Just another free Blogger theme

Sabtu, 31 Januari 2026

Selepas reformasi, kita dihadapkan pada situasi baru, aneh, tetapi juga mengkhawatirkan. Situasi yang dimaksudkan itu, adalah situasi mabok-retorika.  Kondisi ini, hampir terjadi, disetiap level, jenjang dan komunitas. Apakah hal ini, sebagai buah dari reformasi, cabang reformasi, akar reformasi, atau masalah sampah reformasi ? kita semua, sampai hari ini, belum memiliki jawaban pasti. Bahkan, andaipun, wacana ini dilanjutkan, bisa jadi, pembaca pun, ada yang memberikan komentar, sebagai salah satu bentuk kemabokan retorika.


Lha mengapa demikian ?

Retorika, kerap kali diposisikan sebagai salah satu kajian mendasar dalam argumentasi, atau malah dalam filsafat. Melalui kemampuan retoris, seseorang dapat menyampaikan gagasannya kepada pihak, dan atau juga mempengaruhi opini orang lain dengan argumentasi yang disampaikannya. Namun, tidak kalah memprihatinkan juga, bila  kemudian, dengan retorika itu, sebagai bentuk manupulasi nalar dan penalaran, kepada pihak lain, oleh seorang orator.

Saat sang Kapolri berucap, "lebih baik jadi Petani, daripada menjadikan kepolisian sebagai satu kementerian", memberikan dampak psikologis yang beragam. Satu sisi, menunjukkan sikap tegas, dalam keberpihakan. Tetapi pada sisi lain, menunjukkan keangkuhan, dihadapan lawan bicara. 

Di lain pihak, ada dua retorika yang mengendap didalamnya. Satu sisi, seakan memberikan kerendahan hati, dan tidak gila jabatan, setidaknya tidak mau jadi menteri kepolisian. Tetapi, pada sisi lain, mengandung arogansi, atau gengsi sosial, terhadap perubahan status dan posisi sosial-politik kepolisian dalam peta birokrasi pemerintahan di Indonesia.

Kasus itu, dapat kita sebut sebagai sebuah gejala sosial politik baru. Baru dalam konteks pola komunikasi politik, antar lembaga, dalam sistem demokrasi di Indonesia.  Sebelumnya, anggota Dewan dianggap superior dihadapan siapapun, kecuali dihadapan Presiden. Tetapi, untuk hari in, retorika menjadi unik dan baru, dalam konstelasi komunikasi politik di negara kita.

Lain kisah, dengan gejala yang patut dikhawatirkan. Fenomena itu, yakni retorika politis, yang kerap kali, simpang siur, tidak tegas, tidak jelas, dan mengambang, bahkan cenderung merawat kontroversi berkepanjangan.

Pembaca mungkin bisa menebak. Ya, itulah, kasus ijazah, adalah kasus yang belum jelas sampai hari ini. Kasus ini, entah pidana atau perdata, asli atau palsu, siapa pendusta dan jujur, siapa yang ilmiah dan takhayul, siapa yang berwenang dan berwibawa, hampir semuanya berada dalam irisan yang tidak jelas.

Ahli hukum bicara kasus, namun tak dianggap. Polisi bicara dianggap tak berwenang. Publik mengomentari, sekedar dianggap pendengung. Sedangkan, pihak terkait, semuanya menahan bukti-fisik-ril. Akhirnya, semuanya, sekedar menebak dan menduga, dan yang pasti, membiarkan masalah ini, menjadi isu kontroversial berkepanjangan.

Hal yang unik dan luar biasanya, kedua belah pihak, mampu menyampaikan pandangannya, dengan begitu luar biasa percaya diri. Mereka berargumentasi dengan yakin, dan merasa yakin banget, bahwa apa yang disampaikan, berada dalam posisi yang benar, dan sah. Sedangkan, pembaca dan pendengar, tentu berada dalam posisi dibingungkan. (1) kalau bendanya sama, pasti ada pihak yang salah, dan (2) kalau bendanya benda, artinya objek yang ditelitinya beda, pasti keduanya salah paham, atau kedua benar.  Namun, sekali lagi,  untuk sekedar hal ini pun, publik tidak mampu meyakinkan diri, apakah benda yang tengah dibicarakannya itu, adalah sama atau beda!

Hal yang menarik, disaat, kelompok pendukung itu, menyampaikan gagasan secara berapi-api, dan merasa benar dengan kosa kata yang dimilikinya itu, maka inilah yang kita sebut, kita masuk pada ruang mabok retorika. 

Emang, apa yang dimaksud dengan mabok retorika ? Ya, mirip orang mabok, dia ngomong sesuka hati, dimanapun dan kapanpun. Si penutur, si mabok itu, merasa benar, dan merasa sudah menyampaikan gagasannya. Padahal, orang lain, yang diajak bicara, tidak paham. Orang mabok retorika itu, hobi ngomong seenak udelnya, tanpa mempertimbangkan benar-salahnya argumentasi yang disampaikan, yang  pasti, dia merasa yakin, bahwa yang disampaikannya itu, benar. Orang yang sedang mabok retorika itu, banyak bersuara, tapi jauh dari makna.

Yang penting ngomong ! Tidak peduli, salah atau benar, orang lain  mencibir atau memujinya. Karena ngomong,  baginya adalah upaya ekspresi dan katalis dirinya untuk eksis, khususnya eksis dihadapan orang yang sedang dibelanya.

Yang penting, suara keras ! Dia merasa yakin, dengan suara keras, akan memberikan aura kuat, dan bisa memenangkan forum. Setidaknya, dengan suara keras, mampu menggetarkan mental lawan bicara, tidak peduli, dengan penilaian, bahwa kebenaran argumentasi itu, tidak diukur oleh keras-lembutnya suara. Yang diyakininya, keras dan membungkam ocehan orang lain, adalah sebuah kemenangan !

Yang penting, PD !. Rasa percaya diri, adalah dalil tentang kebenaran yang dimilikinya. Tidak peduli, asumsi dan struktur berpikir yang keliru. Dengan retorika yang dimilikinya, dia yakin, sang BOS akan memujinya, sebagai sebuah kebenaran dan kebaikan.

Orang bisa saja, mengajukan pertanyaan, apakah Indonesia akan mampu menyelesaikan gaza, melalui Board of Peace pimpinan DOnald Trump, disaat masalah ijazah pun, belum bisa jelas dengan meyakinkan....

bagaimana menurut pembaca ...


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar