Menarik untuk ditunggu. Setelah dipandang berhasil dalam pelaksanaan program MBG (makanan bergizi gratis), untuk kalangan peserta didik, kini mulai beranjak untuk para guru. Guru dan tenaga kependidikan, di lembaga pendidikan diberikan kesempatan untuk mencicipi program MBG, di setiap harinya.
"luar biasa negara kita.." ungkap seseorang, "guru dan tenaga kependidikan, bisa menikmati MBG?"
"gak demikian juga?"
"lha, ini kan, program pemerintah, kita tinggal makan. Beres sudah...", timpalnya, dengan penuh keyakinan, dan memberikan dukungan terhadap program pemerintah di maksud.
"iya, tapi kalau program pendidikan, hanya ngurus makan saja, sedangkan layanan kualitas pendidikan, kualitas tenaga pendidik, tidak diperhatikan, mana mungkin pendidikan kita bisa maju ?", teman bicaranya ini, masih memberikan tanggapan yang kurang responsif.
"maksudnya ?", dia malah balik bertanya.
"harusnya, ada pihak pemerintah yang menjelaskan. Darimana asal dana MBG itu ? kalau dari sektor pendidikan, dari bagian apa ?.."
"lha, ya pasti dari sektor pendidikan, bukankah di media sosial sudah terpublikaskan bahwa program MBG itu, hamir 60 % dari sekotor pendidikan..?"
"tapi sampai sekarang kita, diributkan dengan masalah makan, dan makan. Sementara pendalaman kurikulum, atau pelatihan guru atau tenaga kependidikan, rasanya tidak semasif tahun sebelumnya?" timpalan yang lain, "bila hal demikian terus terjadi, berarti kita, lebih mendahulukan perut daripada kompetensi peserta didik..", tampaknya, komentator ini, adalah guru, atau pengamat dunia pendidikan.
"perlu diketahui oleh kalian semua, Abraham Maslow saja, sudah mengingatkan bahwa, kebutuhan dasar, yang bersifat biologis, adalah dasar dari kebutuhan yang lainnya. Tidak mungkin, kita mengajar dengan baik, atau belajar dengan seksama, kalau urusan perut belum selesai...". jawabnya lagi. Mungkin, istilah lain, sang penutur ini, memberikan argumentasi dari naskah akademik, terkait pentingnya MBG di negara kita ini.
"kalau urusan perut belum selesai, berarti negara kita, masih berada di level mana ? level paling dasar..?" kritik yang lainnya.
"jangan risih dengan sebutan dari negara lain, apakah hal ini, masuk pada level maju, berkembang atau sedang berkembang. Hal yan penting, kebutuhan dasar rakyat kita, bisa dipenuhi dengan baik. Itu adalah yang paling strategis. Buat apa, negara kita disebt sebagai negara hebat, kalau pad akenyataannya, masih kesulitan untuk makan.." papar, seseorang yang aktif di sebuta partai politik.
"sayangnya. Kita sudah beranjak menjadi negara berkembang., bahkan sempat menuju tinggal landas. Di era orde baru, kita sudah merasakan hal itu. tapi, hari ini, kita dihadapkan pada drama politik nasional yang sangat kasat mata, ternyata urusan makan saja, kita masih diurus sama negara, dan belum bisa mandiri. Mengapa negara tidak percaya pada orangtua atau sekolah untuk mengurusi masalah serupa ini ?"
"program ini, demi memastikan berjalan, dan peserta didik benar-benar mendapatkan layanan yang sesungguhnya..." jawab sang politisi itu lagi.
"Menarik...." ungkap yang lainnya.
"Maksudnya ?"
"iya, kita yakin engga, bahwa program ini, baik dan berhasil ?"
"tidak boleh apatis, atau skeptis. Yakinlah, bahwa Pemerintah, tengah berusaha maksimal, dan melakukan sesuatu hal dengan cara baik dan terbaik untuk rakyatnya."
"iya, maksudnya, kalau memang ini, adalah cara baik dan terbaik, tampaknya program ini, perlu dikemas dan dikonversi ke bidang yang lainnya..."
"misalnya?"
"besok lusa, program MBG ini, rasanya, perlu diberikan kepada seluruh peserta didik, termasuk MAHASISWA.."
"lha, kok bisa.."
"demi memastikan, mahasiswa bisa makan gratis.., kan peserta didik SD-SMA juga sudah bsia berjalan dengan baik."
"mahasiswa mah, sudah dewasa.."
"daripada biaya KIP, digunakan hal yang tidak diinginkan...?"
"iya juga.."
"terus, pikir ulang, kenapa uang makan guru dan tenaga pendidik, harus di MBG-kan? dengan menu yang serupa dan seharga seperti peserta didik ?"
"iya, itu pun, keputusan negara?"
"Kalau demikian, wakil rakyat dan pejabat negara lainnya, di instansi pemerintahan pun, harusnya mendapatkan menu yang serupa dengan MBG. Bila tentara ada ransum, maka ASN di Pemda, dan wakil rakyat pun, begitu. Selain gizinya terstandar, harganya pun, dapat dikendalikan dengan seksama.." katanya, mengeluarkan pandangan, "mahasiswa, dan dosennya pun, harus mendapatkan MBG. Biar merasakan makanan bergizi yang disediakan oleh negara !!!!. Wakil rakyat juga demikian adanya.......".
"untuk hal ini, kayaknya, harus dipikirkan lagi.."
Bagaimana menurut pembaca ?

0 comments:
Posting Komentar