Carl Jung (1964/2018), sudah sejak lama menyampaikan pendapat bahwa, 'manusia menggunakan kata-kata, baik lisan maupun tulisan, untuk menyampaikan makna yang mereka ingin sampaikan'. Dengan kata lain pula, kata-kata adalah simbol dari makna yang diekspresikan manusia. Demikianlah pandangan klasik, yang masih tetap tumbuhsubur dalam pemahaman manusia kali ini.
Pertanyaan kritis kita kali ini, apakah pandangan Carl Jung itu, masih relevan ? adakah, hal itu, mennjadi pernyataan yang mampu mendeskripsikan fenomena yang terjadi hari ini, di sini, di negeri kita, atau di dunia ini ?
Tidaklah mudah untuk memberikan tanggapan dan jawaban terhadap hal itu. Terlebih lagi, bila kemudian, dikaitkan dengan alam bawah sadar, dan atau masalah kesadaran itu sendiri. Kita hari ini, di zaman kita hari ini, malah menemukan indikasi, bahwa ada kebutuhan untuk melakukan interpretasi ulang terhadap pernyataan kalangan Antropolog, Psikolog atau ilmuwan Studi Budaya kontemporer.
Persoalan yang menggelitik itu, adalah bila masalah ini kemudian dikaitkan dengan maraknya kelompok munafik. Perdana Menteri Israel, menyebut delegasi yang walk-out dari Sidang PBB, dianggap sebagai perwakilan dari negara-negara yang munafik. Kemudian, di negara kita, begitu ramai orang, yang melakukan pembelaan total, dalam menutupi satu kebohongan. Baik dalam pengertian yang membela kebohongan, kepalsuan, atau yang memberikan dukungan terhadap tuduhan kebohongan.
Perlu ditegaskan di sini. Saat kita, publi, dihadapkan pada drama persidangan, yang mengatasnamakan hukum, dengan tema pembuktian mengenai keaslian sebuah dokumen pribadi, maka didalamnya ada dua kemungkinan yang bersebrangan, tetapi ada satu gejala yang sama. Kedua kemungkinan itu, adalah (1) ada yang membela kepalsuan dokumen, atau (2) ada yang mendukung tuduhan kepalsuan.
Dengan memanfaatkan prinsip 'praduga tak bersalah', maka yang dituduh boleh jadi, benar, dan memiliki dokumen pribadi yang asli. Artinya, mereka tidak bohong. Pembelanya, sangat solid dan masif. Dengan kata lain, dilain pihak, berarti yang menuduh dokumen palsu, adalah kebohongan, dan pendukungnya pun, sangat solid dan masif.
Di lain pihak, bisa jadi, si pemilik dokumen itu, bohong, namun dengan sangat jelas pendukung sangat solid dan masif. Bila kondisi ini, benar maka si penggugat kepalsuan adalah benar, dan pendukungnya pun, sangat solid dan masif.
Bila demikian adanya, apa yang sedang terjadi ? dan bagaimana kita memaknai pernyataan Carl Jung (2018) tersebut ? Di sinilah, sikap kritis kita mulai muncul.
Untuk memahami fenomena yang terjadi di tengah masyarakat kita, seperti halnya, di era hipokrit itu, atau kemunafikan itu, maka ada indikasi bahwa kata-kata, pernyataan, atau buah tutur yang dilontaskan dari lisan para penuturnya, bukanlah ekspresi dari pikirannya atau perasaannya. Karena, hipotesisnya, ada sesuatu hal yang mereka sembunyikan. Para pelaku, tengah menyembunyikan kebenaran, dan menggunakan kata-kata manipulatif, untuk menutupi makna yang sebenarnya.
Sekali lagi, gagasan yang hendak kita koreksi itu, adalah "manusia menggunakan kata-kata untuk menyampaikan makna yang ingin disampaikan". Dalam konteks dialog kemunafikan, antara pendusta dengan pembohong, pernyataan itu, menjadi sesuatu yang tidak sederhana. Saat dia mengatakan, bahwa warna huruf ini, adalah merah, sejatinya dia sedang menyampaikan pesan, tetapi pesannya bukan sesuatu yang sebenarnya. Karena itu, ada keterampilan lain yang perlu dipahami untuk menemukan makna esensial dari pesan yang hendak disampaikan, dan perlu dipahaminya.
Pengalaman praktis di masyarakat, kadang kita bertemu dengan emak-emak yang mengendalikan kendaraan. Sebut saja, mengendarai roda dua. Di kendaraan itu, ada tanda lampu sein (sign). Lucunya, sein menunjuk ke arah kanan, namun beloknya malah ke kiri, atau sebaliknya. Bila baru pertama kali bertemu, maka kita akan merasa dibohongi, dan bisa menyebabkan salah langkah, salah tindakan, dan salah paham. Tetapi, bila sudah bertemu berulang kali, dan kemudian, terjadi hal yang serupa itu lagi, maka kita sudah paham, dan bisa memakluminya.
Mengapa hal itu terjadi ?
Di sinilah, kita bisa menemukan konstruksi baru, atau pengembangan pemahaman yang lebih mendalam dari pernyataan Carl Jung itu sendiri. Dengan kata lain, kata-kata bukanlah media penyampaian makna dari pesan yang hendak disampaikan, tetapi bisa berperan pula sebagai simbol yang perlu diinterpretasikan. Upaya penginterpretasiannya, tidak cukup sekedar mengenali makna dari balik kata, namun makna dari sejumlah simbol yang saling berkaitan secara kontekstual, sehingga bisa tersusun makna-dasar yang tersampaikannya.
Sein kendaraan adalah satu hal, emak-emak sebagai pengendara adala hal lain, dan kultur masyarakat lokal adalah konteknya. Dengan memahami (minimalnya) tiga unsur tersebut, kita dapat menyusun pesan yang perlu dipahami oleh kita.
Pun demikian, bila berhadapan dengan masyarakat hiprokrit. Di lingkungan masyarakat serupa ini, kita tidak bisa sekedar menemukan makna dari sebuah pernyataan, melainkan perlu mendalami makna inter-teks dan konteks yang melingkupinya. Karena sejatinya, para pembohong itu, menyembunyikan pesan dan maknanya, dibalik rangkaian sikap dan kata yang sporadis.
Hipotesis narasi ini, pernyataan yang jujur akan memiliki konsisten makna, antarteks dan konteks. Sedangkan pernyataan hipokrit potensial tampil dalam struktru sporadis antarteks dan konteks.
Apakah kelakuan emak-emak itu, masuk dalam kategori hipokrit ? tentu, masuknya pada level kepalsuan yang tidak disadari, berada di alam bawah sadar. Sedangkan, masyarakat hiprokit adalah kepalsuan yang disadari.

0 comments:
Posting Komentar