Just another free Blogger theme

Selasa, 08 November 2022

Seorang gadis anggun berjilbab tengah bekerja giat disebuah taman di depan rumahnya. Ya.. sebut sajalah, gadis ini namanya adalah Nina. Nina sebagai gadis usia 18 tahunan di tahun ini, sangat lincah dan ceria. Bahkan orang-orang yang kenal dan akrab dengannya sering menyatakan bahwa kenal dengan Nina sangatlah menyenangkan selain memberikan suasana yang gembira, juga dapat diajak untuk curhat tentang hidup dan kehidupan. Maklum, Nina selain memiliki otak yang cerdas, dia juga adalah gadis yang sholeh, rajin ibadah dan mau membantu orang  lain yang suka membutuhkannya. Nina, di hari itu sedang bekerja di taman didepan rumahnya sendiri.

“Ninin…”. Itulah panggilan sayang kepadanya. Setiap orang yang telah kenal secara lebih pribadi, tidak pernah memanggilnya dengan nama Nina, namun mereka cukup menyebutnya dengan panggilan sayangnya ini. Setiap minggu pagi, Nina berusaha untuk bekerja di taman rumahnya itu. Apa yang biasa dikerjakannya ? banyak hal tentang ini.

Di taman di depan rumah ini, Nina melakukan banyak pekerjaan. Selain memnamtu orang tuanya masak di dapur, mencuci pakaian orang tua dan adik-kakaknya, juga membersihkan taman dari sampah yang membau, atau kotor di sana. Kegiatan ini, dilakukannya setiap hari sebelum berangkat ke kampus untuk kuliah.

Salah satu pekerjaan yang dia lakukan, adalah memelihara tanaman yang ada di sana. Misalnya saja, menyiram tanaman. Air yang digunakannya adalah air yang ada di sekitar rumahnya. Khususnya dari sungai. Kebetulan sekali di dekat  rumahnya itu ada sungai kecil mengalir. Air itu memang tidak bersih seperti halnya air ledeng, atau air sumur. Layaknya air sungai, tidaklah pernah ada yang bersih. Namun, ia tetap menggunakannya juga. Kemudian, si tanaman ini pun dipupuki dengan kotoran-kotoran binatang. Inilah yang oleh kelompok ilmiah disebutnya pupuk kandang, atau dalam istilah yang lainnya ada yang disebut dengan kompos. Kompos atau pupuk kandang, adalah sisa kotoran, baik itu yang berasal dari kambing, sapi atau ayam yang telah dipendam untuk beberapa hari sehingga menjadi kompos. Bau memang, tapi itu adalah sejatinya kotoran. Kotor memang, tapi itu adalah takdirnya kotoran. Nina, tidak pernah kapok menghadapi hal-hal yang serupa itu. Kendatipun seringkali, setelah bekerja di taman ini, tubuhnya belepotan kotoran dan bau. Namun, ia memiliki keyakinan tentang masa depan yang membahagiakan. Apa harapannya ?

Dalam benak Nina, pekerjaannya hari ini adalah untuk kehidupan di esok hari. Kerja keras hari ini, adalah kebahagian dan ketenangan di masa depan. Inilah salah satu cita dan harapan yang ada dalam benaknya. Dan memang itulah yang terjadi dihari-hari belakangannya. Taman yang ada di depan rumahnya begitu indah. Bunga-bunga mekar sudah, harum semerbak dengan warna-warni kembangnya sungguh sangat menyenangkan. Setiap orang yang menatapnya, akan dibuatnya terpesona, dan setiap yang mencium wewangiannya akan dibuatnya  terrenyuh bathinnya, dan setiap yang menyentuh  bunga-bunganya akan dibuatnya terayunkan  kedunia impian yang terciptakannya sendiri. Bunga ini memang indah, dan setiap insan berhasrat untuk memilikinya sendiri.

Taman itu, telah menjadi besar dan indah dalam pandangan setiap insan. Padahal, tumbuhan itu adalah tumbuhan yang dulu disirami air dari sungai dan juga dikasih pupuk  dari kotoran hewan dan sisa-sisa sampah. Bagi Nina sekarang, adalah tinggal menikmati hasilnya yang kini telah tampak di depan  mata.

 

Setelah mencermati masalah di atas, muncullah sebuah pertanyaan dasar bagi kita saat ini, yaitu pelajaran apakah yang kita dapatkan dari falsafah tumbuhan di atas ? terlebih-lebih jika kita kaitkan dengan kehidupan kita saat ini ?

Tak banyak yang ingin kita kemukakan di sini, kita hanya ingin mengemukakan satu hal saja yang berkaitan dengannya. Sebuah pelajaran tentang cara hidup di muka bumi ini.

Ibarat sebuah tanaman di atas, siramannya air kotor dan simbahannya kotoran sapi dan kambing yang setiap hari datang bertubi-tubi bukanlah sesuatu kehinaan bagi kita. Air kotor dari sungai, dan kotoran binatang yang datang, bukanlah sebuah pukulan yang mematikan bagi tumbuhan, malahan menjadi sebuah energi utama dan dasar untuk tumbuh dan meningkat kualitas hidup. Alangkah sangat disayangkannya sebuah tumbuhan yang tidak pernah disiram, dan di beri kotoran sapi. Dia akan mati secara perlahan.

Di lain pihak, aku secara manusiawi akan juga melihat kematian itu ada di depan mata, jika tumbuhan yang ada ditaman itu disiramnya dengan air soda, sirup atau coca cola. Mengapa demikian ? jawabannya karena air itu tidak cocok jika  dijadikan  untuk menyiram tanaman. Apa makna semua ini ?

Makna dasar dari cermatan kita kepada analisis ini, adalah sebagai manusia tidaklah mesti mati diledek oleh manusia dengan kotoran-kotoran apapun juga. Manusia tidaklah mesti hancur meskipun harus menghadapi kritikan dan cacian dari pihak lain. Justru sebaliknya, semakin bertumbuk kotoran sapi itu menimpa, dan semakin baunya kotoran sampah yang tiba, semakin tinggi sumber energinya bagi tumbuhan dan semakin subur tanah itu sehingga mampu menghidupkan tumbuhan itu, dan semakin besar. Dengan kata lain, orang yang sering kali dikritik, tidaklah mesti minder. Tetapi sebaliknya, mestinya mampu meningkat daya hidup dan kehidupan sehingga menjadi manusia yang berkualitas.

Kritik bagi kehidupannya, adalah pendorong untuk memperbaiki kualitas kehidupan dirinya. Kritik adalah daya pengingat akan kekeliruan perjalanan kita, sehingga kita perlu mewaspadai jalan yang salah.

Ibarat sebuah tanaman di atas, kendatipun kita disirami oleh air sungai yang kotor, dan juga kotoran sapi, kambing  dan ayam tetapi  tidak pernah terbersit dalam pikiran tumbuhan ini untuk mengeluarkan bunga, daun  atau buah yang berbau air sungai kotor, atau kotoran sapi. Tidak pernah hal ini terjadi dalam kehidupan tumbuhan ini. Justru kejadiannya sangatlah berbalikan. Tumbuhan yang dulu disirami air kotor, dan kotoran binatang kini tumbuh menjadi sebuah tanaman yang tinggi besar, dan memiliki buah yang lebat dan manis rasanya. Demikian pula dengan tumbuhan bunga. Bunga tumbuh menjadi bunga-bunga yang indah dengan warna-warni bunganya. Dan lebih hebatnya lagi, yang menikmati hasil dari semua hal itu, adalah manusia itu sendiri. Inilah yang terjadi, tanaman itu memberikan imbalan ‘emas’ kepada si penyiram dan pemupuk di masa lalu itu.

Dengan perjalanan pemikiran seperti ini, kita dapat mencatat beberapa perjalan menarik untuk kita renungkan secara seksama.

1.      Dalam ukuran tertentu, masalah penampilan bukanlah hal yang utama. Ibarat air kotor, dan kotoran sapi. Ini bukanlah sebuah ukuran yang universal untuk diperlakukan sebagai sesuatu yang kotor juga. Sebab, air kotor, dan kotoran itu sendiri ternyata memiliki fungsi yang besar bagi tumbuhan.

2.      Dengan kata lain, semua kotoran itu sendiri, bukanlah untuk memperpuruk kehidupan  tumbuhan, melainkan  mesti dijadikan pemicu dan pemacu untuk kita demi masa depan kita sendiri.

3.      Dalam konteks kehidupan sosial, kritik dan saran adalah sesuatu yang konstruktif  bagi kita. Kritik mestilah dijadikan pemicu dan pendorong bagi kita untuk tetap tumbuh, sebagaimana tumbuhnya tanaman ditaman kendatipun mesti diguyur dengan air yang kotor setiap hari.

4.      Lebih jauh dari itu, kendatipun kita diperlakukan secara seronok secara material, namun tetap kita harus mampu memberikan manfaat kepada siapapun juga yang ada disekitar kita termasuk orang  yang mengguyur kita dengan air kotoran, atau “mengencingi” nya.

            Sebuah masyarakat, akan ditandai oleh adanya budaya yang ada di lingkungan masyarakatnya. Bahkan, tak jarang jika seorang pengamat mengatakan bahwa kualitas manusia secara kolektif akan ditandai oleh mayoritas kualitas budayanya itu sendiri. Budaya yang ada di lingkungan masyarakat itulah yang akan turut mewarnai dinamika kehidupan manusia itu sendiri secara individual.

            Ada hal yang menarik dalam telaahan kaum antropologis, Ralp Linton misalnya, dia menyatakan bahwa ada relasi dan korelasi positif antara kebudayaan dengan latar belakang kepribadian. Untuk lebih lanjutnya, sebagai sebuah gejala sosial, kepribadian seseorang bisa mempengaruhi gerak dinamika perubahan  kebudayaan kolektifnya, atau  kebudayaan kolektifnya itulah yang akan mempengaruhi terhadap kepribadian seseorang. Maka tidak heran jika, seorang yang memiliki keterkekangan psikologis, akan jua mengalami keterkekangan budaya. Kelompok masyarakat yang   mengalami kultur demikian akan berbeda secara signifikans dengan kelompok masyarakat yang memiliki ruang kebebasan yang lebih luas daripadanya. Atau dengan istilah lainnya,  perkembangan kebudayaan sangat tergantung kepada tingkat kebebasan seorang anak adam untuk melakukan ekspresi dan eksperimentansi kebudayaan di lingkungan masyarakatnya. Oleh karena itu, tidaklah mengagetkan jika antara satu masyarakat  dengan masyarakat yang lainnya akan memiliki perkembangan yang berbeda
Categories:


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar