Just another free Blogger theme

Rabu, 31 Desember 2025

Setiap tiba malam tahun baru, kilatan pertanyaan 'apa makna tahun baru", selalu muncul. Muncul, hadir, dan menggoda pikiran. Seperti malam ini juga. Saat anak terkecilku merengek, ingin main di malam ini, dengan alasan tahun baru, malah kemudian muncul pertanyaan itu lagi.


Emang, apa makna tahun baru buat kalian ?

"Iya, kan, sekarang malam tahun baru, harusnya boleh dong main, seperti orang lain juga, banyak yang  main, liburan atau hiburan", ungkapnya. Kiranya, jawaban yang serupa, akan dikedepankan oleh beberapa orang diantara kita, bila dihadapkan pada pertanyaan sejenis, di malam seperti hari ini. Jawaban itu, rasanya tidak akan jauh berbeda dengan harapan, atau hasrat sejumlah orang yang ada di sekitar kita, yang bermaksud untuk mengisi malam tahun baru ini.

Sebelum ada kebijakan yang melarang, sejumlah kegiatan di malam tahun  baruan, mungkin kita  masih ingat, perayaan-perayaan tahun baru. Ada pesta rakyat, pesta seni, pawai atau karnaval, dan juga pesta kembang api, atau ada bentuk lain yang bisa dilakukan masyarakat dunia, dalam menyambut tahun baru. Sudah tentu, gejala sosial serupa itu, adalah hal biasa, dan sudah menjadi keumuman dalam budaya masyarakat kita, dan masyarakat dunia.

Kembali pada sebuah renungan, atau sekedar refleksi. Dalam pikiran ini, kadang suka bertanya-tanya, apa bedanya kita, atau manusia, dengan ayam atau hewan yang ada di sekitar kita, saat menghadapi malam tahun baruan? bukankah mereka juga, akan menghadapi, dan menemukan hari esok sebagai hari baru di tahun baru ?  ayam, sapi, kerbau, kucing, atau hewan liar yang lainnya, pun akan menemukan ada hari esok, yang oleh manusia disebut sebagai hari di tahun baru. Lantas apa bedanya dengan mereka itu ?

Inilah yang penulis ingin sebut, sebagai sebuah keunikan-kesadaran manusia.

Sejatinya, ayam, sapi, kerbau, kucing, termasuk juga rumah, mobil, motor atau apapun yang ada di dunia ini, secara serentak bersama manusia, akan menjalani perjalanan waktu menuju hari esok yang disebut sebagai hari pertama di tahun baru. Buktinya apa ? ya, setidaknya, pada umumya, hal-hal yang kita sebutkan tadi, bila tidak dicuri atau disembelih di malam ini, mereka akan bertemu lagi dengan kita di hari esok, sebagai makhluk yang bertemu dengan hari pertama di tahun baru. 

Sama dengan kita ! Sama dengan Manusia, akan bertemu dan menjalani hari pertama di tahun baru.

Lha, kok sama ? masa sih ?

Tentu saja. Kejadian dan pengalaman hidupnya, akan sama, bila manusia pun memosisikan diri sebagai makhluk mati, atau makhluk hidup tak berkesadaran. Misal saja, bila ada orang yang dengan sengaja, tidur langsung selepas shalat isya, maka dia akan bersama-sama dengan orang lain, yang merayakan malam tahun baru di pesta seni, bertemu dengan hari esok, di awal tahun baru.

Sekali lagi. Andai saja, Anda tidur pulas di malam ini, kemudian ada tetangga yang merayakan malam tahun baru dengan pesta seni atau pesta kembang api, maka esok pagi, mereka akan bersama-sama menjalani hidup di hari pertama, awal tahun baru. 

Benarkan, demikian ? 

Jika kita memberikan jawaban afirmatif, atau mengiyakan, maka pertanyaan awal muncul lagi, lantas apa bedanya, antara orang tidur dengan orang yang tidak tidur, atau antara ayam dengan kita dalam menjalani malam hari jelang tahun baru ?

Dalam hemat penulis, inilah yang menghantarkan kita pada titik kesadaan eksistensial hidup dan kehidupan. Manusia yang sadar akan ruang-waktu, sadar akan ada perubahan dan pergeseran waktu, adalah mereka yang sadar, melek, atau 'turut merayakan' pergantian waktu jelang tahun baru. Sementara orang yang tidur, atau hewan dan benda mati yang ada di sekitar kita, adalah makhluk yang kehilangan kesadarannya dalam menjalani pergerakan ruang-waktu.

Peralihan hari atau tahun, pada dasarnya adalah perjalanan astronomis. Ditunggu atau tidak, disadari atau tidak, dinantikan atau tidak, dia akan tetap berjalan. Andaipun kita diam, atau manusia tertidur pula sekalipun, waktu akan tetap berjalan, dan pergantian waktu akan terus terjadi. Itulah yang disebut perjalanan waktu astronimis-mekanis (pendeknya astro-mekanis). Artinya, peralihan waktu itu, adalah sebuah keniscayaan dari sebuah pergerakan ruang-waktu dalam kehidupan ini.

Dampak dari adanya pergerakan astro-mekanis ini, maka semua makhluk yang ada di bumi khususnya, dia akan menjalani perjalanan ruang-waktu, dan peralihan baru, dan atau tahun baru. Tidak ada bedanya. Semua makhluk akan dihadapkan dan berhadapan dengan tahun baru. Dirayakan atau tidak dirayakan, peralihan menuju tahun baru, akan terjadi.

Bahkan, bisa j adi, andai saja, di planet bumi ini, tidak ada manusia, dan belum ada sistem penanggalan, maka perjalanan astro-mekanis ini, akan berjalan. Hal ini, adalah fakta realistis dan objektif, terkait dengan gejala peredaran benda-benda di ruang angkasa. Realitas peredaran benda angkasa yang sifatnya material dan mekanis, adalah sesuatu yang faktual dan objektif.

Implikasi pemikirannya, maka, bila saja, tidak ada sistem penanggalan sebagai produk budaya manusia, apakah peralihan waktu itu, akan menjadi sesuatu yang istimewa, sebagaimana yang dirasakan kita saat ini ? 

Atau lebih lanjut dari itu semua, apa signifikansi pemikirannya dengan kehidupan kita hari ini, yang ingin atau berhasrat untuk merayakan tahun baru ? atau yang mengisi kegiatan malam pergantian waktu, dengan sejumlah kegiatan khas, dibanding dengan kegiatan rutin lainnya ? Bila saja, kita meyakni bahwa perjalanan benda angkasa itu, adalah sesuatu yang ril, objektif dan niscaya, lantas apa maknanya bagi kita, dengan perayaan tahun baru ini ?

Sudah dinyatakan sebelumnya, bahwa penanggalan adalah sebuah produk budaya. Sebagai produk budaya, kebermaknaannya akan selaras dengan pemaknaan komunitas pendukungnya. Tidak akan ada pemaknaan, bila tidak menjadi bagian dari pendukung produk budaya tersebut. Contoh kecilnya, malam ini, bisa disebut malam tahun baru menurut versi pendukungnya, dan bukan malam tahun baru, bagi komunitas yang  tidak mendukungnya.

Fakta yang kita temukan dan rasakan,  bahwa setiap komunitas budaya di dunia ini, memiliki sistem penanggalan yang khas. Maka karena itu, ada kalender China, Hijriah, Masehi, Jawa, Sunda, dan juga kalender budaya masyarakat dunia lainnya. Bahkan, ada pula masyarakat tradisional yang tidak mengenal sistem waktu dan  kalender, seperti yang dimiliki Suku Hadzabe di Tanzania. Namun untuk konteks yang memilliki sistem kalender, maka Sistem penanggalan itu, sifatnya antropologis, dan tidak sama. Karena itu, malam pergantian tahunnya pun berbeda-beda.

Di sinilah, dapat ditemukan, kelompok orang yang sadar, dan ingin mengisi peralihan waktu itu, dengan sebuah kesadaran. Kesadaran nyata, bahwa dalam beberapa hari ke depan, akan terjadi pergantian waktu. pesta kembang api, pesta rakyat, karnaval atau yang sejenisnya, hanyalah instrumen kesadaran dan penyadaran, bahwa ruang-waktu dalam perjalanan hidup tengah terjadi dan akan terjadi.

Lebih jauh lagi, ada orang yang menjadikan momentum peralihan waktu ini, sebagai waktu meditasi mengenai apa yang sudah terjadi, sedang terjadi, dan akan dirancang untuk hari esok. Mereka sadar dan menyadari ada perlihan waktu, sebagai perjalanan hidup dan peluanh hidup. Mereka sadar, saat menghadapi peralihan itu , setidaknya ada perjalanan hidup yang sudah terjadi, dan peluang hidup yang masih bisa dibuka dan dirancang. Kesadaan itulah, yang kita maksudkan dengan kesadaran antropologis. 


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar