Just another free Blogger theme

Rabu, 03 Juli 2013

Sebuah pepatah di Masyarakat Sunda, ada kalimat berbunyi, ‘jodo, pati, bagja, cilaka, eta mah rahasia pangeran..”. pepatah itu, mengandung makna bahwa masalah jodoh,  kematian, kebahagiaan, dan kecelakaan, adalah empat hal misterius dalam hidup manusia, dan semua itu masih ada dalam otoritas kekuasaan Tuhan. Apakah dengan demikian, sampai usia peradaban manusia seperti sekarang ini pun, masalah jodoh ini adalah bagian dari misteri kehidupan manusia ? benarkah, bahwa jodoh itu adalah misteri hidup dan masih ada dalam kewenangan Tuhan ?
Untuk kepentingan hal ini, sudah saatnya, kita mencoba untuk mengoreksi ulang pemahaman kita tersebut. Setidaknya, kita melihat bahwa selepas perkembangan ilmu mengenai filsafat populer, atau psikologi populer, dan juga ilmu syarat (neurologi), kita menemukan sejumlah informasi yang mencengahkan, dan sekaligus mencerahkan.
Misalnya, bila kita meminjam uraian Jalaluddin Rakhmat,  kita bisa menemukan bahwa makna kebahagiaan (bagja)  ternyata bukanlah sesuatu yang misterius. Kebahagiaan itu, berbeda dengan kecacatan. Orang yang cacat, adalah objektif.  Tetapi, Orang yang cacat pun bisa bahagia. Hal ini, artinya, bahwa bahagia itu  lebih bersifat ikhtiar manusia, persepsi manusia, atau penafsiran manusia terhadap hal-hal yang sifatnya objektif.  Seperti halnya penderitaan, kebahagiaan pun bersifat subjektif Jalaluddin Rakhmat (2006:15) .[1]
Ketabrak adalah objektif. Patah kaki adalah objektif. Tetapi, orang yang tidak memiliki kaki masih tetap bisa mendapatkan kebahagiaan. Orang yang setelah tertabrak, masih bisa berujar bahagia, setidaknya, dia mengatakan, ‘masih beruntung, hanya kaki yang patah..” ujarnya dengan raut wajah yang berbinar.
Di PHK (pemutusan hubungan kerja) adalah objektif. Tidak diterima kerja adalah objektif. Gaji kecil adalah objektif. Tetapi, mereka pun  masih bisa berbahagia. “saya merasa diselamatkan oleh Tuhan, beruntung tidak diterima di Pemerintah Daerah yang diduduki oleh pejabat tersebut, kalau dulu diterima, mungkin saya adalah salah satu dari orang yang terseret tindak pidana korupsi tersebut..”, tutur seorang PNS yang sempat ditawari mutasi ke salah satu seksi di Pemerintahan Daerah di Kota Bandung.
Kisah-kisah tersebut, menantang kita untuk kembali membedakan antara aspek objektif dan aspek subjektif. Kebahagiaan itu adalah subjektif, hal itu maknanya, nilai dan kualitas kebahagiaan, tidak melulu disandarkan pada aspek objektif. Aspek objektif mungkin perlu, tetapi tidak   menentukan.
Bila memiliki uang banyak, kita bisa meraih kebahagiaan, tetapi kebahagiaan itu tidak harus banyak uang. Bila memiliki istri yang cantik, kita bisa bahagia, tetapi untuk mendapatkan keluarga bahagia, tidak harus memiliki istri yang cantik. Memiliki suami yang tampan adalah membahagiakan, tetapi untuk membangun keluarga yang bahagia, tidak harus bergantung pada suami yang tampan. Karena, nilai dan kualitas kebahagiaan itu, bergantung pada upaya kita dalam memahami, memaknai dan menafsirkan nilai-nilai objektif yang dimiliki.
Kemudian, bagaimana dengan aspek penderitaan atau kematian ? apakah kematian itu adalah sebuah misteri ? apakah penderitaan, dan sakit adalah sebuah misteri ?
Di era modern ini, seorang tenaga kesehatan yang paham mengenai psikologi dan hakikat hidup, sudah mulai melontarkan pemikiran bahwa sakit itu adalah akumulasi dari perbuatan manusia sebelumnya.  Kesehatan tubuh manusia hari ini, adalah kumpulan dari apa yang dikonsumsi atau dilakukan sebelumnya. Bahkan, ada  yang berani mengatakan bahwa ‘diri kita ini adalah apa yang kita makan’ (we are what we eat)[2].
Dengan kata lain,  kesehatan kita di hari esok, bisa ditabung dari sekarang. Karena kesehatan fisik kita di sepuluh tahun ke depan, adalah tabungan kita sejak hari ini. Tabungan-tabungan itu,  berupa makanan yang kita konsumsi, informasi yang kita dapatkan, masalah yang kita pikirkan, dan energi yang kita aktifkan. 
Orang yang tidak pernah berolahraga, sama dengan tidak memberikan tabungan energi untuk hari esok. Hal itu artinya, tabungan kesehatannya akan jauh berbeda dengan mereka yang suka berolahraga, mengkonsumsi nutrisi yang cukup dan berimbang, serta mengendalikan gaya hidup dan pola pikir yang sehat.
Minggu lalu, tepatnya tanggal 29 Juni 2013 tersebut, kami berangkat dengan sesepuh kami. Beliau itu sudah pensiun, tiga tahun lalu. Bahkan, selorohan teman yang lain mengatakan bahwa senior kami ini, sudah melebihi jatah yang diberikan Tuhan kepada rakyat Indonesia, karena sudah melampaui masa kerja dan masa hidup lebih dari 60-tahunan.
Masalah itu belum menggambarkan hal yang aneh. Mungkin masih banyak diantara kita yang sudah berusia setinggi itu. Tetapi, akan sangat jarang ditemukan, bila dalam usia itu, masih kuat naik motor roda dua dengan jarak sekitar 230 km, atau menghabiskan waktu sekitar 6-7 jam perjalanan ! Naik motor pulang pergi. Sendirian. Tak pernah merasakan sakit dari kerja perjalanan itu. Subhanallah.
Fisik yang tegap. Tubuh kekar. Raut wajah yang kencang. Pembicaraan jelas dan tegas. Pikiran pun masih runut dan logis. Tidak ada tanda-tanda ketuaan. Sahabat, dan sekaligus seniorku itu, adalah contoh dari pensiunan yang memiliki kebugaran prima. Kendati tiap hari naik motor Bandung – Subang, untuk mengisi waktu luang pensiunnya, namun kebugaran masih tetap menjadi gambaran dari kehidupannya.
Suatu saat sempat ditanya, apa rahasia dari semua itu ? jawabannya sangat sederhana, ‘shilaturahmi, dan makanan..” ujarnya singkat, “hidup ini, jalani apa adanya, dan jangan jadi beban...” pernyataan yang sering kali terdengar, tetapi sudah membuahkan hasil yang luar biasa bagi dirinya. Orang yang kita bicarakan ini, adalah Drs. Sukirman, yang  kini tinggal di kawasan Bandung Timur. Seorang pensiunan guru di MAN 2 Kota Bandung, dan kini menjadi Kepala Biro Administrasi dan Keuangan, di Sekolah Tinggi Agama Islam Riyadhul Jannah Kabupaten Subang.
Itulah yang saya sebut tadi awal, bahwa kesehatan pun di zaman modern ini, sudah tidak lagi misterius. Kesehatan kita adalah dampak dari perbuatan kita. Kesehatan dan kesakitan yang diderita seseorang adalah buah laku, buah makan, dan buah pikir yang dikembangkannya sendiri. Seseorang yang merespon sesuatu dengan cara salah,akan mengakibatkan beban berpikir yang berat pula. Akibat dari pola pikir yang keliru, dan cara merespon hidup yang tidak efektif, akan melahirkan dampak nyata pada kesehatan atau kesakitan dirinya.
Kendati memang ada aspek misteriusnya, tetapi kemisteriusannya tdiak semesterius masa lalu. Ada aspek lain yang bisa diupayakan, ada sisi lain yang perlu diusahakan, ada dimensi lain yang bisa diikhtiari oleh manusia, sehingga kita bisa mendapatkan kesehatan yang prima. Olahraga rutin, adalah ikhtiar manusia untuk mendapatkan kebugaran dan kesehatan pada umumnya.


[1] Jalaluddin Rakhmat. 2006. Meraih Kebahagiaan. Bandung : Simbiosa.
[2] Donna R. Gabaccia. 1998. We are what we eat : ethnic food and the making of Americans .  USA : President and Fellows of Harvard College
Categories:


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar