Ada rekanan, memaksa saya untuk menuliskan, sebuah narasi, mengenai posisi guru di zaman sekarang ini. Mereka menyebutnya, guru, saat ini, berasa di posisi titik terendah. Meminjam istilah Geografi (Astronomi) berada di posisi titik nadir.
Kok bisa ? apa masalahnya ?
Tidak bermaksud untuk mengada-ada, dan bukan dimaksudkan untuk framming. Namun, ada beberapa kondisi faktual, aktual atau virtual, yang bisa memberikan ilustrasi mengenai posisi dan derajat guru, yang menjadi pilar utama (katanya demikian) dalam sistem dan layanan pendidikan di Indonesia.
Kasus yang baru saja ramai terjadi, seorang guru di keroyok siswa SMK. Tempat Kejadian Perkara di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi. Menurut berita, kasus itu bermula, saat sang guru merasa tersinggung oleh ucapan kurang pada tempatnya, saat lewat sebuah kelas. Kemudian ditegor, dan malah berujung keributan.
Bila kasus ini hendak dibedah, sudah ada dua hal pokok yang bisa dijadikan narasi ketidakberdayaan guru. Pertama, guru hari ini, tidak memiliki kuasa dihadapan anak (orangtua siswa). Sudah bukan sekali, dan bukan kali ini saja, seorang tenaga pendidik mendapat perlakuan yang tidak pada tempatnya, baik secara fisik maupun hukum.
Di media sosial kita, sudah puluhan guru diperkarakan oleh orangtua, dengan ragam alasan. Pada ujungnyan, NEGARA (HUKUM), jarang berpihak pada guru, tetapi lebih berpihak pada anak atau orangtua, sehingga memosisikan guru sebagai orang yang terpidana.
Kedua, andai saja, kita hendak melihat dari sudut pandang anak dan orangtua, khusus untuk kasus di atas, bisa jadi, kita melihatnya ada penurunan model dan gaya belajar guru. Guru dianggap sudah tidak mampu menunjukkan karakter atau wibawa sebagai pribadi yang patut dihargai, setidaknya dari sisi ucapan atau tindakannya. Sehingga, karena situasi itulah, yang dianggap sebagian orang memancing tindakan anarkhis peserta didiknya.
Andai dua hal ini saja digunakan secara acuannya, maka catatan kita pun, masih tetap menguat bahwa posisi guru kembali pada level terendah. Di hadapan anak tidak dihargai, dan budaya kerja atau pola komunikasinya dianggap tidak berwibawa. Tegas, dianggap kekerasan, melontarkan kritik dianggap sebagai penghinaan. Memberikan hukuman, dianggap pelanggaran. Ujungnya, sang guru, berada di ujung pengadilan !!!
Ketiga, di media sosial, seperti yang ramai hari ini, ada juga yang mengoreksinya, kenaga harus jadi guru, kalau tidak mau gaji kecil ? selepas petugas MBG dijadikan PPPK, kelompok guru honorer malah protes ? Iya, guru kembali disalahkan. Mengeluhkan gaji kecil, katanya dianggap resiko, membandingkan dengan MBG, dianggap tidak aple to aple.
Dalam konteks kesejahteraan, khususnya guru honorer, belum beranjak signifikans. Sudahlah ada sebagian yang diangkat PPPK, tetapi masih menyisakan pekerjaan rumah, terkait mereka yang paruh waktu. Sudahlah diangkat menjadi PPPK, tetapi tidak memberikan kenyamanan kerja untuk masa depannya.
Kondisi ekonomi atau posisi ekonomi kalangan guru, masih pada titik rendah. Jangan dibandingkan dengan GURU BESAR, untuk sekedar dosen pun, masih saja ada kesenjangan. Kalau di perguruan tinggi, ada hibah penelitian, kalau di jenjang pendidikan dasar dan menengah, membuat PTK atau karya ilmiah, harus biaya sendiri. Komentar birokrasinya sangat sederhana, "Kan sudah ada sertifikasi, kenapa tidak digunakan untuk itu ?"
Keempat, target kesehatan fisiknya, disamakan dengan peserta didik. Begitulah ungkapan seorang rekanan di level lapangan.
Lha, kok bisa ?
Ya, itu, buktinya, Makanan Bergizi Gratis guru itu, diurus sama MBG, dan menunya yang serupa itu. Artinya, level kesehatan dan menu guru itu, tidak jauh berbeda dengan pesrta didiknya, dan JAUH BEDA dengan ASN di lembaga lain, apalagi dengan ANGGOTA DEWAN.
Kelima, bila kalangan guru berreaksi dengan kondisi ini, paling komentarnya adalah, 'kenapa tidak bersyukur? kalau gak mau gitu, ya jangan melamar jadi guru?"
"duh, salah lagi...."
Kelompok profesi ini, memang, kerap menjadi bahan berita yang unik. Unik karena posisinya yang tetap saja, bisa dipakai dan dijual untuk jadi bahan berita.
Bila hari pendidikan nasional, ulasan mengenai kualitas SDM yang rendah, yang disorot pendidikan. Guru lagi, yang banyak dibicarakan !!!
Bila tiba masa pemilu, atau pilkada, dunia pendidikan dibicarakan. Guru lagi, yang dijual dan dikampanyekan. Guru lagi yang dirayu...!
Eh, sudah kepilih jadi pejabat negara atau jadi anggota dewan, guru lagi yang dilupakan !
Profesi yang satu ini, saat ini, berada pada posisi titik rendah, baik secara sosial, ekonomi, hukum, maupun politik.
Bagaimana menurut kalian, yang pernah mendapat sentuhan mulia guru, sehingga menjadi seperti hari ini ?
Ataukah kalian adalah orang yang pernah merasa dirugikan guru, sehingga kini, balas dendam kepada guru hari ini ?

0 comments:
Posting Komentar