Siang itu. Makan basom bersama rekan sekantoran. Sebenarnya, kegiatan itu, bukan kegiatan rutin. Acara makan baso bersama, rekan tempat kerja itu, lebih disebabkan, karena lelah dalam perjalanan, selepas takziah ke rekanan, yang sedang mendapat ujian sakit. Teman kita yang satu, istrinya sakit, dan memaksanya untuk rawat inap di rumah sakit. Demi persahabatan dan membangun rasa empati kepada rekanan, kami segerombolan itu, membesuknya. Di siang hari itu.
Bila tidak salah ingat. Memanfaatkan sisa waktu luang, karena pekerjaan sedang rehat, berangkat sekitar pukul 11.00 WIB, kemudian melaju ke tengah kota, menuju rumah sakit yang dituju. Sampai lokasi, sekitar pukul 12.00-an. Di lokasi tidak lama, sekedar ucapan kecil, dan doa-doa, kemudian pulang kembali, menuju ke tempat kerja.
Di tengah perjalanan itulah, kami, atas usulan kaum emak-emak, menyempatkan istirahat di tempat baso. Di sinilah, kisah itu bermula.
Tidak akan diceritakan. kisah pesan dan mencari tempat duduknya. Ceritanya, sudah mendapatkan meja makan, dengan jumlah kursi yang cukup bagi rombongan kami, berjumlah 7 orang. TIga orang lelaki, dan 4 orang perempuan.
Duduklah, sambil menikmati sajian baso, khas, yang ada di kota Bandung.
Sembari menikmati hidangan, dan sesekali meneguk teh tawar hangat, mata saya tidak bisa fokus. Mataku ini, larak lirik dan hampir liar menatap ke sana kemari. Termasuk ke salah satu titik, meja di samping kanan. Jaraknya tidak terlalu dekat. Terhalang 3 buah meja. Mereka duduk di pinggir ruangan, dekat jendela kaca di seberangnya. Jumlahnya pun, tidak banyakan. Seorang lelaki, kemudian seorang perempuan duduk di kursi roda, dan seorang anak perempuan, sekitaran usia anak pelajaran. Sama saja dengan yang kami lakukan. Mereka bercengkrama, dan menikmati makan baso khas di Paris van Java.
Di saat rekan-rekan yang lain, khusyu dan menikmati makanan di siang hari itu, mataku tidak berhenti memperhatikan keluarga tersebut. Kelihatannya sangat ceria. Setidaknya, itulah yang terlihat dari gaya berkomunikasi, baik tatapan wajah dan atau bahasa tubuh yang mereka tunjukkan.
Jelang beberapa menit kemudian, tampaknya, mereka sudah selesai. Sementara mangkuk basoku pun sudah mulai surut. Hanya tersisa kuah, dan beberapa serpihan baso untuk suapan terakhir saja. Di sela itulah, kemudian tampak mereka beranjak dari kursi, dan tampak hendak menyelesaikan ritual makan siang waktu itu.
"lihat, mereka.." ujarku ke teman-teman. Ku ajak demikian, sebagian masih tetap khusyu dengan makanan dan kunyahannya, sedangkan yang lainnya, berusaha untuk menengoknya. Namun, tidak ada kata yang terucap dari lisan mereka. Temanku terdiam, dan mungkin belum sadar, dengan maksud dan tujuan ajakanku tadi.
"hai, lihat mereka.." ajakku sekali lagi. "Sang suami, mendorong kursi roda, dan sang istrinya duduk di kursi itu, sementara anaknya berjalan di belakang..." ungkapku.
"cinta sejati..." ujar seorang emak, menimpali komentarku saat itu.
"luar biasa. Mungkin, makan baso itu sederhana. tetapi, dengan layanan serupa itu, terpancar kebahagiaan dari pelayanan prima yang suami.."
"romantis.." celoteh yang lainnya.
Mendenga ucapan itu, saya melanjutkan pemikiran, "sang suami itu, masih sempat, mengajak istri yang mengalami ketebatasan gerak untuk sekedar makan, eh, kita, malah makan sendiri, dan membiarkan pasangan kita yang sempurna dirumah sendirian.."
Karena ucapan itu, di saat itu, dan dalam moment serupa itu, yang lain, kemudian berguman, "iya, tersindir sudah kita semua hari ini...."
Seorang emak-emak mengatakan,"iya, masa harus sampai nunggu begitu, kita menikmati kebahagiaan dengan pasangan kita.."
Entah lah...
"bahagia itu, bukan soal harga makanan, atau jenis makanan, tetapi perlakuan terhadap sesama pasangan.."
Sebuah pengalaman sederhana, namun menyentuh perasaan dan nadi kesadaran yang kami miliki saat itu.

0 comments:
Posting Komentar