Soal ini, tidak mudah. Tidak mudah menyelesaikannya, dan tidak mudah pula, untuk membincangkannya. Namun, soal serupa ini, masih tetap menarik dan memantik diskusi, yang berkepanjangan, dan bahkan tak berkesudahan.
Apa itu filsafat ? apakah filsafat itu, sebuah metode pencarian kebenaran, atau sekedar permainan bahasa untuk mempengaruhi opini orang lain ?
Pertanyaan, yang sederahana, namun mak cleb!
Lha, kok bisa ?
Untuk sekedar membelah saja, dan memudahkan kita berwacana, maka setidaknya kita akan berhadapan dengan dua aliran besar dalam pemikiran ini. Setidaknya demikianlah, versi sederhana dari orang goblok (eh, atau dungu, ya..).
Satu sisi, kelompok yang memandang bahasa sebagai instrumen. Instrumen dalam mengungkap kebenaran. Kebenaran itu, sendiri bukan ada dalam bahasa, namun pada hakikat-yang perlu dihadirkan. Bahasa itu sendiri, sekedar tools atau alat atau media untuk membahasakannya. Tetapi, pada sisi lain, orang meyakini bahwa kita tidak akan tahu, hakikat atau esensi. Yang kita bisa diskusikan itu adalah makna-makna atau interprestasi dari kosa kata yang digunakan dalam bahasa itu sendiri. Maka karena itu, bahasa atau kata-kata itulah, sejatinya, ruang-diskusi kebenaran tersebut.
Ambil saja contoh kecil. Kita sering menggunakan istilah 'presiden'. Istilah ini, bisa dirujukkan pada kepala negara, dan bisa juga, dirujukkan pada pimpinan tertinggi sebuah negara. Mana yang benar ? Untuk aliran pemikiran kedua, makna yang tepat dari istilah presiden, adalah konteks dalam kalimatnya karena kata presiden, hanya permainan kata dalam sebuah kalimat saja. Sedangkan, mazhan pertama, bisa jadi, menangggap bukan pada k onteksnya, tetapi harus digali dair hakikat makna presiden itu sendiri, yakni sebagai pimpinan puncak dalam sebuah struktur kekuasaan.
Lha, jadi bingung ya? ya itulah, dan di sinilah, persoalannya.
Saat nalar kita berada dibawah kendali sang pentur, atau orator, dengan mengaku memahami metodologi berpikir dan atau kritik ideologis, maka kita akan terdiam seakan menerimanya secara total, dan langsung mendukung dan memujinya setinggi langit.
Kita sendiri, berada dalam situasi terjebak. Terjebak oleh intonasi, dan terjebak olah diksi. Pilihan kata orang yang bertutur, seakan memasuki ruang-kerja nalar kita, dan kemudian merampok kesehatan berpikir kita. Sejumlah diksi, seperti metodolohi berpikir, kritik ideologis, substansi, esensi dan teknokratis, adalah sejumlah kata yang kerap digunakannya, untuk membongkar kelemahan berpikir lawan, dan membungkam pemikiran lawan.
Pada ujungnya, sang lawan, terdiam, dan mengajukan persetujuan terhadap nalarnya.
Tetapi, memang benar menurut Jurgen Habermas. Bahwa pikiran dan pengetahuan, tidak lepas dari ideologi. Ketiak ideologinya memuncak, dan memenangkan kekuasaan, maka karakter orientasi dan keberpihakannya itu, akan kentara dengan kasat mata dan jelas sekali lagi.
Pada konteks itulah, kita hari ini, sedang melihat, drama aktualisasi-ideologi pikiran seorang pemikir. Semula, dianggap sebagai pemikir kritis dan independen, serta menjaga jarak dengan kekuasaan, hari ini, menunjukkan sikap keberpihakan yang jelas terhadap kekuasaan, dan mengabaikan penderitaan jarak.
Korban jiwa, keracunan, keprihatinan publik, dan pemborosan anggaran negara, sekedar dianggap sebagai objek permainan kata, untuk ditawarkan kepada publik. Publik terperanjat dengan hal serupa itu, namun, dia merasa yakin, itulah yang hakiki, esensi dari berpikri ideologis.
Sampai pada level inilah, saya merasakan, bahwa sang filosof, sedang berusaha untuk memainkan kosa katanya, dalam mempengaruhi publik. Tetapil publik, yang sempat diasuhnya, sudah mampu menunjukkan sikap kritis, bukan saja kepada lingkungan, penguasa, tetapi juga sang pengasuhnya.
Saat di masa lalu, penguasa dianggap sebagai oknum pengidap kedunguan, saat ini publik, sudah bisa melihat dan menemukan oknum pengidap kedunguan yang lebih beragam. Pakar pun, saat kelewatan dalam mengembangkan ego nalarnya sendiri, memang betul-betul menunjukkan kedunguan atau kegoblokannya sendiri.
Melihat kejadian ini, jadi ingat dua kisah, dengan dua pepatah. Kalau merujuk pada Marxisme, seakan ada informasi, "kasih saja duit, maka karakter berpikirnya, akan tampak dengan jelas..".
Atau, dalam istilah fasisme, "kasih saja, ancaman penderitaan, maka akan muncul karakter berpikirnya..?"
Artinya, akankah seseorang bisa mengubah haluan berpikirnya, jika sudah dikasih jabatan, materi, dan atau ancaman penderitaan ? di situlah, karakter seseorang bisa tampak

0 comments:
Posting Komentar