Pagi ini, dan Ramadhan ini, ada peristiwa besar, yang mengguncang pikiran dan perasaan. Tentunya, bagi sebagian orang, dianggapnya besar dan menyesakkan dada, tetapi bagi sebagian orang pula, dapat diartikan sebagai sesuatu yang melegakan. Lha, berita besar apa yang dimaksud ? keputusan akhir, masa depan nasib.
Bisa jadi, ada yang bertanya, memangnya keputusan apa yang terjadi ? Tentunya, keputusan itu, adalah takdir Tuhan, yang menimpa diri kita. Bentuknya bisa beragam. Terkait pendidikan, ekonomi, jabatan, karir, atau hubungan kemanusiaan, dan juga keputusan politik yang menyangkut keamanan diri, negara dan dunia ini.
Ah, mungkin, kalian masih bingung. Bila bingung tak masalah. Karena kebingungan langkah, adalah salah satu efek dari sebuah keputusan. Sekali lagi, tidak boleh terjebak dengan bentuk takdirnya, karena yang terpenting itu, bukan masalah takdirnya, melainkan respon kita terhadap takdir tersebut.
Tanpa di sengaja pula. Hari ini, membuka karya akademik dengan judil Planet OMNI, buah pikir Hermawan Kartajaya dan Jacky Murssy, serta Edwin Hardi. Ketiga penulis itu, kolaboratif menuangkan ide, gagasan dan rekomendasinya dalam menghadapi planet OMNI.
Jika tidak melakukan penelaahan langsung ke dalamnya, mungkin akan bertanya-tanya, mengenai apa yang dimaksud dengan Planet OMNI. Tetapi, dengan membaca pengantarnya saja, dan kemudian mencermati analogi yang digunakan, saat menghadapi situasi kehidupan ini, maka akan dengan mudah memahami arah pikiran dan rekomendasi pemikiran yang hendak disampaikannya.
Betul, saya meminjam pemikiran dari buku itu, dan akan menggunakannya konsep itu, dalam peuturan wawasan saat ini. Analogi yang disampaikannya itu, adalah konsep Yin-Yang. Hanya saja, mereka menyebutnya Yin Yang, dalam konteks baru, yakni di kehidupan Planet OMNI.
Seperti yang disampaikan di awal paragraf, dalam kehidupan kita, kerap dihadapkan pada paradoks, atau mungkin chaos, atau setidaknya masih membingungkan, dan jelimet. Itulah yang disebutnya kompleksitas, ketidakpastian, ambigu, tetapi juga, ternyata dihadapinya dengan penung keriangan-kehidupan modern.
Pertumbuhan dan perkembangan teknologi modern, memberi contoh nyata. Benar dan Salah, berita haq dan hoax, fitnah dan amanah, setan dan malaikat, elit agama dan elit durjana, membuncah dan bahkan tidak mudah untuk membedakannya. Karena itulah, dalam menghadapi situasi serupa ini, kita dihadapkan pada kelompok yang bahagia dengan kenyataan ini, dan ada pula yang bersedih dengan kenyataan yang terjadi.
Serupa dengan apa yang ada dalam pikiran ini. Sudah lama, hampir 3 tahun lamanya. Arah karid dan kepastian karir itu, menggantung, tidak jelas bentuknya. Harapan dan kecemasan, menggelayut. Impian dan kenyataan, beririsan di fase temaram. Jawaban ya, atau tidak, ada dalam mangkuk kegalauan.
Berhadapan dengan situasi serupa ini, hati ini, dipaksa untuk diajak ke dalam fase-menerima kenyataan. Realitas faktual, adalah takdir semesta, keputusan Ilahi, yang terbaik buat diri ini, dan hari ini ke depan.
Sekali lagi, realitas adalah produk keputusan terbaik alam semesta. Tidak boleh mengingkari realitas ini, dan tidak usah memimpikan realitas yang tidak faktual hari ini. Apapun, yang ada mimpi, saat ini, sudah menjadi sebuah bayangan-elang dari atas langit. Neangan kalangkah heulang, adalah pekerjaan yang rumit, bukan saja kompleks, tetapi sesuatu yang tingkat kemustahilannya, lebih besar dari sebuah kepastiannya.
Semoga kita paham, bahwa apa yang terjadi hari ini, dan yang dirasakan hari ini, pada dasarnya adalah produk keputusan hidup kita di masa lalu. Soalan yang perlu dikedepankan, adalah, apa langkah ke depan, yang bisa kita lakukan bersama ? apa yang bisa dikerjakan, dalam mengisi realitas ini ?
Percayalah. polarisasi di awal kisah itu, akan terjadi pula di sekitar kehidupan kita. Akan ada kelompok orang yang diuntungkan, dan dibahagiakan, dengan hadirnya realitas ini. Manfaatkan, dan seriuskan dalam membangun kerukunan dengan mereka, untuk mengisi kehdiupan ini. Di sisi lain, andai ada yang mencibir, dan menertawakan, maka jadikanlah hal itu sebagai sebuah kritik, koreksi dan koridor halus, untuk tetap istiqamah dalam menjalankan visi dan misi ke depan.
Kebahagiaan kita di depan, bukan dari mendengarkan kritik atau omelan, melainkan memanfaatkan kritik, omelan dan juga sindiran sebagai bagian dari perbaikan hidup kita hari ini, ke depan.
Terima kasih Tuhan, dengan keputusan ini, sejatinya, sudah memberikan kesempatan kepada diri ini, bisa melanjutkan harapan yang sempat terganggu oleh kegalauan, akan jurang-ancaman hidup yang dirasa lebih besar, dan berat.

0 comments:
Posting Komentar