Bencana, ada di depan mata kita. Ada di sekitar kita. Terasa oleh tubuh kita, dan juga perasaan serta pikiran kita. Bencana ini, tak pernah janjian, namun kerap kali datang. Datangnya, tak pernah ada pemberitaan, namun beritanya tetap ada dalam ingatan kita. Entah, dan mengapa, kita merasa tak pernah mengundang bencana, tapi bencana dengan pasti dan yakin, datang karena undangan manusia itu sendiri.
Di sinilah. Lisan kita sampai berbusa-busa, merasa tidak pernah mengundang bencana. Tak pernah sekalipun mengundangnya. Bahkan, terbersit dalam pikiran pun, tak pernah ada pikiran untuk mengundang bencana. Karena memang, saat melakukan banyak hal, mungkin jadi, dia tidak banyak mikir apa-apa. Sehingga, saat dikunjungi sama bencana, manusia banyak yang mengelaknya.
"tidak..bukan karena ulah pengusaha, itu adalah hukum alam.."
"bukan salah kebijakan, tapi curah hujan ekstrim yang menimpa daerah kita..."
"tidak ada yang liar, semua yang ada sudah ada izinnya.."
Itulah pembelaan kita, terhadap ragam tuduhan yang menghampirinya. Dari argumentasi itu jugalah, kita melihat bahwa banyak manusia yang merasa tidak mengundang bencana, tapi bencana datang dengan tegas dan jelas. Dengan ungkapan nyata, "kami datang, karena ada undangan..." ungkap sang Banjir, yang diiyakan pula sang Longsor tanah.
Tapi percayalah. Saay, bencana sudah datang, maka argumentasi apapun yang dikeluarkan dari lisan kita, tidaklah bisa menutupi alasan, mengapa dia datang. Serapat apapun kita mengelak atau menganggap tidak pernah mengundangnya, namun sang Bencana, datangnya, pasti bukan tanpa alasannya.
Sekarang, apakah masih tepat untuk mengelak dari kenyataan ini ?
Adalah pandangan orang Timur yang relevan untuk direnungkan. Temukan hikmahnya. Yang masih merasa benar, pahami, bahwa hutan sudah menjadi gundul, eh maksudnya nasi sudah jadi bubur, mari temukan solusinya ke depan. Semakin banyak argumentasi untuk bela diri, hanya menyebabkan antipasi dan kekecewaan dari orang yang menjadi korban.
Si Bencana datang, karena ada stimulasi yang menariknya. Setelah datang, dia buta. Si Bencana itu tidak punya mata. Siapapun, dan daerah manapun, jika terlewati, akan dilabrak juga. Pelaku kejahatan ekologinya, bisa jadi, tidak ada ditempat, dan masih selamat dari hantaman bencana, tetapi kerusakan ekologi sudah nyata terjadi.
Dalam konteks inilah, jadilah kita, sebagai pribadi yang berani untuk berpikir atau merefleksikan kejadian ini. Jujurlah, dan bermeditasilah terkait masalah ini. Kemudian, ambil langkah terbaik dalam menyelesaikan masalah ini.
Publik memang kadang geregetan, bagaimana meyakinkan para penguasa atau pengusaha. Di benak publik sangat sederhana, bahwa bencana itu pasti diundang. Apakah masyarakat yang mengundangnya ? ataukah kondisi alam itu sendiri ? sedangkan, bila kondisi alam yang mengundangnya, lantas siapa yang menggauli alam sehingga berubah menjadi alarm mengundang bencana itu sendiri ?
Hindari sikap dan pribadi yang tafakhur, sombong atau ujub. Orang yang tafakhur, cenderung sombong dan tidak mau mengakui kesalahan atau kelemahan diri. Orang yang tafakhur biasa dimiliki oleh orang yang memiliki kelebihan harta atau kekuasaan. Dengan sikapnya itu, dia ingin merasa bersih dihadapan manusia. Nilai pencitraan lebih mengedepankan, dibandingkan nilai pengorbanan.
"sawit sama dengan hutan.."
"bencananya, masih terkendali..."
"kita sudah kerja, tolong hargai kami, dan beritakan pekerjaan kami.."
Sebagai masyarakat, mari kita renungkan bersama. Apakah pernyataan itu, hasil dari sebuah tafakkur atau tafakhur ? apakah pernyataan dan statement itu, adalah buah dari pikiran positif dalam memahami nurani publik ? atau malah menjadi alarm yang mengundang bencana akan datang lagi ?
Duh, andai saja, kita masih bingung, emangnya, apa sih perbedaan tafakkur dengan tafakhur itu ?
Untuk memberikan tambahan wawasan. Saya mencoba bertanya ke Teh AI, apa bedanya psikologi orang yang tafakkur dan tafakhur ? jawabannya sangat luar biasa. Menurut Teh AI, tafakkur itu fokusnya adalah untuk merenungkan kebesaran Tuhan, sifatnya terpuji, dan tujuannya adalah kedekatan pada sang Pencipta, dengan orientasi ke akhirat. Hasilnya adalah rendah hati atau tawadhu.
Kemudian, psikologi orang yang tafakhur, katanya, fokusnya kehebatan diri atau kesombongan, sifatnya tercela, tujuannya adalah mendapatkan pujian dari manusia atau makhluk. Hasilnya yakni kesombongan. Sombong itu, mengagungkan kemampuan diri, dengan cara merendahkan orang lain.
Bagaimana menurut pembaca ?

0 comments:
Posting Komentar