Sangat disayangkan, memang. Di bulan Ramadhan, kita saling lontar sebuah kata, yang bisa menyebabkan orang salah paham dan sakit hati. Kita garis bawahi, dengan kata "salah paham" dan "sakit hati".
Mengapa hal ini perlu digaris bawahi ?
Iya, maksudnya itu kalau sakit hati, karena ada kritikan atau koreksian yang benar, maka wajar dia terima, dan harusnya menerima, selanjutnya melakukan perbaikan dan kebaikan. Dengan kesadaran yang dimilikinya, sebuah kritikan, tentunya akan terasa sakit dan menyakitkan. Karena kritik adalah mengoreksi-kenyamanan.
Dalam konteks kehidupan ini, setiap orang tentunya memiliki keyamanannnya sendiri. Ada yang nyaman dengan jabatan publik, jabatan keagamaan, nyaman dengan kekayaan, atau nyaman dengan bentuk-bentuk kenyamanan lainnya. Saat kenyamanan itu, dikritik, tentu akan melahirkan rasa tidak suka, minimalnya, dan akan membalas dengan yang setimpal atau lebih dari itu, karena merasa sakit. Inilah yang saya maksudkan, bahwa kritik adalah mengoreksi kenyamanan.
Seorang guru, dosen atau pakar, dia sedang merasa nyaman dengan jabatan dan paradigma pemikirannya. Namun, manakala ada yang mengkritisi pemikirannya, dia akan melakukan respon balik, dan bahkan perlawanan. Respon keras dan perlawanan itu, adalah bagian dari reaksi terhadap kritik pemikiran yang dilontarkan orang lain, terhadapnya. Hal itu, dia lakukan, karena kenyamanan dengan paradigma pemikirannya terganggu.
Pun demikian, dengan kritikan yang dilakukan Ketua BEM UGM. Kemunculan BEM UGM ini, sangat kontras. Satu sisi, UGM sedang dikritik habis-habisan karena kasus Ijazah Presiden, namun kini UGM menjadi perhatian banyak orang, karena menghadirkan mahasiswa kritis, dan berani. Bahkan, kritikannya tersebut, kemudian memantik perdebatan panjang di media sosial, karena ada emoticon monyet.
Lantas, apa yang menjadi masalah ? Kita, akan sedikit membelokkan bahasan ini. Yakni, memokuskan diri pada monyet itu sendiri.
Saya, termasuk bukan melek medsos. Tetapi, jadi terpaksa mencari tahu mengenai emoticon monyet. Di medsos itu, atau kalau kita klik medsos, maka akan ditemukan informasi bahwa. Berasal dari filosofi Jepang Three Wise Monkeys, emoji ini melambangkan "tidak melihat/mendengar/berbicara kejahatan", namun sering dipakai untuk candaan santai, ekspresi tersipu, atau keheranan.
- 🙈 Monkey See No Evil (Monyet Menutup Mata): Sering dipakai untuk menunjukkan rasa malu, takut, tidak ingin melihat sesuatu yang memalukan/menakutkan, atau menutup mata dari kenyataan.
- 🙉 Monkey Hear No Evil (Monyet Menutup Telinga): Umumnya digunakan untuk mengekspresikan ketidakpercayaan, keheranan, atau berpura-pura tidak mendengar gosip/informasi.
- 🙊 Monkey Speak No Evil (Monyet Menutup Mulut): Sering diartikan sebagai "ups", "saya tidak bisa berkata apa-apa", atau menahan diri agar tidak membocorkan rahasia.
- 🐵 Wajah Monyet (Monkey Face): Melambangkan perilaku nakal, suka bermain, atau ekspresi lucu
Bila demikian adanya, apakah emoticon itu, kemudian menjadi bagian-ekspresi kritik pedas pada pihak lain ? tentunya, tidak selamanya, atau tidak semua konteks bisa demikian adanya. Namun, ada hal pasti, bahwa dalam situasi panas, dan 'gairah kritik' dan 'gairah-defensive' sedang muncul, maka pengiriman simbol-simbol tertentu, akan mudah memancing, penafsiran di luar konteksnya. Terlebih lagi, bila kemudian, diawali atau dibubuhi narasi yang memberikan dukungan terhadap makna emoticon tersebut.
Hal yang pasti, kita hari ini, dihadapkan pada kosa kata yang tentunya tidak biasa. Sebuah kata, simbol, atau kode, bila diberikan dalam konteks yang berbeda, maka akan melahirkan penafsiran yang berbeda pula.
Sayangnya, hari ini, gara-gara emoji monyet itu, shaum ramadhan kita, sedikit terganggu. Kehadirannya, diwaktu yang tidak tepat, menyebabkan kita energi kita tersulut. Entah, karena tersinggung, tersentuh, atau terenyuh.
Namun, semoga tidak demikian !
Dasar Monyet... Ndasmu Monyet !!!

0 comments:
Posting Komentar