Supaya bisa menuntaskan pemahaman 'ngaco' saya kali ini, wacana ini, masih berkisar dinamika paradigma. Keukeuh, tulisan ini, bermaksud untuk meyakinkan diri, bahwa konsep dinamika paradigma itu ada, dan layak untuk digunakannya.
Tentu saja. Argumentasi seperti itu, bukan sebuah argumentasi emosional atau subjektif. Penulis hendak posisikan, bahwa argumentasi itu, masuk dalam kategori argumentasi akademik, dan ilmiah, walau mungkin, masih debatable bila hendak dimasukkan dalam kategori argumentasi filosofis.
Tetapi, entahlah, dan silakan saja, penilaian ada pada para pembaca !
Mengapa penulis keukeuh, untuk tetap menggunakan konsep dinamika paradigma ? tentu, setidaknya ada lima argumentasi pendukung, yang penulis tawarkan kepada pembaca. Dari kelima argumentasi itu, sengaja disajikan mulai dari sisi emosional sampai rasional.
Pertama, kita tidak sendirian. Andaipun hendak disebut ngaco, orang yang ngaco itu, tidak sendirian. Banyak sudah, tulisan atau karya akademik, yang sudah menggunakan konsep dinamika paradigma. Oleh karena itu, penggunaan istilah dinamika paradigma, tidak hanya dilakukan oleh satu orang, atau diri kita saja.
Tentu, saya sepakat, kebenaran argumentasi, tidak ditentukan oleh banyak orang yang menggunakannya. Alat ukurnya, bukan jumlah penggunanya, melainkan, kelayakan logika dalam menggunaka konsep tersebut. Kendatipun banyak yang menggunakannya, tetapi bila hal itu, adalah keliru, tetap saja, keliru, malah kita dapat mengatakan, kekeliruan yang bersifat masal dan kolektif.
Kedua, sajian argumentasi pertama itu, tidak dimaksudkan untuk menggunakan dalil kuantitatif untuk menguatkan kualitatif, tetapi ingin meneguhkan keyakinan bahwa dinamika paradigma itu, adalah konsep yang ril terjadi dan ada dalam dunia akademik, atau pemikiran manusia.
Garis bawah masalah ini, penting untuk disampaikan. Setidaknya, dengan alasan bahwa untuk memahami hakikat sebuah konsep, bukan sekedar dari ada tidak adanya konsep itu, melainkan sesuai tidaknya dengan realitas. Karena sejatinya, ilmu pengetahuan itu adalah proses pengonsepan atau konseptualisasi dari gejala. Ilmuwan adalah pembuat konsep terkait gejala. Konsep tata surya, gravitasi, magnet, atom dan lain sebagainya, semua itu adalah konseptualisasi terhadap sebuah gejala.
Dengan demikian, gejala pergeseran, peralihan dan pertengkaran paradigma dalam keilmuan, membutuhkan ada penamaan dari kalangan ilmuwan. Salah satu diantara keberanian ilmuan itu, misalnya Ubedillah Badrun, menyebut fenomena itu, sebagai dinamika paradigma. Langkah serupa itu, merupakan langkah ilmiah dan akademis dari sebuah atmosfer keilmuan.
Ketiga, gejala yang tampak, dan terkaji ilmuwan hari ini, bahwa paradigma keilmuan itu, terus bergerak dan terbuka untuk berubah. Dalam istilah lain, saat ada satu paradigma, maka kemudian akan muncul antitesis paradigma itu. Dalam satu paradigma itu sendiri pun, tidaklah statis. Karena, munculnya antitesis paradigma itu, adalah buah dari 'gejolan paradigma di dalamnya' dalam menjawab realitas itu sendiri. Disaat, konstruksi atau paradigma keilmuan yag dianut (fase normal) tidak mampu menjawab pertanyaan baru, maka dia akan mengalami krisis. Situasi serupa itulah, yang disebut dengan dinamika paradigma di internal paradigma itu sendiri.
Bila demikian adanya, maka jelas sudah bagi kita, bahwa istilah dinamika paradigma itu, ada dan memang tepat digunakan untuk menggambarkan gejala perkembangan, peralihan dan/atau perubahan paradigma itu sendiri.
Keempat, ruh dari paradigma adalah kesiapan mengalami perubahan dan perkembangan, atau koreksi atau malah pembatalan. Semua gejala yang menjadi tantangan tersebut tadi, tiada lain adalah bagian penting dari dinamika paradigma. Dengan kata lain, dinamiknya paradigma itu, akan berhadapan dengan antitesis pemikiran, yang bisa mengguncang, mengokohkan, memperbaiki atau menggugurkannya.
Terakhir, berdasarkan argumentasi itu, jelas dan rasional, bila sisi yang dinamis itu, bukan sekedar antar paradigma, tetapi diinternal paradigma itu sendiri. Kelahirkan fisika quantum, karena fikia mekanika tidak mampu memberikan jawaban. Kelahirkan paradigma baru, karena paradigma lama memgalami krisis. Kondisi krisis paradigma l ama, adalah bagian dari dinamika paradigma itu sendiri.
Begitu lah pendapatku...

0 comments:
Posting Komentar