Just another free Blogger theme

Kamis, 10 September 2026

Kesadaran ini, belum lama muncul. Kemunculannya pun, tidak disengaja. Kemunculannya pun, bisa jadi, merupakan ekspresi sesaat, atau sekedar sebuah kefrustasian belaja. Mungkin begitu. Oleh karena itu, adalah wajar dan biasa saja, bila kemudian, kurang berbobot secara ilmiah atau jurnalisme, dan lebih sekedar sebagai curahan hati belaka.


Masalahnya, dimana ?

Ya itu, di sinilah, persoalan utamanya. Saat kita, berhadapan dengan status sosial kita, dan juga realitas kehidupan ini. Khususnya, bagi  kita, eh, maksudnya saja, sebagai guru, yang bekerja di sebuah lembaga pendidikan.

Citra guru, atau citra seorang guru, normatifnya, sangat dijunjung tinggi dan dihormati. Tetapi realitasnya, tidaklah serupa itu. Guru adalah profesi yang dianggap mulia secara status sosial, namun, tidak menarik harapan banyak kalangan, untuk menduduki profesi ini.

Bila dunia pendidikan mengalami masalah, maka gurulah yang jadi sasaran. Masalah keracunan, guru dianggap lalai. Kalau kualitas lulusan menurun, guru dianggap tidak kompeten. Kalau, kenakalan siswa mencuat, guru dianggap gagal dalam melakukan pendidikan karakter.

Di luar itu, jarang-jarang ada yang memberikan apresiasi terhadap prestasi pendidikan, yang menjunjung nama guru. Kalau PISA naik, yang dipuji-puji adalah kemendikbudnya.  Tapi, kalau pengangguran tinggi, dunia pendidikan dikritis abis-abisan, dan profesionalsime guru yang menjadi sasaran.

Lucunya lagi, kalau guru, berkomentar tidak dianggap ilmiah, dan malah dianggap partisan. Padahal umumnya guru itu adalah lulusan perguruan tinggi, dan mengenyam jenjang pendidikan sarjana. Tetapi, pikiran dan pemikirannya, tidak dianggap ilmiah.

Andaipun, hendak melakukan pemberitaan, maka kualitas jurnalismenya pun, dianggap rendah. kHususnya, karena dianggap tidak memiliki kompetensi jurnalisme.

Sementara itu, kesehariannya, sebagai seorang guru, disibukkan dengan administrasi. Harus membuat ini, itu, ino, uti, dan banyak hal lagi. Pusingnya, bukan tujuh keliling lagi, malah bisa sampai delapan sembilan keliling itu, pun, kalau masih sanggup. Sebab, kalau tidak kuat, sang guru, malah sudah tersungkur pingsang di buatnya.

Jadi .guru itu, disebut birokrat, bersifat fungsional. Danm bila dianggap fungsional, kepatuhannya, harus seperti birokrat, yaitu tidak ada ekspresi intelektual yang terbuka. Guru, sangat tunduk dan patuh, serta tidak berdaya dibawah kendali birokrasi, padahal, ciri fungsional itu, adalah pemberdayaan nalar dan profesionalismenya, dan bukan kepatuhan pada kerja-kerja rutin administrasi kakunya !!!


Categories: ,


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar