Just another free Blogger theme

Sabtu, 31 Januari 2026

Selepas reformasi, kita dihadapkan pada situasi baru, aneh, tetapi juga mengkhawatirkan. Situasi yang dimaksudkan itu, adalah situasi mabok-retorika.  Kondisi ini, hampir terjadi, disetiap level, jenjang dan komunitas. Apakah hal ini, sebagai buah dari reformasi, cabang reformasi, akar reformasi, atau masalah sampah reformasi ? kita semua, sampai hari ini, belum memiliki jawaban pasti. Bahkan, andaipun, wacana ini dilanjutkan, bisa jadi, pembaca pun, ada yang memberikan komentar, sebagai salah satu bentuk kemabokan retorika.


Lha mengapa demikian ?

Jumat, 30 Januari 2026

Dalam masalah hukum, terlebih lagi tindakan atau perbuatan yang beririsan dengan masalah pidana, tampaknya tidak mudah. Begitulah, pandangan umumnya. Atau, setidaknya begitulah menurut saya, atau kita yang menjadi penonton, penyaksi, atau pengamat amatiran. Melihatnya dari jarak jauh, dan merasakannya sesuai dengan pengalaman hidup kita sendiri.



Kita pun bisa memaklumi pandangan serupa itu.  Karena  dalam prakteknya, memang tidaklah mudah untuk menentukan keputusan, terkait tindak pidana seeorang. Salah atau benar, tentunya ada koridor reguaslasinya, tetapi untuk menentukan siapa yang besersalah, dalam satu kasus tidaklah mudah.

Ada pepatah, "lebih baik melepaskan seribu orang yang bersalah daripada memenjarakan satu orang yang tidak bersalah". Prinsip inilah, yang menjadi panduan moral kehati-hatian, dalam menetapkan keputusan yang merugikan hak asasi manusia.

Pada sisi lain, khususnya dalam tatanan praktis, kita semua bisa dihadapkan pada situasi dilematis, yang menuntut kehat-hatian level dewa, dan moralitas level malaikat. 

Perhatikan dengan seksama. Misalnya, kita dihadapkan pada kasus, pelapor yang menyatakan bahwa anaknya korban pembunuhan. Si pelapor, menunjukkan bukti, ada saudaranya yang sudah menjadi mayat, akibat tusukan. Kemudian, aparat berwenang memanggil tersangka, baik itu dengan suka rela atau terpaksa.

Saat dikonfirmasi, si tersangka melakukan pembelaaan diri, bahwa "saya tidak melakukan pembunuhan, tetapi, melakukan tindakan pembelaan diri, karena si tersangka hendak membegalnya.."

Si pelapor tidak terima, akan tuduhan itu. Dia mengaku, bahwa si korban, adalah anak yang baik, dan tidak memiliki karakter sebagaimana yang dituduhkan tersangka. Tidak ada pengetahuan (atau karena berusaha untuk  beladiri juga), bahwa anggota keluarganya itu, adalah seorang kriminal.

Dihadapan situasi ini, aliran hukum manakah yang akan digunakan seorang polisi atau hakim? bila saja, pihak polisi atau pengadilan tidak menjelaskan hal ini ke publik,  maka persepsi ketidakadilan akan terus bergulir, dan menciderai penegakkan hukum di Indonesia.

Kita memang sangat prihatin. Sejumlah tindak pidana terjadi di negeri kita. Namun, publik mendapat sajian yang kurang menyenangkan. Orang yang membela diri, dan kemudian bisa mengalahkan pembegal malah dituduh pembunuh. Kalau hal ini, tidak diluruskan, maka gejala ini akan memperpanjang rangkaian keanehan di negeri ini.

Seorang pejabat negara, mampu memberikan keuntungan pada negara, walau harus melakukan kebijakan 'beda' dengan regulasi yang ada, malah kemudian dijerat hukum. Tuduhan koruptor, langsung mengalir, padahal tidak satu rupiahpun, aliran dari "kerugian" itu, mengalir ke sakunya. Inilah, gejala, anehnya, negeri kita ini.

Seorang guru, dengan maksud dan tujuan mendisiplin anak, baik dengan cara negur, atau razia, kemudian malah berbalik menjadi tindak kekerasan, dan pelangggaran hak asasi. Pada ujungnya, sang guru pun, dihadapkan pada meja hijau. Gejala aneh, negeri kita ini. 

Sekali lagi, Andai saja, pak polisi dan pak Hakim tidak menjelaskan fenomena ini, maka citra penegakkan hukum, akan menjadi sesuatu yang kian suram, dan tidak memberikan harapan dan kebanggaan bagi masyarakat.

Kita memang, sedang dihadapkan pada informasi sosial-politik yang semrawut, Bila saja, kita gagal dalam memilih dan memiliah informasi ini, maka akan sulit bagi kita untuk mendapatkan informasi y ang mencerahkan, dan mengadilkan.

Ataukah, memang, hari ini kita berada dalam situasi yang gamang. gamang dalam menegekkan prinsiip, dan juga gamang dalam menegakkan keadilan. elit politik terlilit masalah peliik,  masyarakat bawah tidak berdaya.  

Serupa dengan pertandingan sepakbola. Kendati lawan yang memulai provokasi, namun, kalau tim kita yang melakukan pemukulan terlebih dahulu, maka kartu kuning atau merah, akan menimpa diri kita. 

Kembali pada soal ini, maka soalannya, siapa yang salah, dan bagaimana memainkan posisi sebagai wasit yang tepat sasaran, menjadi sangat dilematis .

Kamis, 29 Januari 2026

sumber gambar, Ponpes Darunnajah

Jujurlah pada kenyataan, dan kreatif dalam mengelola perubahan adalah upaya kunci bagi kita untuk mendapatkan kenyamanan hidup !

Rabu, 28 Januari 2026

Pengantar

Pagi itu (28/10/2008), anakku, Iqbal jalan-jalan di halaman rumah dengan menggunakan kursi roda. Perilaku itu, dia lakukan sendiri setiap pagi. Dengan tetap mendapat perhatian kami berdua, dia terlihat lincah dan gembira melakukan aktivitas barunya selepas 6 bulan, lebih banyak berbaring di kasurnya sendiri.


Kemampuan berjalan ini, merupakan keterampilan baru yang Iqbal miliki di bulan ke-enamnya. Kami merasa bahagia, melihat perkembangan dan penambahan keterampilan yang dimilikinya. Bagi kami berdua pun, mendapat tugas baru dalam hidup ini, yaitu memberikan ruang pembelajaran, baik untuk gerak (psikomotorik) maupun aspek-aspek kehidupan yang lainnya.

Selasa, 27 Januari 2026

Sebenarnya, sudah lama buku ini dimiliki, atau lebih tepatnya, sewaktu kuliah –tahun 1990-an, sudah pernah membaca buku ini. Buku berjudul, Tiada Mawar Tanpa Duri : Psikologi Baru, Tentang Cinta, Nilai tradisional dan Pertumbuhan Spiritual, karya M.Scott Peck.[1]  Bila tidak salah ingat, motivasi waktu itu, bukan pada aspek cinta, melainkan pada konsep pertumbuhan spiritualnya.Maklum, saat itu, sedang muncul gairah belajar agama.

Senin, 26 Januari 2026

Dalam kalangan pengamat sosial, George Ritzer merupakan salah satu pemikir yang kerap menjadi acuan dalam membahas perilaku manusia modern. Salah satu diantara pemikiran yang menarik perhatian publik adalah konsepnya mengenai McDonaldisasi. Dalam pandangan Ritzer (2002), McDonaldisasi merupakan proses sosial yang mengindikasikan adanya upaya manusia untuk keluar dari kerangkeng besi (Weberian) menuju perusahaan fastfood yang disimbolkan dengan McDonald.

Di era sebelumnya, manajemen kehidupan ditandai dengan menyuburnya penerapan model birokrasi dari Weber. Bahkan, dapat dikatakan modernitas sebuah masyarakat dapat diukur dari kesehatannya pengelolaan dari sisi birokrasi. Negara yang korup, dan sarat KKN adalah negara yang tidak disiplin dalam bidang birokrasi (juga administrasi). Dengan kata lain, Negara yang tidak memiliki model birokrasi yang sehat, sudah tentu bukanlah sebuah negara modern.

Minggu, 25 Januari 2026

Kita sudah terbiasa, bila mendengar kata ‘seleksi alam’ (natural selection). Istilah yang dipopulerkan oleh Charles Darwin, dan kemudian menjadi identitas teorinya. Teori evolusi. Dalam teori ini, makhluk hidup akan berhadapan dengan dinamika kehidupan. Hanya mereka yang  bisa memenangkan permainan seleksi alam itulah, yang bisa bertahan. Sedangkan, mereka yang gagal dalam perjuangan hidup,akan musnah. Itulah seleksi alam.
Kegagahan teori ini, hampir dipastikan mewarnai disiplin ilmu biologi, dan juga ilmu yang lainnya. Bukan hanya di masa lalu, kekuatan dan pengaruhnya, sampai saat ini. Masih dirasakan. Bahkan, sejumlah ilmuwan muda modern, ada pula yang menggaungkannya kembali, dengan memosisikannya sebagai pisau analisis terhadap masalah sosial politik keagamaan.

Sabtu, 24 Januari 2026

Ada rekanan, memaksa saya untuk menuliskan, sebuah narasi, mengenai posisi guru di zaman sekarang ini. Mereka menyebutnya, guru, saat ini, berasa di posisi titik terendah.  Meminjam istilah Geografi (Astronomi) berada di posisi titik nadir.  



Kok bisa ? apa masalahnya ?

Tidak bermaksud untuk mengada-ada, dan bukan dimaksudkan untuk framming. Namun, ada beberapa kondisi faktual, aktual atau virtual, yang bisa memberikan ilustrasi mengenai posisi dan derajat guru, yang menjadi pilar utama (katanya demikian) dalam sistem dan layanan pendidikan di Indonesia.

Jumat, 23 Januari 2026

Di tengah masyarakat, ramai, dibicarakan. Ada puluhan ribu, pegawi MBG mendadak ASN. Bukan ratusan, tapi puluhan ribu pegawai MBG menjadi ASN-PPPK Tentunya, hal ini, menjadi menarik perhatian, dan banyak dibicarakan oleh publik. Walau tentunya, kita harus hati-hati membicarakan masalah ini, karena akan terkait dengan beberapa soalan, yang mungkin harus dicermati dengan seksama.



Badan Gizi Nasional (BGN) bakal mengangkat 32 ribu pegawai dapur makan bergizi gratis (MBG)  melalui skema Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) pada 1 Februari 2026. Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 5 Tahun 2024, besaran gaji pokok ASN golongan III/A berkisar antara sekitar Rp2.785.700 hingga Rp4.575.200 per bulan tergantung masa kerja golongan (MKG). Ketentuan ini merupakan bagian dari revisi atas peraturan gaji PNS yang berlaku sejak 2024 dan masih menjadi acuan hingga 2026. 

Kamis, 22 Januari 2026

Menarik untuk ditunggu. Setelah dipandang berhasil dalam pelaksanaan program MBG (makanan bergizi gratis), untuk kalangan peserta didik, kini mulai beranjak untuk para guru. Guru dan tenaga kependidikan, di lembaga pendidikan diberikan kesempatan untuk mencicipi program MBG, di setiap harinya.



"luar biasa negara kita.." ungkap seseorang, "guru dan tenaga kependidikan, bisa menikmati MBG?"

"gak demikian juga?"

"lha, ini kan, program pemerintah, kita tinggal makan. Beres sudah...", timpalnya, dengan penuh keyakinan, dan memberikan dukungan terhadap program pemerintah di maksud.

Rabu, 21 Januari 2026

Sebenarnya, saya tidak terlalu paham, pelajaran Biologi, dan juga tidak terlalu paham tentang politik. Tetapi, karena euforia reformasi, maka ruang bicara politik atau apapun, hampir nempel di setiap orang. Bukan hanya kita yang tengah menikmati bacaan di media sosia ini, tetapi abang-abang di jalanan, tukang-tukang di tempat kerjanya, dan juga ema-ema di dapurnya, tidak jarang menyempatkan waktu untuk membincangkan masalah-masalah kemasyarakatan.



Seperti kali ini. 

Ada pertanyaan, "apakah korupsi, nepotisme, atau kolusi itu, sifatnya genetik atau polutan ?"

Selasa, 20 Januari 2026

Kalau ada diantara kita yang menanyakan, bagaimana kedewasaan wakil rakyat di negara kita, etiskah itu diajukan ? Sejatinya, etis. Tetapi realitasnya, bisa jadi, menjadi sebuah pertanyaan yang bisa digiring sebagai sebuah penghinaan kepada lembaga di maksud. Terlebih lagi, bila hari ini, adakah KUHP-KUHAP yang memberikan proteksi kepada para penguasa. Penghinaan dan pencemaran nama baik Anggota Dewan,  potensial bisa dipidana.


Tetapi benarkah demikian, dan bisa kita, melakukan analisis terkait kedewasaan wakil rakyat Indonesia, dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya ?

Senin, 19 Januari 2026

Sulit dihindari, sikap dan tindakan politik Luar Negeri Amerika Serikat, kali ini, merangsang seseorang untuk melihatnya dari sudut hegemoni. Kelakuan AS saat ini,  yakni memaksa Presiden Venezuela dan istrinya, dari istana kepresidenannya untuk di bawa ke negara AS itu, masuk dalam tindakan politik untuk menunjukkan aura hegemoninya AS dihadapan negara lain.



Dalam batasan tertentu, media massa, mencitrakan AS sebagai salah satu negara berekonomi kuat. Untuk tafsir ini, sulit untuk dihindari, walaupun bisa diperdebatkan.  Disamping AS, ada Rusia, Jepang, China, Uni Eropa dan juga sejumlah negara lain yang memiliki kekuatan ekonomi yang luar biasa di abad ini.

Minggu, 18 Januari 2026

Kegaduhan politik global, masih terus muncul, dan berkembang. Kali ini, Amerika Serikat tidak membidik Timur Tengah, seperti 20 tahun lalu, dan bukan pula membidik kawasan Amerika Selatan, seperti tiga minggu lalu. Amerika Serikat saat ini, membidik Greenland, di ujung Utara Planet Bumi.


Secara formal legal, Greenland adalah kawasan otonom yang masuk Kerajaan Denmark.   Diperkirakan, 4.500 tahun lalu, penduduk awal (Paleo-Eskimo) tiba dari Kanada, menguasai seni bertahan hidup di lingkungan Arktik yang keras, berburu anjing laut dan paus, serta membuat kayak dan iglo. Kemudian, abad ke-13: Suku Inuit  tiba di Greenland, menggantikan budaya sebelumnya. 

Sabtu, 17 Januari 2026

Tidak jauh dengan motivasi penjelajahan di abad XV-XVI. Ekspansi atau intervensi global di abad XX-XXI ini, tentunya digerakkan oleh satu narasia besar. Narasi besar itu dikonstruksi oleh pemilik kuasa atau pelaku utama dari sikap politik tersebut. Dulu, Spanyol dan Portugis menjadi aktor utama penjelajahan, dan mereka menebar prinsip Gold (kekayaan), Gospel ((penyebaran agama) dan Gloria (kejayaan).



Lantas, motif atau dorongan apa, yang bisa menggerakkan seseorang, melakukan tindakan ekspnasi, penjelajahan, penjajahan atau intervensi global terhadap negara lain, yang berdaulat ? pertanyaan ini, penting untuk disampaikan, dengan maksud dan harapan untuk bisa memahami fenomena global di zaman kita hari ini.

Jumat, 16 Januari 2026

Hari ini, di sejumlah tempat, yang dihuni Umat Muslim, ramai menyelenggarakan peringatan terjadinya perjalanan historik Rasulullah Muhammad Saw, dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, terus ke Shidratul Muntaha, atau dikenal dengan Isra' Mi'raj. Peristiwa ini, diduga, terjadi pada malam 27 Rajab.



Disela-sela itu, kendati sedang melakukan kegiatan keagamaan, ada saja yang ngajak berbincang di luar masalah keagamaan. 

"ya, agama ini, kan bukan masalah ritual saja..." ungkapnya

"maksudnya..?"
"selain harus bagus ritualnya, kita pun, dituntut untuk peka, peduli dan empati pada masalah-masalah sosial kebangsaan..." tuturnya lagi.

Kamis, 15 Januari 2026

Di media sosial, seperti biasa, gosip, isu dan berita, kerap mudah berseliweran. Soal sumbernya, kadang kita abai, sedangkan kontennya, kerap mudah menyebar ke berbagai penjuru bumi. Tanpa kendali, pesan berantai di media sosial itu, melayang tanpa arah, dan sporadis, ke setiap ruang yang  terbuka. termasuk pula, ke media sosial yang ada di tangan kita ini. 



Wuih, bombastis banget ya..

Rabu, 14 Januari 2026

Pada sebuah platform, diberitakan sebanyak 41 Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) tahun 2021 di Kabupaten Tuban resmi berakhir, Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Tuban menyiapkan langkah konkrit. 



Diketahui, 41 PPPK tersebut diputus kontrak mayoritas adalah guru olahraga, mengingat beberapa faktor menjadi penyebabnya. Salah satunya perihal absensi kehadiran atau finger print dan kinerja yang bersangkutan. (beritajatim.com) 

Selasa, 13 Januari 2026

Alhamdulillah. "KIta sekarang memiliki KUHP-KUHAP, produk pemikiran bangsa kita sendiri, dan bukan warisan kolonial.." itulah, pekik promosi dan kebahagiaan, dari kelompok pengusung dan/atau pelaku utama yang mengesahkan dasar peraturan perundangan di Indonesia. Hanya saja, soalannya, mengapa kemudian, di luar itu semua, malah melahirkan kontroversi, baik dari kalangan pemuka masyarakat maupun praktisi hukum itu sendiri ?



Inilah soalan yang perlu didudukpersoalkan, sehingga, masalah ini dapat jernih dicerna dan jelas disikapi kita ....

Senin, 12 Januari 2026

Gerakan reformasi, hanya akan terjadi bila ada kesadaran kolektif. Atau, kesadaran kolektif yang  dominan, akan mampu memberikan dampak dan efek perubahan terhadap kondisi kebangsaan. Sementara, kesadaran kolektif-minimalis, hanya akan melahirkan masyarakat penggerutu (groucher society).



Apa dan mengapa hal itu bisa terjadi ?

Untuk memudahkan analisis terkait hal ini, kita bisa menyaksikan masyarakat dunia, yang sedang disuguhi drama AS-Venezuela, Rusia-Ukraina, Israel Palestina, atau China-Taiwan. Drama dengan lakon-lakon politik itu, bisa jadi, adalah scene pertama, yang dipertontonkan. Bila hal ini, tayang dan sukses menghipnotis dunia, maka lakon politik itu, bisa merembet dan menebar ke berbagai dunia. Sementara dunia, pada umumnya, akan menjadi penonton, atau sekedar menjadi penggerutu semata.

Realitas apa yang sedang terjadi ?

Minggu, 11 Januari 2026

Di media sosial, atau media elektronik, pertemuan antara Persib dan Persija, kerap kali mengundang perhatian. Selain dengan sebutan big match atau superbigmatch, sudah terbiasa pula disebut dengan istilah rivalitas. Bagi pemula, atau pemerhati kompetisi Liga, dan juga memperhatikan sejarah perkembangan Liga, sudah mafhum, dan memahami makna dibalik istilah itu. Namun, bagi kita semua, orang awam, atau yang baru mengenali kekayaan kosa kata dalam konteks kompetisi, mungkin perlu pula untuk melakukan telaahan, apa makna dibalik bigmatch atau rivalitas itu ? Hal itu perlu dikedepankan, karena kadang, ada yang disebut big match, ada pula yang disebut mini match. Lantas, apa ukuran objektif untuk penyebutan istilah tersebut ?



Sekedar membongkar kamus Bahasa Indonesia, rivalitas pada dasarnya mengandung makna Persaingan atau kompetisi antara individu atau kelompok untuk membuktikan keunggulan masing-masing. Di dalamnya ada unsur pertentangan atau pesaingan. Selain itu, dari kata ini merujuk pada semangat saling berhadapan antara dua pihak yang berusaha saling mengalahkan atau menjadi lebih sukses.

Sabtu, 10 Januari 2026

Suasana batin bangsa Indonesia, setidaknya demikianlah dalam pandangan saya, tampaknya masih banyak yang berada di persimpangan jalan. Ragu. Was was. Bukan tidak sadar, atau tidak pedih, namun tidak ada pilihan terbaik, yang bisa menyelamatkan diri, lingkungan dan masa depannya. Termasuk umumnya, yakni menyelamatkan bangsa Indonesia. Kita masih bingung.  Dibuat bingung oleh keadaan.



Dalam waktu yang bersamaan, pemberitaan mengenai penetapan status Yaqut Cholil, mantan Menteri Agama, menyebar di mana-mana. Kemudian di sisi  lain, pemberitaan mengenai penangkatan secara OTT pegawai pajak, pun, menjadi warna baru dalam pemberitaan di media sosial kita saat ini. Padahal, sedang dalam proses pula, kasus yang menimpa mantan Menteri Pendidikan pun, masih berjalan.

Jumat, 09 Januari 2026

Presiden Prabowo terharu, melihat hasil survey indeks kebahagiaan Indonesia. Meraih posisi tertinggi di dunia. Walau demikian, beliau pun menyadari, bahwa dibalik itu, masih banyak hal yang masih perlu dikerjakan, khususnya dalam konteks kesejahteraan. Pernyataan ini disampaikannya saat berpidato dalam acara Perayaan Natal Nasional 2025 di Jakarta, Senin (5/1/2025). 


Menurut Presiden, survei yang dilakukan oleh Harvard University dan lembaga riset Gallup tersebut dilakukan di hampir 200 negara untuk mengukur tingkat kebahagiaan masyarakat. "Negara yang rakyatnya setelah ditanya menjawab bahwa rakyat tersebut mengalami bahagia, negara paling nomor satu di dunia yang mengatakan rakyatnya bahagia adalah bangsa Indonesia," ujarnya, dalam siaran langsung Sekretariat Presiden.

Kamis, 08 Januari 2026

Siapa yang tak kenal Nadiem Makarim, sebagai orang yang sukses dalam teknopreneur ? membuingnya transportasi online di Indonesia, tentunya, tidak akan hilap untuk menyebutkan orang yang satu ini. Apapun penilaian kita terhadap kesejahteraan pekerja transportasi online, tetapi inisiasi dan penggerakan ekonomi sektor ini, tentunya menjadi sesuatu hal yang baru, bagi bangsa Indonesia saat itu.



Sayangnya, di akhir ujung karirnya sampai 2025 ini, tokoh profesional, yang sukses sebelum masuk birokrasi itu, malah kemudian terjerat kasus Korupsi.

Rabu, 07 Januari 2026

Apa yang terpikir kita, saat menyaksikan drama-politik yang diperankan Amerika Serikat dan Venezuela ? Skripnya mungkin sangat panjang, tapi kulminasi kisahnya sangat singkat. Hanya beberapa jam saja,  Presiden Venezuela, Nicolas Maduro dan istrinya, bisa diamankan pasukan Amerika Serikat, dan kemudian dibawa ke AS untuk diadili.



Mengapa  hal itu terjadi, ada apa pelajaran penting bagi kita semua ?

Pertama, ketidakpastian politik global dunia. Ah, kita ingin mengatakan demikian. Setidaknya, istilah ini, digunakan untuk menjelaskan kebingungan publik atau rakyat jelata, terkait keabsahan negara asing, mengintervensi situasi politik sebuah negara berdaulat.

Selasa, 06 Januari 2026

Hari ini, adalah momen terbaik untuk menjelaskan mengenai hadirnya masyarakat penggerutu (groucher society). Sejumlah kondisi, sosial, ekonomi, politik, pendidikan, dan lain sebagainya, menjadi objek sasaran atau sumber keluhan, yang mengantarkan orang masuk pada kelompok masyarakat penggerutu (groucher society).



Tentunya, kita bertanya, apa dan mengapa hal ini terjadi pada masyarakat kita saat ini ?

Mari kita saksikan bersama. Bagaimana hebat dan leluasanya, Amerika Serikat dibawah kepemimpinan Donald Trump mengekspansi Venezuela. Presiden Nicolas Maduro, Presiden Venezuali dan istrinya dijemput paksa (bahasa halusnya), atau diculik (bahasa kasar) dari Istananya, dan kemudian dibawa ke AS untuk diadili atas tuduhan perdagangan global Narkoba.

Senin, 05 Januari 2026

Setidaknya, ada tiga pola ekspansi kekuasaan di era modern. Model-model ini, mungkin jadi, bukan yang terakhir, dan bukan pula yang pertama. Model-model ini, lebih merupakan modifikasi teknik atau strategi politik klasik, yang kemudian pindah-rupa ke dalam bentuk baru, yang bisa disebut modern. Tentunya, kasus Amerika Serikat - Venezuela adalah yang  terbaru, atau teraktual. 


Tentunya, secara pribadi kita prihatin dengan situasi yang terjadi di Benua Amerika itu. Salah satu Negara di Amerika Latin mendapat gangguan dari salah satu negara di Amerika Utara. Bukan hanya menggoncang psikologis warna negaranya, tetapi juga menyentuh atau menyenggol nurani bangsa-bangsa di Dunia. Apa yang terjadi, dan apa yang harus dilakukan oleh Dunia ? sebuah pertanyaan, yang kerap kali jawabannya, masih diselimuti kabut ketidakpastian.

Minggu, 04 Januari 2026

 Tulisan ini, pada dasarnya merupakan sebuah refleksi akhir (atau malahan refleksi awal) terhadap buku karya Hernowo yang berjudul Mengikat Makna. Disebut refeleksi akhir, karena pengalaman dan persepsi ini muncul setelah membaca buku yang dimaksud. Penulis juga menyebutnya sebagai sebuah refleksi awal, karena persepsi ini untuk yang pertama kalinya dituangkan dalam bentuk teks seperti ini. Sehingga, penulis menyebutnya sebagai sebuah refleksi akhir atau mungkin pula sebagai sebuah refleksi awal penulis terhadap karya Hernowo tersebut.


Mengikat Makna,
 adalah sebuah buku yang telah mendapat pujian dari berbagai kalangan, atau minimalnya dari peresensi. Nurudin, menyebutnya “buku ini kaya gagasan”, Anis Matta dan Nina Armando, mengatakan “buku ini cocok sekali untuk menumbuhkan budaya cinta buku yang belum menjadi tradisi bangsa kita”, Lisma Dyawati Fuaida mengatakan “buku ini kaya akan tampilan visual, sehingga kelemahan yang terdapat pada teks, bisa dielimnir dengan penjelasan visual yang dimunculkan dalam buku ini”. Sedangkan Muhajirin mengemukakan pengalamannya bahwa “buku ini ditulis dengan rangkaian kata-kata indah dan mudah dipahami karena dikemas dengan bahasa tulisan yang tidak mendapatangkan kejenuhan dan kebingungan”.[1]

 

Sabtu, 03 Januari 2026

Tahun baru, berjalan beberapa detik yang lalu. Sampai hari ini, tidak kurang dari 432K detik yang lalu. Belum lama, dan belum jauh. Optimismis yang dulu, sempat dihamburkan di malam tahun baru, kini, sudah mulai sayup=sayup kembali.


Tidak bermaksud untuk pesimisme. Namun, indikasi ke arah kembalinya performa bangsa Indonesia ke stelan pabrik, sudah mulai dirasakan. Sudah menggeliat lagi. Semangat tahun baru, sekedar euporia semalaman, dan  kemudian terbawa mimpi dalam tidur panjang paska perayaan. Setelah bangun, lupa lagi, dan kembali ke stelan pabrik.

Jumat, 02 Januari 2026

Mumpung. Sama seperti orang lain, dalam konteks yang berbeda. Aji mumpung. Mumpung hari ini, jelang tahun baruan. Banyak orang yang memanfaatkannya, sebagai momen untuk melakukan refleksi. Refleksi satu tahun terakhir, dan resolusi untuk tahun berikutnya. Itulah yang biasa terlontarkan dalam lisan anak muda milenial hari ini. Kiranya, dalam kesempatan serupa ini juga, kita dalam memanfaatkan ruang-waktu yang ada ini, untuk dijadikan sebagai moment refleksi.



Tapi, tentunya, renungan-renungan akhir tahun ini, akan bergantung pada sentra-perhatian masing-masing. Latar pendidikan, dan  pengalaman nyata hidupnya, akan turut mempengaruhi pada fokus perhatiannya itu sendiri. Kecuali seseorang yang berprofesi jurnalis, tentunya akan berupaya merangkum kisah dalam perjalanan panjang dan beragam.

lha, kalau ruang yang  kita miliki sekarang, arahnya ke mana ?

Kamis, 01 Januari 2026

Peralihan tahun atau peralihan waktu adalah penting, pada saat kita memiliki kuasa untuk mengambil keputusan, atau langkah strategi untuk memperbaiki diri. Dengan kata lain, bila kita hanya bermain dan berhura-hura, maka sesungguhnya perayaan yang kita lakukan saat ini, cenderung digerakkan oleh “mitos” atau angan-angan belaka ! karena pada dasarnya, kita tidak tahu apa yang bisa dilakukan esok, dan kita tidak kuasa mengubah arah gerak zaman hari esok !






Menjelang akhir tahun, banyak orang yang mudik. Pulang kampung. Bertemu orangtua dan saudara. Mereka rela berdesakkan di kendaraan umum, atau bermacet ria di jalan raya. Semua itu, didorong oleh satu impian umum yang ada dalam benaknya, yaitu mudik ke kampong dalam rangka tahun baru.