Just another free Blogger theme

Jumat, 27 Februari 2026

Yahya Muhammad, seorang pemikir dan teoritikus, kelahiran Irak 1959, sejak tahun 1970-an, sudah melontarkan kritik terhadap tradisi ilmiah, termasuk dalam pemikiran keagamaan. Sejumlah karya dan pemikirannya, mulai beredar dan dikenal pembaca Indonesia. 


Dalam karya berjudul (indonesia), ”Bagaimana Pengetahuan, Kehendak dan Indentias Membentuk Keyakinan Manusia”, (Muhammad 2026:84),selepas melakukan kritik terhadap bias-bias epistemik yang berkembang saat ini, dia mengajukan pandangan (selera epistemiknya) sendiri yakni mengajak pada visi integratif yang bertumpu pada pluralitas dan saling menghormati antar ilmu dan lintas spesialiasasi.

Melalui kajiannya itu, kita disadarkan, terhadap bias-bias pola epistemik atau bias epistemik. Faktor atau penyebab adanya bias epistemik itu, sangat beragam. Ada yang bias, karena pemikiran dan sikap tokoh intelektualnya. Akibat kekaguman pada tokoh itu, baik tokoh politik, ketua umum partai, tokoh organisasi atau tokoh lainnya, kemudian kita menenggelamkan diri untuk terdoktrin dan taklid terhadap pandangannya.
Dampaknya sangat jelas, jika ada orang yang mengkritisinya, maka dia akan membelanya habis-habisan. Dalam konteks politik, kita dapat menyaksikan gejala ini, tanpa merasa malu, dengan argumentasi mentah dan lemah yang dimilikinya.

Ada juga yang terjebak pada bias mazhab atau golongan. Dalam tradisi Islam, menurut Yahya Muhammad, kelompok Sunni tidak mau membaca narasi atau wacana yang digagas orang Syi’ah, pun demikian sebaliknya, orang Syi’ah tidak mau mencari informasi, gagasan atau informasi dari kalangan Sunni.
 Dalam pandangan Yahya Muhammad, mereka itu,  terjebak pada kesempitan epistemik karena mengalami bias epistemik.

Masih banyak yang diulas Yahya Muhammad dalam karyanya itu. Kita tidak akan mengulas hal itu semua. Hal yang ingin ditegaskan di sini, adalah ajakan Yahya Muhammad untuk membangun visi integrasi epistemologi dalam merespon masa depan.

Untuk menjawab masalah ini, izinkan saya untuk menyampaikan perjalanan pemikiran yang pernah dialami.

Di tahun 2016, penulis pernah menerbitkan karya dengan judul Metodologi Penelitian Geografi (Sudarma 2018). Dalam karya itu, disajikan sejumlah ragam perspektif dan prosedurnya, pendekatan-pendakatan keilmuan yang ada dalam Geografi, mulai dari perspektif Kritis, Feminis sampai pada pendekatan Geografi Prilaku. Alasan utama, penyampaian wacana itu, karena diyakini bahwa terdapat ragam perspektif atau epistemologi, yang bisa membaca fenomena geosfera.

Bila saja, peta konsep yang ada dalam karya itu dicermati, maka tiada lain adalah bentuk kesadaran dan tindakan nyata, pengakuan penulis terhadap adanya pluralisme epistemik, dan setiap orang diharapkan paham, mengerti dan menghormati adanya keragaman epistemologi dimaksud.

Perjalanan pemikiran itu, terus berlanjut. Di tahun 2024, penulis bersama rekananan, mengeluarkan karya berjudul ”Metodologi Penleitian,  Tauhid sebagai Paradigma Riset” (Saepuddin and Sudarma 2024). Kerangka pikir dalam karya ini, berbeda dengan pandangan pada karya sebelumnya. Saat membahas Metodologi Geografi, menggunakan pendekatan pluralitas, sedangkan pada karya keduanya, menggunakan pendekatan intergatif atau tauhid. Sejatinya, karya kedua ini, disusun lebih dulu dibanding dengan buku pertama tadi. Buku yang disebutkan kedua itu, penulis tulis sejak 2008, kemudian direvisi 2012, dan baru terbit di tahun 2024.

Bisa jadi, ada diantara pembaca yang mengajukan pertanyaan krits, ”jadi, paradigma pemikiran mana yang dianut si penulis ?” pertanyaan ini, selaras dan relevan dengan kenyataan faktual, bahwa kedua karya tersebut, menyajikan epistemologi keilmuan yang berbeda jauh.

Untuk menjawab ini, penulis secara pribadi jadi ingat, pada pandangan filosofis Mulla Shadr atau Shadruddin Muhammad Asy-Syirazi (1571–1640 M). Mulla Shadra pendiri filsafat luhur (hikmatul Muta’aliyyah). Salah satu teori yang dikembangkannya itu, adalah konsep gerak substansial. Mohon izin, dalam hal ini, penulis pinjam konsep gerak-substansial (harokah al jawhariyyah), dari Shadr, untuk menjelaskan gerak-epistemik.

Meminjam pandangan ini, maka kita dapat mengatakan bahwa epistemologi yang kita gunakan, adalah pendekatan integratif (tauhid). Adapun prosesnya, dapat selekstif (talfiq), yaitu bisa bergerak dari pluraitas ke interdisipliner (integratif/tauhid). Gerak epistemik inilah yang disebut harakatul manhaj minal katsrah ila wihdah.  Implementasinya, pendekatan ini mirip dengan bhineka tunggal ika, apapun metode berpikirnya, namun tujuannya adalah menjelaskan realitas menuju kebenaran.

Tetapi pada sisi lain, kita pun, saat kita berhadapan realitas atau fenomena alam dan fenomena sosial, faktualnya kita menghadapi sesuatu yang tunggal. Misalnya, melihat fenomena gerhana matahari, gejalanya Cuma satu. Mengamati gunung meletus, faktanya
 Cuma satu, yakni sama-sama tengah mengamati sebuah gunung yang meletus hari itu, disaat itu. Namun demikian, dari satu fakta itu, kemudian melahirkan dan merangsang ragam sudut pandang dalam menarasikan fenomena tersebut. Dalam situasi itu, itulah yang disebut harakatul ma’rofah minal wihdah ila katsrah, pergerakan epistemik dari kesatuan pada keragaman.

Simpul pemikiran yang ingin disampaikan di sini, dengan mencaermati gagasan yang disampaikan Yahya Muhammad, Mulla Shadra, penulis mengambil posisi, menerapkan model-model yang digagas Mulla Shadr, ke dalam konteks epistemologi keilmuan.

Bagaimana dengan pembaca ?

Categories: ,


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar