Sekali
lagi, menarik pertanyaan pemantik dari John L. Esposito, saat menjelaskan
mengenai Islam. Dia mengatakan, bahwa saat mendeskripsikan Islam, kita akan
berhadapan dengan warna-warnai Islam di berbagai belahan dunia. Karena itu
Mungkin jadi, kita agak bingung dengan hal ini. Karena, kerap kali dalam keyakinan kita, Islam itu hanya ada satu (Islam), dan bukan banyak Islam (Islams). Rujukan Islam pun, yang utamanya, hanya ada 2 (dua), yaitu al-Qur’an dan Sunnah. Maka dari itu, saat disampaikan orang lain, bahwa Islam itu banyak menjadi sesuatu yang membingungkan.
Sekali
lagi, Islam itu hanya ada satu, itu benar. Tetapi, wajah Islam yang tampak
dalam kehidupan sehari-hari, sebagaimana yang ada di permukaan bumi ini,
sangatlah beragam. Secara pemikiran ada Islam Sunni, Islam Syi’i, Islam
Murji’ah, dan lain sebagainya. Fenomena itulah, yang disebut Islam
berwarna-warni.
Pun demikian dengan kegiatan Ramadhan. Kita bisa mengajukan pertanyaan hal serupa. Ramadhan Siapa ? Siapa yang menafsirkan awal Ramadhan ini ? untuk mengulas masalah ini, kita dapat mengetahui bahwa ada Ramadhan Muhammadiyyah, Ramadhan Persis, Ramadhan NU, Ramadhan an-Nazir, Ramadhan Aboge, dan juga Ramadhan Pemerintah. Bila ditelaah dengan seksama, untuk kasus Ramadhan ini, maka bilangan Ramadhan hari ini, akan berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya.
Pun
demikian, terkait dengan amalan shalat tarawih. Perhatikan dengan seksama, atau
coba ikuti sejumlah masjid dari aliran mazhab yang berbeda. Maka kita akan
merasakan protokol pelaksanaan tarawih yang berbeda-beda. Protokol tarawih,
mulai dari shalat Isya, sampai selesai tarawih, kerap kali ada perbedaan, baik
dalam tahapan, atau proses pelaksanaannnya.
Satu waktu, saya hadir ke tempat kerja, karena harus melaksanakan kewajiban mengisi daftar kehadiran. ”lha, kok belum puasa? Kan, kamu aktivitas organisasi itu ?” Mendengar pertanyaan itu, saya hanya tersenyum.
Di sinilah,
kita menemukan relevansinya konsep ”Islam Yang Mana?”. Hal itu pun, relevan
dengan masalah Ramadhan yang mana, organisasi yang mana ? makna dasar dari
pertanyaan ini, terkait dengan kurun-apa hal itu hendak dibincangkan. Hal itu
terjadi, karena penafsiran terhadap agama, terus mengalami perkembangan dan
perubahan, misalnya antara pemahaman tradisional, modern, dan juga posmodern.
Ibadah Ramadhan, walaupun kita dari satu organisasi yang sama, namun dalam pelaksanaannya ternyata mengalami perkembangan. Itulah yang disebut Esposito. Islam, dan Ramadhan, setidaknya dalam konteks pemahaman dan penghayatannya dari penganutnya, terus mengalami perkembangan, atau penafsiran ulang secara berkelanjutan.
Sekedar
informasi saja, menurut berita di media sosial, sebelum 2023, jumlah rakaat
shalat tarawih di masjidil Haram, jumlahnya adalah 20 + 3 witir, atau 23
raka’at. Namun, sejak 2024, terjadi perubahan menjadi 2 rakaat shalat iftitah, 8 rakaat tarawih, dan 3 raka;at witir, jumlah
akhir adalah 13 rak’aat. Itulah wujud nyata, shalat malam ramadhan yang mana,
yang menjadi perhatian kita semua.
Dengan memperhatikan kegiatan dan praktek ibadah Ramadhan ini, kita dihantarkan pada satu titik pemikiran bahwa praktek ibadah atau rujukan fikih dalam berramadhan pun, terus mengalami perubahan dan perkembangan. Jadi Ramadhan siapa dan dimana, menjadi menarik, khususnya dalam meningkatkan kearifan kita dalam memahami keragaman dalam penghayatan Islam di kehidupan ini.
Inilah yang dikatakan orang, Indahnya Islam, atawa indah Ramadhan, karena keanekaragaman yang hidup dalam satu keyakinan (aqidah Islam, Tauhid).

0 comments:
Posting Komentar