Pendidikan Indonesia tertinggal 128 tahun dari negara maju berdasarkan hasil pendidikan Harvard University, Lant Pritchett. Tentu ini bukan untuk mendegradasi optimisme bangsa, tapi sebuah refleksi pendidikan kita tidak sedang baik-baik saja.
Mengapa kaget ?
Pertama, tentu saja, kekagetan itu, bersumber dari adanya orang luar, peneliti luar, atau pihak luar yang masih serius, melakukan penelitian di Indonesia. Sebagaimana diketahui bersama, bahwa berita itu berasal dari luar negeri, dan kemudian menular ke dalam negeri Indonesia. Dari kejadian inilah, saya terrangsang untuk mengajukan pertanyaan, "bagaimana kualitas penelitian orang dalam terkait pendidikan Indonesia?"
Rasa-rasanya, setiap tiba hari pendidikan, hari guru, atau hari kebangkitan nasional, banyak ilmuwan yang membincangkan masalah pendidikan Indonesia. Namun, rasanya pun, ini soal perasaan, karena keterbatasan daya baca saja, hampir tidak mudah ditemukan, hasil pemikiran dan temuannya, yang bisa semengejutkan riset orang luar ini.
Kedua, adanya respon yang unik dari dalam negeri. Respon unik itu, yakni ditunjukkan dengan tidak merespon hasil penelitian itu, sebagai sesuatu yang baru, mengagetkan, atau membutuhkan respon serius. Termasuk di dunia pendidikan.
Di lingkungan satuan pendidikan saja, saya termasuk orang yang tidak memberikan respon yang berarti. respon yang ada, sekedar bertanya, "apa iya, dan mengapa?" setelah itu selesai. Mengapa dianggap selesai, karena tidak memiliki data dan solusi untuk mengatasi hal itu.
'saya ini, hanya orang kecil dan pelaksana..' ungkapnya, sambil memberikan penjelasan terkait dengan kebingungannya dalam memberikan solusi, dan melakukan tindakan praktis dalam menyelesaikan masalah ini.
Ketiga, sebutan tertinggal 128 dari negara maju, seakan memberikan makna khas kepada pembaca semuanya. Kalimat itu, menunjukkan bahwa Indonesia belum bisa disetarakan denga negara maju, dan masih dibawah negara maju. Bila demikian adanya, apakah Indonesia masih ada diposisi negara berkembang? atau malah sudah menurun lagi menjadi negara terbelakang ?
itulah masalahnya !!!!!
Jika, memasukkan agenda pemerintah Indonesia, bahwa Indonesia di tahun 2045 menjadi Indonesia Emas, maka apa maknanya ? Apa masalah dan tantangannya, dengan mimpi kita untuk mewujudkan Indonesia Emas di tahun itu ? apakah mimpi itu, menjadi bagian langkah strategis kita ? atau, lebih diposisikan sebagai tema di spanduk acara agustusan, yang sekedar mengisi pajangan saja ?
Kok bisa disebut sebagai pajangan ? padahal, kata-kata itu, hasil pemikiran serius dari sang pencetusnya. Tetapi, kita pun, kadang sangat percaya dan yakin, bahwa tema di spanduk agustusan pun, hasil pemikiran yang serius, namun dalam waktu yang bersamaan pula, kadang pernyataan dalam tema spanduk, ya sekedar dalam spanduk, karena dalam pelaksanaannya, tema itu, kadang dilupakan, terlupakan atau diabaikan.
Sehubungan hal itulah, maka hasil riset orang asing itu, menjadi bagian penting untuk memahami kembali, atau mengkritisi kembali, makna Indonesia Emas di 2045. Atau kita pun, harus mulai serius, mengantisipasi satite dari netizen kita, yang mengatakan bahwa 2045 itu, bukan Indonesia Emas, tetapi Indonesia Cemas !
Lha, sebutan Indonesia emas di 2045 itu, lebih menunjukkan Indonesi emas dalam kalender, dan bukan Indonesia Emas dalam kualitas. Bukankah, siapapun orangnya, bila sudah sampai pada usia perjalanan hidup 25 disebutnya perunggu, 50 tahun disebutnya perak, maka setiap apapun bila sampai pada usia 100 tahun itu, masuk dalam kategori emas. Umur Indonesia sampai pada usia 100 tahun di 2045, otomatis masuk dalam fase Umur emas, atau Indonesia Emas.
Untuk konteks kebangsaan, bertahan sampai usia 100 tahun, adalah prestai. Tetapi, untuk bisa sejahtera di usia 100 tahun, masih dalam pertanyaan. Atau, bahkan, bila sejahteranya sebuah bangsa, baru bisa diraih di usia 100 tahun, mungkin malah disebut sebagai negara yang kurang berprestasi.
Singapura, Malaysia, dan Jepang adalah beberapa negara yang usia Emasnya, tidak jauh dengan bangsa Indonesia. Tetapi, kemakmuran dan kesejahteraan, bisa bisa raih di usia muda. Sementara kita, masih membayangkan, "mudah-mudahan, di usia Emas, Indonesia Sejahtera.."

0 comments:
Posting Komentar