Just another free Blogger theme

Selasa, 24 Februari 2026

 


Di kehidupan masyarakat, kadang kita mendengar  ”ah, yang penting mah, niat...!”, begitulah ungkapannya, sambil memasukkan sejumlah koin ke dalam kencleng masjid. Ungkapan dan pernyataan itu, adalah hal biasa, dan sering kita dengar. Bahkan, latar sikap dan tindakan itu, kerap kali pula, disandarkan pada hadist Nabi Muhammad Saw, tentang niat.


ٍعَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ


Dari Umar radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah," (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits).

 

Alhamdulillah, fondasi amal perbuatan manusia serupa ini, sudah menjadi bagian penting dari keyakinan, kesadaran dan dorongan hidup dari seorang muslim. Namun, apakah tahapan ini, sudah selesai, dan menjadi bagian penting dari sikap seorang muslim ?

Untuk menimbang perbuatan ini, ada baiknya, kita memperhatikan firman Allah Swt  :

﴿ اِنَّمَآ اَمْوَالُكُمْ وَاَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۗوَاللّٰهُ عِنْدَهٗٓ اَجْرٌ عَظِيْمٌ ١٥ ﴾ ( التغابن/64: 15)

Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu). Di sisi Allahlah (ada) pahala yang besar.   (At-Tagabun/64:15)

Mengapa ayat ini penting untuk ditelaah ? apa kaitannya dengan niat, dan perbuatan kita sehari-hari ?

Bila ditelaah dengan seksama, ayat ini, memberi sebuah gambaran kepada kita, bahwa dalam kehidupan di dunia, ada ujian hidup yang sangat mendasar, yaitu anak dan harta (amwalakyum) dan anak (auladakum). Kedua masalah inilah, yang menjadi fitnah, ujian, cobaan atau kesibukan manusia dalam kehidupan kita di dunia ini.

Bila demikian adanya, jangan-jangan, niat kita dalam beribadah pun, akan memiliki hal yang berbeda, dihadapan manusia dan dihadapan Allah Swt, terkait dengan perbedaan kesibukan hidupnya di dunia ini. Seseorang yang memiliki kesibukan hidup, baik terkait masalah anak dan masalah hartanya, akan membedakan dari kualitas amalan yang dilandasi oleh niat yang sama.

Dalam konteks interpretasi, bisa  jadi makna anak, bisa dikemas dan dikembangkan menjadi masalah sosial. Anak hanya analogis saja, qiyas saja, namun maknanya bisa lebih luas, misalnya terkait dengan masalah sosial, organisasi, atau pemerintahan. Semua hal-hal yang menyangkut masalah sosial, dapat dimaknai sebagai masalah-masalah ’auladakum’ (anak, anak asuh, bawahan, atau anggota organisasi).  Sementara, amwal atau harta, bisa dimaknai sesuatu yang dimiliki, baik itu kekayaan, jabatan, atau yang sejenis lainnya lagi.

Terkait dengan hal ini, setidaknya dalam persepsi sosial kita, akan memberikan penilaian yang berbeda, terhadap satu amal perbuatan yang sama, dengan niat yang sama. Misalnya, seorang jamaah masjid, sedang tadarusan. Penilaian kita, bisa jadi, adalah wajar, normal dan dinilai biasa saja. Sementara, kalau ada seorang pemuling, di bulan Ramadhan ini, sedang tadarusan di pinggir jalananan. Mohon maaf, walaupuan kedua orang itu, niat sama (lillahi ta’ala), amalannya sama (membaca al-Qur’an), tetapi dalam persepsi kita, akan melihat kualitas dari perbuatannya itu, akan  berbeda. Seorang pemulung, akan dinilai luar biasa, dibanding dengan amal perbuatan serupa, yang dilakukan oleh seroang jama’ah masjid.

Mengapa hal itu terjadi ? itulah, yang tadi di sebut, bahwa kesibukan hidup mengurusi masalah sosial dan masalah ekonomi, akan memberikan pengaruh yang berbeda terhadap niat dan jenis perbuatan seorang muslim.

Seperti yang sering kita lihat juga. Jika ada anggota jama’ah masjid, shalat berjama’ah. Itu biasa, dan wajar. Niat ibadah jama’ahnnya, adalah lilahi ta’ala. Tindakan dan amal perbuatan itu, akan berbeda jauh, bila kemudian kita melihat ada pemain olahraga, sesudah bermain, kemudian shalat berjama’ah di stadion. Nilai dan kualitas ibadahnya yang dilakukannya, akan terasa berbeda, karena tingkat kesibukannya yang berbeda.

Kemudian, dalam ayat 16-nya, Allah Swt berfirman :

﴿ فَاتَّقُوا اللّٰهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوْا وَاَطِيْعُوْا وَاَنْفِقُوْا خَيْرًا لِّاَنْفُسِكُمْۗ وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ١٦ ﴾ ( التغابن/64: 16)

Bertakwalah kamu kepada Allah sekuat kemampuanmu! Dengarkanlah, taatlah, dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu! Siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung.   (At-Tagabun/64:16)

 Dalam ayat ini, Allah Swt memberikan perintah, bertakwalah kamu kepada Allah sekuat kemampuanmu. Istilah mastatho’tum ini, bisa beragam makna. Tetapi satu diantara makna yang bisa disampaikan di sini, bahwa karena ada perbedaan kemampuan, maka akan melahirkan perbedaan cara, dan bentuk ibadahnya. Seperti halnya, shalat, ada yang bisa dilakukan dengan cara berdiri, duduk, atau berbaring. Tidak masalah, itu adalah bentuk dari mastatho’tum.

﴿ وَلِكُلٍّ دَرَجٰتٌ مِّمَّا عَمِلُوْاۚ وَلِيُوَفِّيَهُمْ اَعْمَالَهُمْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ ١٩ ﴾ ( الاحقاف/46: 19)

Setiap orang memperoleh tingkatan sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan dan agar Allah menyempurnakan balasan amal mereka serta mereka tidak dizalimi.  (Al-Ahqaf/46:19)

 Hal uniknya, pada surat al-Ahqaf, ayat 19, al-Qur’an mengabarkan keada kita, bahwa setiap orang akan memperoleh derajat hidup sesuai dengan apa yang dikerjakannya. Pesan moral dari firman Allah Swt, kendati niat sama, bentuk perbuatannya sama, tetapi, berbeda dalam ikhtiar atau usahanya, maka nilai dihadapan manusia dan insya Allah, dihadapan Allah Swt akan berbeda.

Sekedar contoh kecil, seorang Presiden di hari qur’an atau idul adha, berkurban sapi. Niat, dan bentuk kegiatannya sama, yakni lillahi ta’ala untuk berkurban. Tetapi, kualitas ibadah yang dilakukannya itu akan  berbeda, bila kita mendengar, ada seorang pemulung,  berkurban sapi atau kambing. Atau, seorang ASN melaksanakan ibadah haji, akan berbeda dengan cerita, seorang tukang beca, melaksanakan ibadah haji

Sekali lagi, niat mereka sama, bentuk ibadah sama. Kalaupun ada biaya ibadahnya, pasti sama. Namun, mengapa nilainya bisa berbeda ? Itulah, yang disebut, setiap derajat atau kualitas  perbuatan manusia itu, bukan hanya bergantung pada niat, tetapi bergantung pula kualitas ikhtiar atau usaha yang dilakukannya, sesuai dengan kesibukan atau kemampuan yang dimilikinya.

Berdasarkan pertimbangan itu,  dapat disederhanakan, niat memberi warna pada tujuan dari sebuah perbuatan, kesibukan hidup, mempengaruhi pada kualitas perbuatan, sedangkan ikhtiar, akan mempengaruhi pada tingkatan atau derajat kualitas kehidupan !


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar