Baru satu. Dan, memang untuk perjalanan sekitar 3 (tiga) hari. Perjalanan dinas. Ke luar kota. tepatnya ke Jakarta. Perjalanan inilah, yang dialami, dan teralami. Untuk selama 3 hari lamanya. Hari ini, baru satu hari perjalanan.
Ada yang aneh ?
tentu, aneh tidak aneh, bergantung pada pengalaman hidup, dan penilaian hidup. Semakin kaya pengalaman hidup seseorang, maka semakin beragam pula, sudut pandang yang bisa dikemas, dikembangkan atau dikonstruksi. Pada ujungnya, beragam hal bisa dilihat dari sudut pandang baru, dan menggairahkan.
Hal berbeda, akan terjadi, kepada seseorang yang sekedar melihat sudut-pandang mata yang miskin dan terbatas, maka pada ujungnya, dia akan mellihat kenyataan hidup dan dinamika hidup sebagai sesuatu yang biasa, dan atau monoton.
Demikianlah hidup dan kehidupan.
Seperti yang teralami pada hari pertama, perjalanan hidup.
Berdiri dari sebuah kamar, lantai 21. sebuah hotel, di kawasan Jakarta Barat, tepatnya di jalan Hayam Wuruk. Di sinilah, tubuh ini berdiri. Tidak tegak. Agak sedikit merunduk, karena ditakutlah oleh sebuah ketinggian, sebuah ketakutan yang sudah lama diidap. Ketakutan inilah, yang menghadirkan sebuah keanehan dalam hidup dan kehidupan ini.
Aneh. Muncul pertanyaan, apakah, ketakutan ini, muncul lebih besar seiring dengan usia hidup ?
Sewaktu masih muda belia. Rasanya, jangankan untuk sekedar berdiri di atas gedung, dan menatap ke bawah ? untuk naik pohon kelapa, memanjat, dengan tangan kosong, dan mengambil buah kelapa pun, masih sanggup untuk dilakukan. Tetapi, hari ini, rasanya, sangat sulit untuk dilakukan.
Masih ingat pula. Tadi malam bermimpi. Seorang anak kecil, masih dibawah usia lima tahunan. Naik ke jendela hotel itu, dan kemudian merangkak di pinggiran jendela luar, tepat dibawahnya adalah jalanan yang jauhnya sekitar 21 lantai tersebut.
Kaget, dan kekhawatiran muncul dan menguat. Kemudian diraihlah anak itu, untuk diselamatkan. Begitulah maksud dan perasaan ku ini. Hal yang aneh, raut wajah yang anak kecil itu, tidak ada satu guratan kekhawatiran sedikit pun. tinggi gedung tidak dijadikan pikiran, dan bahkan bibir jendela hotel pun, tidak menyebabkan kemirisan.
Sekali lagi, apakah kejadian ini, membenarkan pemikiranku saat ini, bahwa ada perkembangan yang nyata, antara usia dengan ketakutan yang bisa muncul dalam diri seseorang ?
Mungkin jadi, dan mungkin demikian adanya. Di pagi ini, ditingginya hotel ini, sedikit terketuk hati dan pikiran, untuk kembali, menemuka sumber ketakutan yang dirasakan manusia.
Secara pribadi, tidak yakin, bahwa dirinya memiliki masalah takut ketinggian, karena jabatan tidak terlalu tinggi, posisi sosial pun, tidak demikian adanya. Sumber ketakutan itu, bukan karena masalah ketinggian, tetapi jatuh dari ketinggian. "Iya, manusia bukan takut ketinggian, tetapi takut jatuh dari ketinggian. Sehingga, untuk mempertahankan hal itu, banyak orang melakukan ragam ketinggian dalam memperhatikannya..."

0 comments:
Posting Komentar