"siap..ya, kita sarapan pukul 06.00, langsung pulang...", ajak rekan satu kota. Posisi hari ini, ada di salah satu hotel di Jakarta, tengah mengikuti kegiatan yang dilaksaanakan Kementerian Pusat. Dengan cepat pula, saya mencoba untuk mengiyakan, dengan maksud, siap untuk pulang ke Bandung leih awal, dari yang direncanakan.
"Wah, lebih pagi pulangnya, ya.." rekanan satu kamar memberikan komentar. Beliau dari MAN 1 Kota Jogjakarta. Kang Wahid ini, adalah salah satu peserta dalam kegiatan itu, dan mendapat tempat satu kamar. Mendapat komentar serupa itu, saya mengangguk dpertanda mengiyakan, terhadap tangapan yang diberikannya.
Sepintasan, kejadian itu, merupakan hal yang sering terjadi pada siapapun, dan di mnapun, untuk konteks yang berbeda-beda. Siapa pun, bisa mengalamai, ada perubahan jadwal, waktu, atau keputusan, dalam menghadapi sesuatu hal. Namun, tidak semua orang bisa menyadari, terhadap apa yang terjadi, dan bagaimana mensikapinya.
Di sinilah, kesempatan, kita untuk melakukan refleksi. Setidaknya, saya, tertarik untuk bertanya dan mempertanyakan terhadap diri sendiri, terkait apa yang terjadi hari ini. Dengan secara tidak sadar, saya memberikan reaksi terhadap kehidupan ini, hidup kita ini, apakah memburu waktu, diburu waktu, menunggu waktu, atau ditunggu waktu ? entahlah, saya tidak menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan situasi dan kondisi hari ini.
Pengalaman bathin yang terasa, ada faktor luar atau pihak lain, yang turut mempengaruhi keadaan ini. Satu diantaranya, kepentingan dari penjual jasa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, maka kemudian memaksa kami harus melakukan perubahan jadwal. Perubahan jadawalnya itulah, yang memaksa saya untuk mengubah waktu.
Kehidupanku, diatur waktunya oleh pihak lain. Itulah pernyataan sepintasan. Waktu orang lain yang mengatur kehidupan kita. Karena ada kebutuhan dan kepentingannya, maka kemudian, kita yang harus menyesuaikan dengan waktu-waktu yang ditetapkan orang lain.
Lha, bukannya, kita, atau diri kita sendiir, yang harus mengatur waktu ?
Kalimat serupa itu, tentu kalimat yang terlalu ambisius. Karena sejatinya, tidak ada manusia yang bisa mengatur waktu. Waktu akan berjalan natural, dan mandiri, sesuai dengan peredaran yang dia jalaninya. Melakukan atau tidak melakukan apapun, waktu akan berjalan. Waktu adalah entitas kehidupan yang berada di luar kendali dan kuasa manusia. Karena itu, adalah tidak bijak bila kita mengatakan mengatur waktu.
Pernyataan yang lebih tepat adalah kita mengatur ulang kelakuan kita, sesuai dengan perjalanan waktu yang tersisa. Misalnya, jika ada waktu 30 menit jelang waktu makan pagi, maka ada berapa kegiatan lagi yang bisa dilkaukan untuk waktu sebanyak itu, misalnya berganti baju, nonton tv atau dengerin musik, atau membaca beberapa lembar buku bacaan. Di situlah, kenampakan yang ada itu, adalah mengatur kelakuan kita, dalam mengisi waktu tersisa, bukan kita yang mengatur waktu.
Bila demikian adanya, maka realitas yang ada itu adalah memburu waktu ?
Tidak juga. Waktu, ditungguin atau diburu, adalah sama. Dia akan datang tepat pada waktunya. Saat manusia diam, waktu akan diam, dan saat kita bergerak pun, waktu akan datang pada waktunya. Manusia tidak mampu untuk mempercepat atau memperlambat datangnya waktu. Makna yang ada, sekedar merubah persepsi manusia, sehingga muncul perasaan 'waktu lebih cepat" atau 'waktu lebih lambat'.
Karena itulah, fenomena yang ada, bukan kita yang memburu waktu, tetapi jangan-jangan, kitalah yang diburu waktu. Suka tidak suka, bergerak ataupun diam, waktu akan menghampiri kita, dimanapun dan dalam kondisi apapun....
bagaimana menurut pembaca !

0 comments:
Posting Komentar