Just another free Blogger theme

Rabu, 21 Januari 2026

Sebenarnya, saya tidak terlalu paham, pelajaran Biologi, dan juga tidak terlalu paham tentang politik. Tetapi, karena euforia reformasi, maka ruang bicara politik atau apapun, hampir nempel di setiap orang. Bukan hanya kita yang tengah menikmati bacaan di media sosia ini, tetapi abang-abang di jalanan, tukang-tukang di tempat kerjanya, dan juga ema-ema di dapurnya, tidak jarang menyempatkan waktu untuk membincangkan masalah-masalah kemasyarakatan.



Seperti kali ini. 

Ada pertanyaan, "apakah korupsi, nepotisme, atau kolusi itu, sifatnya genetik atau polutan ?"

"waduh..." , benar-benar kaget, dengan pertanyaan itu. Pertanyaan akademis. Tidak biasa. Namun, bisa muncul di tengah hiruk pikuknya, kita menjalani pekerjaan rutin di rumah, atau pekerjaan rutin harian. 

Sehari-hari kita, kita menjalankan tugas sebagai bapak rumah tangga, dan mereka pun ada yang mengerjakan tugasnya sebagai ibu rumah tangga. Tetapi, saat mereka mengajukan pertanyaan serupa itu, maka tempat nongkrong itu, berubah menjadi sebuah halaqah-ilmiyah (majelis ilmu, tempat ilmiah).

"emangnya, kenapa dengan semua itu ?"

"aneh saja..." jawabnya pendek dulu, kemudian dia menghela nafas panjang, seakan mempersiapkan makalah-berlembar halaman untuk dipresentasikan di depan ruang sidang akademik.  "perhatikan saja, dengan cermat..., apa yang terjadi hari  ini, dan beberapa hari terakhir...".

Pancingan itu kemudian, merangsang orang yang hadir untuk memberikan komentar. Di level paling sederhana, ada yang  menuturkan, seorang pemilik Yayasan, menetapkan keluaganya di staf-staf strategis pada perusahaan yang dimilikinya. Komentar ini, sempat diprotes dan dikomentari, karena itu adalah hak-pemilik. Tetapi, kemudian, dibantah dengan kalimat, "kenapa tidak memilih orang yang kapabel dengan kebutuhan?" semua terdiam dulu.

Ada yang mengisahkan juga, seorang RT/RW yang mendaftar warganya untuk mendapatkan bantuan sosial dari Pemerintah. Uniknya, yang lebih dulu didaftarkan adalah sanak saudaranya. Sementara warganya yang memiliki kemampuan terbatas, malah terabaikan. Dia menuturkan, bukankah hal itu menunjukkan bahwa kronisme itu, hadir di tengah publik ?

Ada juga yang berargumen, apa masalahnya dengan  kronisme ? bukankah, seseorang, akan merasa nyaman untuk mengerjakan sesuatu, dilakukan oleh orang yang kenal, paham kebutuhan, dan satu visi dengan agenda pemilik program ? untuk mewujudkan hal itu, tidak mungkin kita menyeragkan hal itu, kepada orang yang tidak kita kenali, atau tidak kita ketahui kemampuannya ? bukankah, kalau kita punya kenalan, dan memiliki sejarah yang sama dengan diri kita, maka kita sudah paham karakternya ? jika sudah demikian, bukankah  hal itu akan membuat kita nyaman dalam menjalankan program di maksud ?

Argumentasi realistis, namun aroma-kronisme masih memancng perdebatan. Namun, setidaknya, orang lain bisa dipahamklan, bahwa kronisme itu tidak seleamanya buruk. Andai saja, aspek kompetensinya diperhatikan, maka kronisme masih bisa dipertahankan, atau diperjuangkan. Begitu pandangan orang lain.

Bila demikian adanya, kembali pada pertanyaan awal, bagaimana kita mengartikan kronisme di negara  kita ?

Semua orang paham. Negara kita adalah negara besar, pun dengan jumlah penduduknya. Warga negara bangsa ini, buanyak banget orang pintar, kredibel dan kompeten. apakah kita memiliki data base serupa ini ? apakah kita sudah memiliki daftar orang yang bisa diajak untuk berkontribusi terhadap bangsa dan negara ini ? ataukah, kita hanya berkutat pada kelompok sendiri, persaudaran saja, atau kelompok kita saja, sehingga pilihan untuk jabatan-jabatan strategi kembali jatuh pada kelompok kita  lagi ?

Menafikan keragaman sumberdaya manusia Indonesia, adalah kebutaan, dan ketidakmampuan dalam memilih SDM yang terbaik, adalah kebuntuan. Dua hal ini, akan menjadi penyebab lain, gagalnya INdonesia bangkit dan menjadi bangsa terbaik.

Bagaimana menurut pembaca ?


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar