya.
Pertanyaannya, sudah tentu, apa bedanya, perilaku hewan dengan manusia, saat mengkonsumsi makanannya tersebut ?
Dalam waktu bersamaan, hewan
pun melakukan hubungan biologsi dengan pasangannya. Demikian pula manusia.
Lebih luar biasanya lagi, ada juga yang memuaskan hawa nafsu biologisnya dengan
sesama jenis.
Lantas, dalam hal serupa itu juga, apa bedanya, upaya pemenuhan kebutuhan biologis yang dilakukan manusia dengan yang dilakukan hewan ?
Perjalanan dan pertanyaan
inilah, yang kemudian, menghantarkan kita pada satu sisi, yang selama ini,
dicurigai sebagai sesuatu yang ’tak berguna’, yakni peran keyakinan atau
nilai-nilai spiritual.
Dalam hitungan sejarah peradaban, selepas adanya pencerahan dan kemudian manusia memiliki keyakinan mengenai kemampuannya mengembangkan kompetensi nalar dan ilmu pengetahuan, manusia mengalami ketercerabutan nilai dasar kemanusiaan. Auguste Comte, adalah salah satu dari sekian pemikir sosial, yang mencoba menawarkan gagasan mengenai peralihan pola pikir manusia, dari fase teiologis ke fase positivisme.
Sayangnya, pendekatan
positivisme ini, malah melahirkan sisi negative. Paradigma positivisme ini,
malah melahirkan keterpurukan nilai-nilai kemanusiaan, sehingga manusia modern
muncul sebagai pribadi yang serakah, dan eksploitatif, baik terhadap sesama manusia
maupun lingkungan. Kerusakan alam serta kehancuran nilai-nilai kemanusiaan,
muncul di berbagai belahan dunia.

0 comments:
Posting Komentar